Rabu, 20 Maret 2013

Loving You

Love at first sight. Itulah kata-kata yang pengen aku ungkapkan saat ini. Tanya kenapa? Jawabannya adalah kamu. Kamu yang membiarkan aku tersesat menuju hatimu. Lewat merekahnya senyuman di bibirmu. Aku jatuh hati kepadamu. Segala sesuatu yang ada padamu mampu membius ragawi dan hatiku. Sungguh aku tidak bisa melupakan dimana aku pertama kali berjumpa denganmu. Kebahagiaan mencintaimu kini menghinggapiku. Semua berjalan seiring berputarnya jarum jam waktu. Aku sosok pengagum dan mencintaimu dari radius yang teramat jauh.

Jumat, 15 Maret 2013

Bungkus Chochocino dan Mint




Kesalahan itu cukup terjadi sekali saja. Jangan sampai sebuah kesalahan itu akan terulang kembali. Apalagi terulang dengan kesalahan yang sama. Bukan bodoh lagi namanya, tapi sudah semacam bunuh diri. Menghujamkan pisau tajam di urat nadi. Aku bergidik ngeri. Takut-takut membayangkan kesalahan yang sama itu bakal terulang kembali. Lalu setelah lama berkutat dengan parnonya istilah kesalahan, aku mulai menggerakkan tanganku lagi memilih baju couple ala anak ABG masa kini. Mudah sekali menebaknya, tentu baju couple itu untuk aku dan pacarku. Lumayan agak sedikit buat mata liyer dan kepala pusing. Dari sekian banyak baju couple yang terpajang rapi, tak jua kunjung terdeteksi yang pas di hati. Hingga akhirnya keputusasaanlah yang harus tersaji.
            “Maunya ngasih yang istimewa di hari jadi dia tapi malah jadi bingung begini?” aku manyun kesal sambil menyandarkan punggung di tembok warna biru muda. Tentu pula wajah sudah tertunduk lesu dan keringat mulai deras mengucur keluar karena kepanasan. Tapi agaknya aura warna biru muda tembok telah memancarkan cahaya positif ketenangannya pada pelanggan karena disela keputusasaanku disitu pula aku menemukan satu baju couple yang akhirnya berhasil mencuri hatiku. Ya, hanya satu baju itu.
            “Kena dech!!” aku bersorak girang meraih baju yang dipajang itu. Tapi bersamaan dengan itu pula ada sebuah tangan yang juga ikut meraih baju pilihanku. Aku sontak langsung menoleh ke arahnya.
            “Kania!!!” seru orang itu kaget ke arahku.
            “Ardo!!!” aku pun tak kalah kagetnya bersorak di hadapan orang itu yang ternyata aku juga mengenalnya. Nggak tahu kenapa aku jadi girang setengah mati dibuatnya. Sampai-sampai tidak sengaja aku sudah melingkarkan tanganku di pinggangnya. Memeluknya erat dan rasa-rasanya aku tak ingin melepaskannya. Mungkin kalau aku punya alat seperti Doraemon aku akan menghentikan putaran waktu ini dan menguncinya. Sumpah aku bahagia sekali berjumpa dengannya.
            “Ehhh....ehhh.....sorry!!!” kataku gagap saking girangnya.
            “Tak masalah.” Masih sama. Ardo tetap menjadi sosok laki-laki paling dingin layaknya gumpalan es batu di kutub. Lalu aku dan Ardo saling menatap nanar. Menabrakkan pandangan mata hampa penuh kerinduan.
            “Buat kamu saja,” suaraku yang mengawali percakapan ringan antara aku dan Ardo.
            “Buat kita berdua,” tetap dengan gaya khasnya yang dingin dan cuek Ardo mengambil baju itu, membayarnya lalu membungkusnya satu untukku dan satu untuk dia. Seperti tertarik medan magnet cinta, aku hanya bisa mengikuti setiap alur peraganya.
            “Lama nggak jumpa. Kemana saja?” tanya Ardo padaku.
            “Seperti biasa. Kuliah dan maen bareng sama teman-teman,”jawabku sambil terus mengawasi setiap mimik yang diciptakan olehnya.
            “Apa kabar kampus? Lama nggak menjenguknya,” diiringi simpul senyum kecil yang mengembang di sudut bibirnya.
            “Kapan berubah? Pasti penyakit malas kuliahnya belum sembuh juga ini?” dengan nada mengejek ku jawab pertanyaan Ardo.
            “Masih nggak sanggup membiarkan hati ini menganga sakit,” aku tahu maksud kata-kata Ardo barusan. Jelas ini menyinggung jalinan cintaku dengan Bian pacarku.
            “Apaan sich? Ngejekin ini......,” aku hanya mencibir ke arahnya. Sedangkan Ardo malah tertawa lepas dengan tatapan mata tajam yang menyerang bola mataku.
            “Chochocino,” celetuk Ardo tiba-tiba. Seakan tahu aku langsung tertawa mendengarnya.
            “Mint,” balasku. Dan lagi-lagi tawa renyahlah yang meledak dari mulut kami berdua.
