Sudahlah jangan tengok lagi masa lalumu. Aku terluka setiap kali kau mengingat dan berjibaku dengan masa lalumu. Tapi, aku selalu menyembunyikannya dibalik sebuah senyumku. Seakan menyiratkan bahwa aku baik-baik saja.
Aku menghargai bahwa setiap orang punya masa lalu. Tapi masa lalu hanyalah merupakan bagian dari perjalanan panjang sampai kita bertemu dengan masa depan.
Nhazticious
Hitam putih itu abu-abu Cerita itu setiap ada tetesan tinta hitam diatas kertas putih
My Lovely Husband
Rabu, 01 April 2015
Kamis, 27 November 2014
Kebiasaan adalah bukti pengertian. Kesetiaan sekecil apapun yang mampu membuat hubungan bertahan selamanya. Bukti cinta sejati tidak bisa diukur dari berapa lamanya kita menjalin hubungan dengan seseorang, melainkan cinta sejati adalah dia yang menjadi pasangan kita mulai hari kemaren, hari ini, hari esok, dan waktu yang tidak bisa ditentukan. Sampe bertemu dengan yang namanya akhir yaitu mati.
<<nhazthiety>>
<<nhazthiety>>
Jumat, 14 November 2014
Saat kamu mencoba tersenyum buat orang lain,saat kamu mencoba menutupi lukamu dengan sebuah senyuman. Saat itu adalah saat dimana kamu berusaha sabar dan menerima yang terjadi dengan lapang. Kesabaran, keikhlasan akan membuatmu menjadi seseorang yang lebih dewasa. Jadi dewasa itu bukan umur melainkan dewasa itu adalah bagaimana kamu memaknai setiap persoalanmu secara jauh.
Ta ada gading yang tak retak, berarti tak ada manusia yang sempurna di bumi ini. Yang menjadikannya sempurna adalah diri kita sendiri.Pasangan kita adalah seseorang yang sempurna jika kita mampu memperlakukannya dengan cara yang sempurna.
Hujan sehari tak kan bisa menghapuskan kemarau setaun. Begitu layaknya sebuah cinta yang baru tak kan bisa menghapuskan cinta lama yang telah lebih dahulu pernah singgah. Ada yang bilang, ketika kamu menanamkan keyakinan di hatimu maka hal yang kamu yakini akan terjadi, dan itu yang saya yakini saat ini. Boleh orang lain menjadi hujan dan kemarau yang tergantung dengan musim, tapi saya adalah angin yang selalu berhembus tanpa mengenal musim.
Ta ada gading yang tak retak, berarti tak ada manusia yang sempurna di bumi ini. Yang menjadikannya sempurna adalah diri kita sendiri.Pasangan kita adalah seseorang yang sempurna jika kita mampu memperlakukannya dengan cara yang sempurna.
Hujan sehari tak kan bisa menghapuskan kemarau setaun. Begitu layaknya sebuah cinta yang baru tak kan bisa menghapuskan cinta lama yang telah lebih dahulu pernah singgah. Ada yang bilang, ketika kamu menanamkan keyakinan di hatimu maka hal yang kamu yakini akan terjadi, dan itu yang saya yakini saat ini. Boleh orang lain menjadi hujan dan kemarau yang tergantung dengan musim, tapi saya adalah angin yang selalu berhembus tanpa mengenal musim.
Kamis, 13 Juni 2013
Si Pemilik Senyum
Pertarungan selama satu minggu itu bengis rasanya. Biasanya satu minggu yang berlalu begitu saja jadi menahun serasa berjalan. Berjuang di tengah padang tandus yang liar. Merangkak, terjatuh sampai hampir mati karenanya. Lalu seminggu itu terjawab sudah. Bibir rasanya kelu. Aku tak mampu menjelaskan kronologi pertarunganku dengan waktu yang namanya seminggu. Aku masih membisu dalam balutan waktu. Terduduk tanpa rangka dan menangis tanpa air mata. Aku masih mau menoleh ke belakang. Tapi gelap tak berdian menjadi umbra. Lalu aku tersenyum kecut sambil meremas tanah meninggalkan goresan luka.
"Fighting Pemilik Senyumku!!!" aku kenal suara itu bahkan aku pernah sangat bersahabat dengan suara itu. Lalu dengan malas aku menoleh ke arahnya. Seperti biasa, aku selalu mengumbar senyum ke arahnya. Yah, walopun hanya tersirat saja.
"Jelek ," koarnya lagi menjejal telinga. Masih sama, aku lagi-lagi hanya tersenyum ke arahnya.
Lalu tatapannya tajam membunuhku. Siapa takut? Aku pun tak mau kalah menyerangnya dengan tatapan mataku.
"Aku tahu ini sulit, tapi aku yakin kamu pasti bisa. Si Pemilik Senyumku tidak pernah menangis dan dia bukan tipe orang yang suka menyerah. Tak ada yang mudah tapi tidak ada yang tidak mungkin,"itu kata terakhir diantara tatapan mata kami yang beradu pilu. Seperti katanya, sekuat hati aku menahan air mata yang mau pecah keluar. Senyuman yang aku paksakan rasanya sebagai karang pemecah gelombang di tepian pantai yang luas terhampar.
Tatapan mata berakhir. Kini aku hanya mampu memandangi punggung yang terlihat samar dan pada akhirnya menghilang. Bahkan sampai pada detik terakhir aku bisa memilikinya senyum itu masih tersungging di bibir yang kaku dan kelu.
"Yaahhh, , , , aku harus melepasnya walopun aku masih sangat menyayanginya. Senyum itu menguap dan berganti menjadi airmata. Si pemilik senyum itu menangis. Si pemilik senyum itu mengganti senyumannya dengan airmata. Kronologi peperanganku dengan waktu yang namanya seminggu terjawab sudah. Aku kalah dan aku tak mampu bertahan.
"Fighting Pemilik Senyumku!!!" aku kenal suara itu bahkan aku pernah sangat bersahabat dengan suara itu. Lalu dengan malas aku menoleh ke arahnya. Seperti biasa, aku selalu mengumbar senyum ke arahnya. Yah, walopun hanya tersirat saja.
"Jelek ," koarnya lagi menjejal telinga. Masih sama, aku lagi-lagi hanya tersenyum ke arahnya.
Lalu tatapannya tajam membunuhku. Siapa takut? Aku pun tak mau kalah menyerangnya dengan tatapan mataku.
"Aku tahu ini sulit, tapi aku yakin kamu pasti bisa. Si Pemilik Senyumku tidak pernah menangis dan dia bukan tipe orang yang suka menyerah. Tak ada yang mudah tapi tidak ada yang tidak mungkin,"itu kata terakhir diantara tatapan mata kami yang beradu pilu. Seperti katanya, sekuat hati aku menahan air mata yang mau pecah keluar. Senyuman yang aku paksakan rasanya sebagai karang pemecah gelombang di tepian pantai yang luas terhampar.
Tatapan mata berakhir. Kini aku hanya mampu memandangi punggung yang terlihat samar dan pada akhirnya menghilang. Bahkan sampai pada detik terakhir aku bisa memilikinya senyum itu masih tersungging di bibir yang kaku dan kelu.
"Yaahhh, , , , aku harus melepasnya walopun aku masih sangat menyayanginya. Senyum itu menguap dan berganti menjadi airmata. Si pemilik senyum itu menangis. Si pemilik senyum itu mengganti senyumannya dengan airmata. Kronologi peperanganku dengan waktu yang namanya seminggu terjawab sudah. Aku kalah dan aku tak mampu bertahan.
Senin, 27 Mei 2013
Mister Tukul, I Love You !!!
Karena
berbeda maka terasa bersatu. Gue yang banyak tingkah dan dia si mister too cool. Makanya gue seneng
banget manggil dia dengan nama Tukul. Tepat sekali, dia selalu uring-uringan
kalau suara ngebass dari pita suara gue mulai berkoar-koar neriakin nama dia.
Boleh cuek, boleh dinginnya ngalahin es loli lima ratus perak jajanan anak SD,
boleh angkuhnya sekeras batu sedimen dari letusan gunung berapi ampuan mbah
Marijan, tapi dia yang paling nyangkut di hati gue. Nyangkut dengan benang
cinta yang dia ikatkan di hati gue.
“Lalu
gue nyengir tertawa sambil megangin gadget di tangan gue, mulai menerbangkan
imajinasi, mata berkedip-kedip, dan........”
“Loly
!!!” si mbak Clara pemimpin rapat redaksi majalah membentak keras ke arah gue.
Tangan si penyangga dagu manis jatuh tiba-tiba, alhasil gadget gue ikutan jatuh
juga. Tapi, adegan drama teromantis malah bermula dari situ. Secara bersamaan
gue dan dia, si Mister Tukul mencoba mengambil gadget gue. Bunga-bunga berwarna
merah langsung bermekaran di hati gue. Nggak berhenti sampai situ saja,
imajinasi gue terus terbang mengembara kemana-mana. Gue sama dia membungkuk ke bawah dan menggeser bangku agak
jauh dari pantat agar mudah buat mengambil gadget gue yang jatuh.
“Ma....ka.....,”
belum sempat gue nerusin ucapin terima kasih, tiba-tiba ada aroma woowww banget
numpang lewat lubang hidung gue.
“Aaahh....lega,”
kata si Mister Tukul.
“Ancrriitt.....ini
orang kentut di bawah meja ternyata. Siaaalllaan, keburu GR ajja gue.
Bunga-bunga merah yang tadinya bermekaran di hati gue berubah jadi mawar hitam
yang layu, kering dan mati kena gas beracun.
“Maaf ya ,” lanjut Mister Tukul dengan wajah
innoncentnya tapi jujur cute banget malahan.
“Aku
hanya nyengir saja sambil nahan baunya yang sumpah harum banget, harum WC
tapi.” Pas gue ngliat wajah orang-orang yang ada di ruangan rapat, wajahnya
pada galau semua kayak punya hutang 1 Milyar yang ditagih sama renternir.
“Parah
elu San, cakep-cakep kentut elu mematikan,” teriak teman seruangan rapat gue.
Yang punya gas beracun tetep seperti biasanya tersenyum dan cuek. Ini dia yang
gue kaga nahan senyumnya manis banget. Kentut yang tadi beracun jadi kaya
oksigen yang menghidupkan bunga-bunga yang telah mati.
“Kok
elu malah senyam-senyum siy Lol?” Elu gag nyium kentut Sandy ya?” teman gue
yang lain memergoki raut wajah gue.
“Heemmt....ng....nga....nggak
kok. Kentut apaan? Malah gue nyiumnya semacam bunga mawar yang jumlahnya ada
ribuan di taman bunga,” kata gue sambil nahan. Dan Sandy pun dengan senyum manisnya
melirik ke arah gue. Semua pun ikutan tertawa sambil dengan eksen nutupin
hidung.
“Mati
deh rasanya saat lirikan mata yang dipadu padan dengan senyum manisnya
terlempar ke arah gue,” batin hati gue tambah senang.
“Sudah-sudah,
kita lanjutkan rapat ini lagi. Pembagian tugas sama seperti yang tadi. Sandy
fotografer, Loly reporter, dan yang lainnya mengikuti. Kerja redaksi bisa
dimulai hari ini karena waktu kita juga uda mepet. Paham ya?” tegas mbak Clara
yang tampaknya sudah mau mengakhiri agenda rapat redaksi kali ini.