            Memory cinta itu ternyata masih rapi tersimpan di otakku dan Ardo. Chochocino adalah santapan minuman hangat favoritku dan Mint adalah rasa hisapan rokok andalan Ardo. Sebuah kebiasaan hidup yang menjadi ciri khas ala Ardo dan aku. Dari situ pula berawal sebuah cinta yang salah. Chochocino dan Mint melahirkan sebuah hakekat cinta yang seharusnya tidak tercipta. Aku dan Ardo yang sama-sama sudah punya pacar harus mengikatkan cinta yang salah diatas putihnya cinta pacar kami masing-masing. Aku dan Ardo saling mencintai tapi sayangnya cinta itu datang disaat yang tidak tepat untukku dan Ardo.
            “Bengong lagi. Pergi saja yukkk,” ajak Ardo.
            “Semacam kencan lagi ini?” tanyaku.
            “Bukan semacam lagi tapi kencan beneran,” Ardo menekankan.
            “Siapa takut?” aku bersorak nakal. Ardo langsung tertawa mendengar jawabanku. Akhirnya aku dan Ardo memutuskan menghabiskan waktu sore itu untuk kencan bersama. Sore yang jingga seakan memberi kesan bahwa cinta itu tidak ada yang abu-abu dan tidak nyata, melainkan cinta itu adalah jingga yang nyata dan terang.
            Aku dan Ardo memutar kembali cerita yang dulu pernah kami lewati bersama. Memainkan peran di dalamnya. Nongkrong di pinggir jalan sambil menikmati secangkir chochocino hangat dengan toping chesse di atasnya dan Ardo dengan seputung rokok rasa mint yang asapnya segera menyatu dengan udara lembab sore itu.
            “Kapan terakhir kali kita seperti ini?” tanya Ardo dengan gaya memainkan asap rokok yang keluar melalui lubang mulutnya.
            “Hari terakhir kita Kuliah Kerja Nyata,” balasku sambil menyeruput chochocino hangat. Lalu aku dan Ardo pun sama-sama menyunggingkan senyum. Cintaku dan Ardo bersemi disaat tatapan mata kami pertama kali bertabrakkan di lokasi Kuliah Kerja Nyata.
            “Dan hari itu pula hari terakhir cintaku buat kamu. Karena aku tahu setelah Kuliah Kerja Nyata itu berakhir maka aku tidak akan lagi dapat memandang wajah ayumu, mendengar merdu suaramu, dan tertawa bareng sama kamu. Jelas juga kamu akan kembali bersama dengan pacarmu,” terang Ardo. Aku hanya mendengarkan kata-kata Ardo tanpa meresponnya sedikit pun. Malah aku aktif memainkan tanganku mengaduk-aduk chochocino minumanku.
            “Tapi walopun sebentar cinta itu indah,” lanjut Ardo menatap langit sambil sesekali memainkan rokok di tangannya.
            “Aku tidak akan melupakannya,” aku menimpali kata-kata Ardo akhirnya.
            “Jadi kita itu predikatnya mantan selingkuhan sekarang?” ledek Ardo melirik ke arahku. Aku mengangkat pundak tanda mengiyakan yang penuh keraguan.
            “Lucu sekali. Mantan Selingkuhan. Hahahha.....,” Aku dan Ardo malah tertawa lepas.
            “Dasar Chochocino pahit,” lagi-lagi Ardo menyerangku dengan ledekannya.
            “Heemmttt, Dasar Mint....Minta ditabokin. Hahahha....,” tawa dan kebersamaan itu yang akan selalu aku rindukan.
            Serentetan tawa yang keluar akhirnya berhenti pada sebuah titik keheningan. Tanpa disadari aku dan Ardo saling tidak mau melepaskan tatapan mata yang terus berperang. Hingga aku dan Ardo tersadar bahwa kami sudah berada pada radius yang teramat dekat. Daging itu sudah saling bersentuhan. Gelora asmara itu bergulir bak bola api panas di hatiku dan Ardo. Aku dan Ardo kembali berada pada putaran cinta yang salah.
            “Cukup,” aku bergerak menjauh dari posisi dimana Ardo duduk. Nggak tahu sejak kapan airmata itu mulai meleleh membasahi pipiku. Aku menangis. Kebodohan dan cinta yang salah itu bergulir kembali. Aku tidak mungkin melakukan dan menikmatinya lagi.
Bian. Tiba-tiba seluruh memory otakku dipenuhi oleh bayang-bayang Bian. Mana mungkin aku akan mengkhianati cinta Bian untuk yang kedua kalinya? Mana mungkin aku akan mengkhianati tulus cinta dan pengorbanan Bian untukku selama dua tahun ini? Dan parahnya lagi, aku sejenak melupakan bahwa hari ini adalah hari jadi Bian yang ke-23 tahun. Aku semakin menangis menjadi. Menyesali kebodohan cinta dan pengkhianatan cinta yang kembali terjadi. Ardo tampak bingung menghadapiku. Mungkin Ardo juga merasa bersalah terhadapku?
“Do!!!” bisikku lirih.
“Bukan cinta yang salah Kania, tapi hanya waktu yang kurang tepat yang menghinggapi kita. Maafkan aku Kania,” lalu Ardo memelukku erat. Pelukan terakhir yang akan aku terima dari Ardo. Karena setelah ini aku akan benar-benar mengubur Ardo dalam hatiku.
“Mungkin ini pertemuan terakhir kita Do. Karena aku sudah nggak mau lagi bertemu denganmu. Nggak akan pernah mau. Tahu alasannya kenapa kan?” kataku sambil mencoba berdiri tegak diatas kakiku sendiri tanpa bantuan sandaran tubuh Ardo lagi.
“Karena cinta itu akan terpupuk subur setiap kali kita bertemu. Dan cinta itu yang melukai kita,” dengan pasti Ardo menanggapi perkataanku.