“Paham mbak,” jawab kami serentak dan benar
tak lama berselang rapat pun berakhir.
“Sandy
dan Loly bisa langsung wawancara ke ketua OSIS sekarang juga,” perintah mbak
Clara diakhir penutupan rapat.
Mengingat
mbak Clara adalah orang yang disiplin, tanggung jawab, dan cekatan, maka
setelah surat perintah keluar dari mbak Clara gue langsung sesegera mungkin bersama
Sandy keluar ruangan dan menuju ruang OSIS buat wawancara redaksi.
Masih seperti liputan-liputan
biasanya gue selalu digandengkan dengan si Mister Tukul Sandy. Seperti
paribasannya orang Jawa “Witing Tresno
Jalaran Saka Kulino”, dari keseringan itulah cinta gue tumbuh subur buat
dia.
“Senyam-senyum aja elu Kul?” mulai
koar-koar suara gue membumbung tinggi di angkasa.
“Ada larangan emang? Heemmtt....,”
tetep si Mister Tukul Sandy dengan gaya cueknya.
“Aaahh gue tahu. Elu keinget kentut
elu yang super wangi tadi kan? Heraann dech gue
ada kentut yang harumnya cetar membahana badai menyambar 5 tiang listrik
dengan kekuatan 5500 Volt. Ya ampun jadi alay begini gue,” hahaha.
“Sudah?” ya cuman begitu ajja Sandy
nanggepin omongan gue yang panjangnya satu kereta dengan 20 gerbong. Mampus kan
elu?
“Iyaa bener, kentut elu serasa
oksigen buat gue. Perlahan masuk menyentuh lubang hidung gue, menjalar lewat
saraf penciuman, dan sampailah...sampailaah....sampailah pada.....,”
“Hoooeeekkkk,” Sandy langsung muntah
mendengar cerita gue. Dan gue malah yang jadi mlongo ke arahnya.
“Kul....Tukul...elu kenapa?” dengan
bodohnya gue bertanya.
“Nanya?” balas Sandy alias si Mister
Tukul.
“Wangi kok nggak bau. Sumpah.” Kali
ini tampang gue sumpah bloonnya bukan main.
“Udah masuk. Ditungguin tuch sama si
Ketua OSIS. Tidak terasa percakapan ringan antara gue sama Sandy menggiring
kita sampai di tempat tujuan.
Tidak butuh waktu lama buat gue sama
Sandy untu membuat liputan tentang profil ketua OSIS. Hanya butuh waktu sekitar
45 menit gue bersama Sandy menyudahi kegiatan tersebut.
***
Entah kenapa panorama sore hari
selalu tidak bersahabat sama gue. Langit mulai mendung diiringi suara petir
yang menyambar ringan tapi tetap menunjukkan keganasannya.
“Fyuuhh....nasib. Hujan turun deras
lagi!! “ gue manyun sambil membuang pandangan jauh menatap langit. Kaki gue mulai
menari-nari galau mondar-mandir gag jelas. Bahkan sesekali gue terlihat duduk
dan sesekali berdiri mondar-mandir gag jelas lagi.
“Kenapa?” tanya si Mister Tukul
Sandy melihat polah tingkah gue.
“Hujan,” balas gue malas.
“Ooo....,” udah cuman begitu aja si
Mister Tukul Sandy nanggepinnya. Mendengar jawabannya yang sumpah ngeselin
banget menurut gue, langsung aja gue ninggalin dia tanpa sepatah kata pun. Gue
berlalu dari Sandy, menerobos hujan menunggu angkot di depan gerbang sekolah.
Ini dia masalahnya, gue benci sekali sama hujan. Soalnya kalau hujan uda turun,
pasti gue bakal sulit banget buat pulang ke rumah. Pasalnya hujan selalu
menyebabkan para sopir angkot tiba-tiba menjadi orang yang gag butuh duit alias
malas ngoperasiin angkotnya.
Dengan badan yang menggigil
kedinginan gue masih setia nungguin angkot di depan sekolah.
“Aaahh beneran kan sopir angkotnya
ngeseliiinnn,” gerutu gue. Disaat
gundah gulana mulai memuncak memenuhi pikiran, disaat tulang mulai beku
oleh percikan air hujan, tiba-tiba semua sirna saat bola mata gue menangkap
sosok Sandy lewat di hadapan gue. Benar sekali Sandy menghentikan motornya dan
tepat berhenti di hadapan gue.
“Ngapain?”tanyanya.
“Nunggu angkot ini, tahu tuh lama
gag nongol-nongol,”jawab gue sok melas.
“Ooo....,” begitu lagi jawaban Sandy
sambil mulai menyalakan starter motornya dan terkesan segera meninggalkan gue
tanpa ajakan pulang bareng sama dia.
“Aaahhh......ngeseeeelliiiinnn
lagi,” begitulah kira-kira teriak hati gue saking gemesnya sama kecuekan si Mister
Tukul Sandy. Dan benar terjawab, Sandy pergi dari hadapan gue tanpa penawaran
apapun.
“Ya Tuhaannn,” gue hanya bisa gigit
jari aja ngliatin dia. Gue masih bengong, tak berkedip, kesal, marah, dan
pengen makan orang.
“Ayooo.....,”sebuah seruan ajakan
itu membuyarkan keluh kesah hati gue. Gue membalikkan badan dan ternyata Sandy
kembali di hadapan gue.
“Lho....lhoo....e....eelluu....,”
kata gue terbata melihat Sandy udah ada di hadapan gue.
“Naik,” Sandy menginstruksi gue buat
segera naik di boncengan motornya.
“Nggak aahh, pasti elu cuman
ngerjain gue ajja kan?” dengan bodohnya malah gue tidak segera mengiyakan
tawaran Sandy.
“Lama !!” Sandy langsung narik
tangan gue yang menyebabkan gue sama dia berada dalam jarak yang bisa diukur
dengan jari saja. Sangat dekat. Jujur hati gue mau copot aja rasanya.
Sandy mencopot jaketnya dan
memakaikannya di tubuh gue, lalu dia memegang kedua tangan gue dan
menggosok-gosoknya perlahan.
“Kul?” tanya gue sambil menatap
lekat ke arahnya. Sandy pun mendongakkan kepalanya dan balik membunuh gue
dengan tatapan tajamnya.
“Jleb,” pas langsung di hati gue.
“Udah lumayan kan?” tanya Sandy yang
masih terus menggosok tangan gue agar terasa lebih hangat.
“Makasi ya Kul,” terharu rasanya
gue.
“Ayoo...” setelah gue merasa sedikit
terlepas dari yang namanya kedinginan, Sandy mulai menyalakan motornya lagi dan
menyatu dengan padatnya jalanan mengantarkan gue pulang ke rumah. Begitulah
Sandy, sederhana menurut gue. Cuek tapi tetep care, makanya gue suka banget.
“Kul?” celetuk gue.
“Apaan?”
“Gue boleh peluk elu ya?”tanya gue
hati-hati dan Sandy menjawabnya dengan anggukan kepala.
“Mulai detik ini gue gag bakalan
benci hujan lagi,” batin hati gue sambil dengan erat melingkarkan tangan gue
dalam pelukan hangat Sandy.
***
Filosofinya waktu itu selalu cepat
berputar ketika kita bersama orang yang kita sayangi. Begitu pula yang terjadi
antara gue sama Sandy saat ini. Tak terasa gerbang rumah gue sudah berdiri
kokoh di hadapan gue.
“Kul makasi ya,” kata gue senang
sambil nglepasin jaket punya dia.
“Masih aja panggil Tukul. Panggil
nama gue kenapa siy,” protes Sandy ke arah gue.
“Itu kan panggilan kesayangan gue
buat elu,” tetep gue ngeles.
“Yaahh,” desah Sandy panjang sambil
ngambil paksa jaket dia dari tubuh gue dan alhasil gue lagi-lagi berada dalam
radius yang begitu dekat dengan dia. Jadi deg-degan lagi kan.
“Ehmmm....ehhmmm....,” Sandy hanya
berdehem sambil natap mata gue lekat lagi. Sumpah hati gue jadi gag karuan
dibuatnya.
“Ciuman. Ciuman kehangatan di tengah
hujan. Sweet banget,” imajinasi gue mulai liar berkelana.
“Sorry. Jaket ajja, bajunya gag
usah,” bisik Sandy yang membuat gue tercengang.
“Aaahh.....malu banget. Tanpa
sengaja gue mau nglepasin baju seragam sekolah gue di hadapan dia. Oohh.....No!!!”
secepat kilat gue langsung megangin kerah seragam gue dan menggenggamnya erat.
“Aaahh....saking terpesonanya dengan
aura kecakepan Sandy gue hampir khilaf. Parah.”
“Maaf.”
“Tenang ajja. Baru dua kancing baju
ajja kok. Hahhaa....,” dengan tawa nakalnya Sandy jadi puas nertawain gue.
“Dasar Tukul nyari kesempatan.”
Akhirnya di antara partikel hujan yang masih turun dengan derasnya suasana
akrab dan hangat tersaji disana. Lalu tak lama berselang gue hanya bisa ngliatin
punggung Sandy yang terus menghilang bersama kabut tebal hujan yang menyelimuti
senja merah tembaga.
“Andai elu tau perasaan hati gue
Kul, pasti cinta ini akan terasa lebih indah.” Karena cinta itu layaknya
seperti orang bertepuk tangan, ketika kedua tangan saling menepuk maka akan terdengar
alunan nada yang indah yang penuh dengan kehangatan, tapi ketika hanya bertepuk
sebelah saja maka akan terasa sumbang tanpa nada.
***
Cinta gue buat Tukul tidak akan
pernah berubah. Gue mencintai dia dan apapun yang ada pada diri dia. Bahkan cinta
itu terus tumbuh subur setiap harinya.
“Jelek,” sebuah sapaan yang cukup
tidak mengenakan mampir di telinga gue, yang membuat gue menghentikan nyanyian
merdu dari pita suara gue.
“Ya elu Kul. Bantuin atau apa kek?
Eh tiba-tiba nyelenong langsung ngledekin gue,” kilah gue sambil ngelap
keringat akibat membersihkan WC karena terlambat datang ke sekolah.
“Uda kok,” balasnya.
“Uda apaan?”tanya gue bego.
“Uda ngliatin elu,” jarang-jarang
banget si Mister Tukul ini ngegombalin gue.
“Hahaha.....,”gue tertawa lepas
jadinya. Sederhana mungkin. Tapi itulah yang paling gue suka dari Sandy. Dari
hal kecil ajja gue bisa bahagia karenanya.
“Terusin noh, malah tertawa,” dengan
sok bossy nya si Tukul maen
nyuruh-nyuruh gue.
“Capek tahu,” action gue sambil ngelap keringat yang mengucur dari kening.
“Ini,” kata Tukul Sandy disertai
dengan sodoran tissue di depan gue.” Gue pun menyambar tissuenya segera.
“Pelan-pelan dong,” kata Tukul Sandy
sambil berlalu begitu saja dari hadapan gue.