Deal. Selamat Tinggal. Jangan sampai kita bertemu lagi,” aku berlari sekencangnya meninggalkan Ardo yang masih berdiri mematung. Ternyata airmata itu masih terus deras mengalir keluar. Aku tak peduli. Sekarang yang ingin aku lakukan hanya berlari semakin kencang, kencang, dan kencang pergi jauh dari Ardo dan berharap tidak akan pernah menemukan silsilah dan anak peranakkan dari Chochocino dan Mint. Termasuk aku juga tidak ingin menjumpai bungkus dari Chochocino dan Mint. Aku tidak ingin lagi menemukan bayangan Ardo. Biarlah yang penumbra lama kelamaan menjadi umbra yang semakin jelas tak terlihat dan hilang.
Hingga kakiku yang terus berlari ini berhenti tepat di hadapan Bian. Masih dengan napas ngos-ngosan aku berjalan ke arah Bian. Disana aku melihat segala rupa pernak-pernik candle light dinner yang dipersiapkan Bian di hari ulang tahunnya untukku. Tanpa berpikir panjang aku langsung memeluk Bian erat menangis lagi dipelukkannya sambil membisikkan ucapan panjang umur untuknya.
“Bian,,,,Happy Birthday yah!!! Wish you all the best,” kataku lalu Bian mencium keningku.
“Iya terima kasih, sayang. Sampe ngos-ngosan begini buat ngerayain pesta ulang tahun ini,” lanjut Bian.
“Karena aku tak mau melewatkan acara ini. Jadi aku berusaha mati-matian agar tidak telat datang kesini,”jelasku.
I Love You,” untaian kata cinta keluar dari mulut Bian. Aku hanya nanar menatap ke arahnya.
“Ini,” tak lama berselang Bian menyodorkan chochocino hangat untukku dan tepat saat itu pula Bian juga mengeluarkan rokok Mint yang langsung bertengger manis di mulutnya.
“Sakit,” rintihku pilu.
Mungkin karena yang namanya bungkus itu ringan tak berisi jadi dengan mudah dia akan tertiup angin dan terbang melayang di angkasa raya. Kalau pun cinta Chochocino dan Mint sekarang hanya tinggal mantan biarlah bungkus cinta mereka yang terbang tinggi di angkas sana.
***