Tanpa berpikir panjang lagi gue
langsung ngelapin tissue di kening gue. Lumayan banyak juga produksi keringat
gue. Sampai tissue yang kering jadi basah dibuatnya. Pas disela gue mau
membuang sampah tissue itu, ada sesuatu yang membuat gue harus mengurungkan
niat untuk membuangnya.
“Gue sayang sama elu Lol. I Love
You.”
“Deg.”Aliran darah gue seakan
berhenti mengalir saat membaca tulisan yang tersirat di tissue itu. Berarti
artinya cinta gue terbalas, berarti juga Si Mister Tukul Sandy juga ada rasa
sama gue, dia cinta sama gue. Hati gue benar-benar mekar berbunga saat ini.
“Romantisnya lagi penembakan dia
lain dari pada yang lainnya. Bahkan untuk nembak aja dia masih tetap dengan
kecuekannya.
Saking girangnya gue langsung
berlari meninggalkan hukuman gue dan mengejar Sandy.
“Tukul.....,” masih dengan
ngos-ngosan gue berdiri di depan kelas Sandy.
Beruntung sekali kala itu kelas Sandy lagi kosong gag ada gurunya.
“Iya,” balas Sandy.
“Ini bener dari elu?” tanya gue
sambil nyodorin tissue dari genggaman tangan gue.
“Ini,” balas Sandy gantung. Gue
mengiyakan dengan anggukan kepala.
“Bukan,” lanjut dia lagi. Jelas
jawaban dia barusan membuat raga dan jiwa gue mati tiba-tiba.
“Tapi ini,” sebuah ciuman mendarat
di bibir gue. Ya, si Mister Tukul Sandy mencium gue. Sungguh gue mati
tercengang. Gue gag tau harus bagaimana. Perasaan hati gue campur aduukkk. Dan
campur aduk itu adalah campur aduk bahagia, senang, nyaman, dan sejenisnya
dech. Gue gag bisa mendeskripsikan hati gue saat ini saking gag karu-karuannya.
J
“Gue sayang sama elu, Lol,” lanjut
Sandy lagi. Tanpa pikir panjang lagi gue langsung memeluk erat Sandy dan wajah
gue sama dia saling menatap nanar.
Daging tak berasa itu mulai berdekatan lagi. Ciuman kedua. Gue mau banget. Dan...........
Daging tak berasa itu mulai berdekatan lagi. Ciuman kedua. Gue mau banget. Dan...........
“Indah,” ucap Sandy untuk kesekian
kali.
“Apanya?”padahal gue tahu Sandy
belum nyium gue lagi.
“Tato cabe di gigi elu,hahahhaha,”
dengan senangnya Sandy tertawa lepas. Jelas gue jadi tengsin di buatnya.
Apa-apaan ini mau ciuman aja harus ketauan ada kulit cabe yang nyempil di gigi.
Aaahh....cabe sialan bikin second kiss
gue gagal aja.”
“Sini,” lanjut Sandy. Ini dia
tengsin yang kedua bermula lagi. Mau-maunya Sandy bersihin kulit cabe yang
nyempil di gigi gue.
“Maluuu aahhh gue sama elu,” parah
gue malu banget.
“Hehehe....ini dia yang bikin gue
sayang sama elu. Elu itu ibaratnya lampu
yang selalu terang bersinar setiap harinya. Kalau ada elu hidup gue gag
pernah mati dan sepi. I Love You,” dan benar second kiss itu terjadi lagi.
“Tukul gue sayang banget sama elu.
Elu itu cuek, care, dan romantis. I Love You.
Kini dua hati itu telah menyatu. Dua
hati yang sama dengan psikologis karakter yang berbeda. Si Mister Tukul yang
cueknya gag ketulungan akhirnya bersanding dengan gue yang banyak tingkah dan
gag bisa diam. Mungkin begitu cinta. Sederhana, konyol, dan banyak rasanya. Mister
Tukul, I Love You. J
***
Minggu, 19 Mei 2013
Mister Tukul, I Love You !!!
Karena
berbeda maka terasa bersatu. Gue yang banyak tingkah dan dia si mister too cool. Makanya gue seneng
banget manggil dia dengan nama Tukul. Tepat sekali, dia selalu uring-uringan
kalau suara ngebass dari pita suara gue mulai berkoar-koar neriakin nama dia.
Boleh cuek, boleh dinginnya ngalahin es loli lima ratus perak jajanan anak SD,
boleh angkuhnya sekeras batu sedimen dari letusan gunung berapi ampuan mbah
Marijan, tapi dia yang paling nyangkut di hati gue. Nyangkut dengan benang
cinta yang dia ikatkan di hati gue.
“Lalu
gue nyengir tertawa sambil megangin gadget di tangan gue, mulai menerbangkan
imajinasi, mata berkedip-kedip, dan........”
“Loly
!!!” si mbak Clara pemimpin rapat redaksi majalah membentak keras ke arah gue.
Tangan si penyangga dagu manis jatuh tiba-tiba, alhasil gadget gue ikutan jatuh
juga. Tapi, adegan drama teromantis malah bermula dari situ. Secara bersamaan
gue dan dia, si Mister Tukul mencoba mengambil gadget gue. Bunga-bunga berwarna
merah langsung bermekaran di hati gue. Nggak berhenti sampai situ saja,
imajinasi gue terus terbang mengembara kemana-mana. Gue sama dia membungkuk ke bawah dan menggeser bangku agak
jauh dari pantat agar mudah buat mengambil gadget gue yang jatuh.
“Ma....ka.....,”
belum sempat gue nerusin ucapin terima kasih, tiba-tiba ada aroma woowww banget
numpang lewat lubang hidung gue.
“Aaahh....lega,”
kata si Mister Tukul.
“Ancrriitt.....ini
orang kentut di bawah meja ternyata. Siaaalllaan, keburu GR ajja gue.
Bunga-bunga merah yang tadinya bermekaran di hati gue berubah jadi mawar hitam
yang layu, kering dan mati kena gas beracun.
“Maaf ya ,” lanjut Mister Tukul dengan wajah
innoncentnya tapi jujur cute banget malahan.
“Aku
hanya nyengir saja sambil nahan baunya yang sumpah harum banget, harum WC
tapi.” Pas gue ngliat wajah orang-orang yang ada di ruangan rapat, wajahnya
pada galau semua kayak punya hutang 1 Milyar yang ditagih sama renternir.
“Parah
elu San, cakep-cakep kentut elu mematikan,” teriak teman seruangan rapat gue.
Yang punya gas beracun tetep seperti biasanya tersenyum dan cuek. Ini dia yang
gue kaga nahan senyumnya manis banget. Kentut yang tadi beracun jadi kaya
oksigen yang menghidupkan bunga-bunga yang telah mati.
“Kok
elu malah senyam-senyum siy Lol?” Elu gag nyium kentut Sandy ya?” teman gue
yang lain memergoki raut wajah gue.
“Heemmt....ng....nga....nggak
kok. Kentut apaan? Malah gue nyiumnya semacam bunga mawar yang jumlahnya ada
ribuan di taman bunga,” kata gue sambil nahan. Dan Sandy pun dengan senyum manisnya
melirik ke arah gue. Semua pun ikutan tertawa sambil dengan eksen nutupin
hidung.
“Mati
deh rasanya saat lirikan mata yang dipadu padan dengan senyum manisnya
terlempar ke arah gue,” batin hati gue tambah senang.
“Sudah-sudah,
kita lanjutkan rapat ini lagi. Pembagian tugas sama seperti yang tadi. Sandy
fotografer, Loly reporter, dan yang lainnya mengikuti. Kerja redaksi bisa
dimulai hari ini karena waktu kita juga uda mepet. Paham ya?” tegas mbak Clara
yang tampaknya sudah mau mengakhiri agenda rapat redaksi kali ini.
“Paham mbak,” jawab kami serentak dan benar
tak lama berselang rapat pun berakhir.
“Sandy
dan Loly bisa langsung wawancara ke ketua OSIS sekarang juga,” perintah mbak
Clara diakhir penutupan rapat.
Mengingat
mbak Clara adalah orang yang disiplin, tanggung jawab, dan cekatan, maka
setelah surat perintah keluar dari mbak Clara gue langsung sesegera mungkin bersama
Sandy keluar ruangan dan menuju ruang OSIS buat wawancara redaksi.
Masih seperti liputan-liputan
biasanya gue selalu digandengkan dengan si Mister Tukul Sandy. Seperti
paribasannya orang Jawa “Witing Tresno
Jalaran Saka Kulino”, dari keseringan itulah cinta gue tumbuh subur buat
dia.
“Senyam-senyum aja elu Kul?” mulai
koar-koar suara gue membumbung tinggi di angkasa.
“Ada larangan emang? Heemmtt....,”
tetep si Mister Tukul Sandy dengan gaya cueknya.
“Aaahh gue tahu. Elu keinget kentut
elu yang super wangi tadi kan? Heraann dech gue
ada kentut yang harumnya cetar membahana badai menyambar 5 tiang listrik
dengan kekuatan 5500 Volt. Ya ampun jadi alay begini gue,” hahaha.
“Sudah?” ya cuman begitu ajja Sandy
nanggepin omongan gue yang panjangnya satu kereta dengan 20 gerbong. Mampus kan
elu?
“Iyaa bener, kentut elu serasa
oksigen buat gue. Perlahan masuk menyentuh lubang hidung gue, menjalar lewat
saraf penciuman, dan sampailah...sampailaah....sampailah pada.....,”
“Hoooeeekkkk,” Sandy langsung muntah
mendengar cerita gue. Dan gue malah yang jadi mlongo ke arahnya.
“Kul....Tukul...elu kenapa?” dengan
bodohnya gue bertanya.
“Nanya?” balas Sandy alias si Mister
Tukul.
“Wangi kok nggak bau. Sumpah.” Kali
ini tampang gue sumpah bloonnya bukan main.
“Udah masuk. Ditungguin tuch sama si
Ketua OSIS. Tidak terasa percakapan ringan antara gue sama Sandy menggiring
kita sampai di tempat tujuan.
Tidak butuh waktu lama buat gue sama
Sandy untu membuat liputan tentang profil ketua OSIS. Hanya butuh waktu sekitar
45 menit gue bersama Sandy menyudahi kegiatan tersebut.
***
Entah kenapa panorama sore hari
selalu tidak bersahabat sama gue. Langit mulai mendung diiringi suara petir
yang menyambar ringan tapi tetap menunjukkan keganasannya.
“Fyuuhh....nasib. Hujan turun deras
lagi!! “ gue manyun sambil membuang pandangan jauh menatap langit. Kaki gue mulai
menari-nari galau mondar-mandir gag jelas. Bahkan sesekali gue terlihat duduk
dan sesekali berdiri mondar-mandir gag jelas lagi.
“Kenapa?” tanya si Mister Tukul
Sandy melihat polah tingkah gue.
“Hujan,” balas gue malas.
“Ooo....,” udah cuman begitu aja si
Mister Tukul Sandy nanggepinnya. Mendengar jawabannya yang sumpah ngeselin
banget menurut gue, langsung aja gue ninggalin dia tanpa sepatah kata pun. Gue
berlalu dari Sandy, menerobos hujan menunggu angkot di depan gerbang sekolah.
Ini dia masalahnya, gue benci sekali sama hujan. Soalnya kalau hujan uda turun,
pasti gue bakal sulit banget buat pulang ke rumah. Pasalnya hujan selalu
menyebabkan para sopir angkot tiba-tiba menjadi orang yang gag butuh duit alias
malas ngoperasiin angkotnya.
Dengan badan yang menggigil
kedinginan gue masih setia nungguin angkot di depan sekolah.
“Aaahh beneran kan sopir angkotnya
ngeseliiinnn,” gerutu gue. Disaat
gundah gulana mulai memuncak memenuhi pikiran, disaat tulang mulai beku
oleh percikan air hujan, tiba-tiba semua sirna saat bola mata gue menangkap
sosok Sandy lewat di hadapan gue. Benar sekali Sandy menghentikan motornya dan
tepat berhenti di hadapan gue.
“Ngapain?”tanyanya.
“Nunggu angkot ini, tahu tuh lama
gag nongol-nongol,”jawab gue sok melas.
“Ooo....,” begitu lagi jawaban Sandy
sambil mulai menyalakan starter motornya dan terkesan segera meninggalkan gue
tanpa ajakan pulang bareng sama dia.
“Aaahhh......ngeseeeelliiiinnn
lagi,” begitulah kira-kira teriak hati gue saking gemesnya sama kecuekan si Mister
Tukul Sandy. Dan benar terjawab, Sandy pergi dari hadapan gue tanpa penawaran
apapun.
“Ya Tuhaannn,” gue hanya bisa gigit
jari aja ngliatin dia. Gue masih bengong, tak berkedip, kesal, marah, dan
pengen makan orang.
“Ayooo.....,”sebuah seruan ajakan
itu membuyarkan keluh kesah hati gue. Gue membalikkan badan dan ternyata Sandy
kembali di hadapan gue.
“Lho....lhoo....e....eelluu....,”
kata gue terbata melihat Sandy udah ada di hadapan gue.
“Naik,” Sandy menginstruksi gue buat
segera naik di boncengan motornya.
“Nggak aahh, pasti elu cuman
ngerjain gue ajja kan?” dengan bodohnya malah gue tidak segera mengiyakan
tawaran Sandy.
“Lama !!” Sandy langsung narik
tangan gue yang menyebabkan gue sama dia berada dalam jarak yang bisa diukur
dengan jari saja. Sangat dekat. Jujur hati gue mau copot aja rasanya.
Sandy mencopot jaketnya dan
memakaikannya di tubuh gue, lalu dia memegang kedua tangan gue dan
menggosok-gosoknya perlahan.
“Kul?” tanya gue sambil menatap
lekat ke arahnya. Sandy pun mendongakkan kepalanya dan balik membunuh gue
dengan tatapan tajamnya.
“Jleb,” pas langsung di hati gue.
“Udah lumayan kan?” tanya Sandy yang
masih terus menggosok tangan gue agar terasa lebih hangat.
“Makasi ya Kul,” terharu rasanya
gue.
“Ayoo...” setelah gue merasa sedikit
terlepas dari yang namanya kedinginan, Sandy mulai menyalakan motornya lagi dan
menyatu dengan padatnya jalanan mengantarkan gue pulang ke rumah. Begitulah
Sandy, sederhana menurut gue. Cuek tapi tetep care, makanya gue suka banget.
“Kul?” celetuk gue.
“Apaan?”
“Gue boleh peluk elu ya?”tanya gue
hati-hati dan Sandy menjawabnya dengan anggukan kepala.
“Mulai detik ini gue gag bakalan
benci hujan lagi,” batin hati gue sambil dengan erat melingkarkan tangan gue
dalam pelukan hangat Sandy.
***
Filosofinya waktu itu selalu cepat
berputar ketika kita bersama orang yang kita sayangi. Begitu pula yang terjadi
antara gue sama Sandy saat ini. Tak terasa gerbang rumah gue sudah berdiri
kokoh di hadapan gue.
“Kul makasi ya,” kata gue senang
sambil nglepasin jaket punya dia.
“Masih aja panggil Tukul. Panggil
nama gue kenapa siy,” protes Sandy ke arah gue.
“Itu kan panggilan kesayangan gue
buat elu,” tetep gue ngeles.
“Yaahh,” desah Sandy panjang sambil
ngambil paksa jaket dia dari tubuh gue dan alhasil gue lagi-lagi berada dalam
radius yang begitu dekat dengan dia. Jadi deg-degan lagi kan.
“Ehmmm....ehhmmm....,” Sandy hanya
berdehem sambil natap mata gue lekat lagi. Sumpah hati gue jadi gag karuan
dibuatnya.
“Ciuman. Ciuman kehangatan di tengah
hujan. Sweet banget,” imajinasi gue mulai liar berkelana.
“Sorry. Jaket ajja, bajunya gag
usah,” bisik Sandy yang membuat gue tercengang.
“Aaahh.....malu banget. Tanpa
sengaja gue mau nglepasin baju seragam sekolah gue di hadapan dia. Oohh.....No!!!”
secepat kilat gue langsung megangin kerah seragam gue dan menggenggamnya erat.
“Aaahh....saking terpesonanya dengan
aura kecakepan Sandy gue hampir khilaf. Parah.”
“Maaf.”
“Tenang ajja. Baru dua kancing baju
ajja kok. Hahhaa....,” dengan tawa nakalnya Sandy jadi puas nertawain gue.
“Dasar Tukul nyari kesempatan.”
Akhirnya di antara partikel hujan yang masih turun dengan derasnya suasana
akrab dan hangat tersaji disana. Lalu tak lama berselang gue hanya bisa ngliatin
punggung Sandy yang terus menghilang bersama kabut tebal hujan yang menyelimuti
senja merah tembaga.
“Andai elu tau perasaan hati gue
Kul, pasti cinta ini akan terasa lebih indah.” Karena cinta itu layaknya
seperti orang bertepuk tangan, ketika kedua tangan saling menepuk maka akan terdengar
alunan nada yang indah yang penuh dengan kehangatan, tapi ketika hanya bertepuk
sebelah saja maka akan terasa sumbang tanpa nada.
***
Cinta gue buat Tukul tidak akan
pernah berubah. Gue mencintai dia dan apapun yang ada pada diri dia. Bahkan cinta
itu terus tumbuh subur setiap harinya.
“Jelek,” sebuah sapaan yang cukup
tidak mengenakan mampir di telinga gue, yang membuat gue menghentikan nyanyian
merdu dari pita suara gue.
“Ya elu Kul. Bantuin atau apa kek?
Eh tiba-tiba nyelenong langsung ngledekin gue,” kilah gue sambil ngelap
keringat akibat membersihkan WC karena terlambat datang ke sekolah.
“Uda kok,” balasnya.
“Uda apaan?”tanya gue bego.
“Uda ngliatin elu,” jarang-jarang
banget si Mister Tukul ini ngegombalin gue.
“Hahaha.....,”gue tertawa lepas
jadinya. Sederhana mungkin. Tapi itulah yang paling gue suka dari Sandy. Dari
hal kecil ajja gue bisa bahagia karenanya.
“Terusin noh, malah tertawa,” dengan
sok bossy nya si Tukul maen
nyuruh-nyuruh gue.
“Capek tahu,” action gue sambil ngelap keringat yang mengucur dari kening.
“Ini,” kata Tukul Sandy disertai
dengan sodoran tissue di depan gue.” Gue pun menyambar tissuenya segera.
“Pelan-pelan dong,” kata Tukul Sandy
sambil berlalu begitu saja dari hadapan gue.
Tanpa berpikir panjang lagi gue
langsung ngelapin tissue di kening gue. Lumayan banyak juga produksi keringat
gue. Sampai tissue yang kering jadi basah dibuatnya. Pas disela gue mau
membuang sampah tissue itu, ada sesuatu yang membuat gue harus mengurungkan
niat untuk membuangnya.
“Gue sayang sama elu Lol. I Love
You.”
“Deg.”Aliran darah gue seakan
berhenti mengalir saat membaca tulisan yang tersirat di tissue itu. Berarti
artinya cinta gue terbalas, berarti juga Si Mister Tukul Sandy juga ada rasa
sama gue, dia cinta sama gue. Hati gue benar-benar mekar berbunga saat ini.
“Romantisnya lagi penembakan dia
lain dari pada yang lainnya. Bahkan untuk nembak aja dia masih tetap dengan
kecuekannya.
Saking girangnya gue langsung
berlari meninggalkan hukuman gue dan mengejar Sandy.
“Tukul.....,” masih dengan
ngos-ngosan gue berdiri di depan kelas Sandy.
Beruntung sekali kala itu kelas Sandy lagi kosong gag ada gurunya.
“Iya,” balas Sandy.
“Ini bener dari elu?” tanya gue
sambil nyodorin tissue dari genggaman tangan gue.
“Ini,” balas Sandy gantung. Gue
mengiyakan dengan anggukan kepala.
“Bukan,” lanjut dia lagi. Jelas
jawaban dia barusan membuat raga dan jiwa gue mati tiba-tiba.
“Tapi ini,” sebuah ciuman mendarat
di bibir gue. Ya, si Mister Tukul Sandy mencium gue. Sungguh gue mati
tercengang. Gue gag tau harus bagaimana. Perasaan hati gue campur aduukkk. Dan
campur aduk itu adalah campur aduk bahagia, senang, nyaman, dan sejenisnya
dech. Gue gag bisa mendeskripsikan hati gue saat ini saking gag karu-karuannya.
J
“Gue sayang sama elu, Lol,” lanjut
Sandy lagi. Tanpa pikir panjang lagi gue langsung memeluk erat Sandy dan wajah
gue sama dia saling menatap nanar.
Daging tak berasa itu mulai berdekatan lagi. Ciuman kedua. Gue mau banget. Dan...........
Daging tak berasa itu mulai berdekatan lagi. Ciuman kedua. Gue mau banget. Dan...........
“Indah,” ucap Sandy untuk kesekian
kali.
“Apanya?”padahal gue tahu Sandy
belum nyium gue lagi.
“Tato cabe di gigi elu,hahahhaha,”
dengan senangnya Sandy tertawa lepas. Jelas gue jadi tengsin di buatnya.
Apa-apaan ini mau ciuman aja harus ketauan ada kulit cabe yang nyempil di gigi.
Aaahh....cabe sialan bikin second kiss
gue gagal aja.”
“Sini,” lanjut Sandy. Ini dia
tengsin yang kedua bermula lagi. Mau-maunya Sandy bersihin kulit cabe yang
nyempil di gigi gue.
“Maluuu aahhh gue sama elu,” parah
gue malu banget.
“Hehehe....ini dia yang bikin gue
sayang sama elu. Elu itu ibaratnya lampu
yang selalu terang bersinar setiap harinya. Kalau ada elu hidup gue gag
pernah mati dan sepi. I Love You,” dan benar second kiss itu terjadi lagi.
“Tukul gue sayang banget sama elu.
Elu itu cuek, care, dan romantis. I Love You.
Kini dua hati itu telah menyatu. Dua
hati yang sama dengan psikologis karakter yang berbeda. Si Mister Tukul yang
cueknya gag ketulungan akhirnya bersanding dengan gue yang banyak tingkah dan
gag bisa diam. Mungkin begitu cinta. Sederhana, konyol, dan banyak rasanya. Mister
Tukul, I Love You. J
***
Langganan:
Postingan (Atom)

