Sabtu, 28 Mei 2011

Futsal

Futsal adalah permainan bola yang dimainkan oleh dua regu, yang masing-masing beranggotakan lima orang. Tujuannya adalah memasukkan bola ke gawang lawan, dengan memanipulasi bola dengan kaki. Selain lima pemain utama, setiap regu juga diizinkan memiliki pemain cadangan. Tidak seperti permainan sepak bola dalam ruangan lainnya, lapangan futsal dibatasi garis, bukan net atau papan.
Futsal turut juga dikenali dengan berbagai nama lain. Istilah “futsal” adalah istilah internasionalnya, berasal dari kata Spanyol atau Portugis, football dan sala.
Futsal diciptakan di Montevideo, Uruguay pada tahun 1930, oleh Juan Carlos Ceriani. Keunikan futsal mendapat perhatian di seluruh Amerika Selatan, terutamanya di Brasil. Ketrampilan yang dikembangkan dalam permainan ini dapat dilihat dalam gaya terkenal dunia yang diperlihatkan pemain-pemain Brasil di luar ruangan, pada lapangan berukuran biasa. Pele, bintang terkenal Brasil, contohnya, mengembangkan bakatnya di futsal. Sementara Brasil terus menjadi pusat futsal dunia, permainan ini sekarang dimainkan di bawah perlindungan Fédération Internationale de Football Association di seluruh dunia, dari Eropa hingga Amerika Tengah dan Amerika Utara serta Afrika, Asia, dan Oseania.
Pertandingan internasional pertama diadakan pada tahun 1965, Paraguay menjuarai Piala Amerika Selatan pertama. Enam perebutan Piala Amerika Selatan berikutnya diselenggarakan hingga tahun 1979, dan semua gelaran juara disapu habis Brasil. Brasil meneruskan dominasinya dengan meraih Piala Pan Amerika pertama tahun 1980 dan memenangkannya lagi pada perebutan berikutnya tahun pd 1984.
Kejuaraan Dunia Futsal pertama diadakan atas bantuan FIFUSA (sebelum anggota-anggotanya bergabung dengan FIFA pada tahun 1989) di Sao Paulo, Brasil, tahun 1982, berakhir dengan Brasil di posisi pertama. Brasil mengulangi kemenangannya di Kejuaraan Dunia kedua tahun 1985 di Spanyol, tetapi menderita kekalahan dari Paraguay dalam Kejuaraan Dunia ketiga tahun 1988 di Australia.
Pertandingan futsal internasional pertama diadakan di AS pada Desember 1985, di Universitas Negeri Sonoma di Rohnert Park, California. Futsal The Rule of The Game
Peraturan
  1. Ukuran lapangan permainan : panjang 25-42 m x lebar 15-25 m
  2. Garis batas: garis selebar 8 cm, yakni garis sentuh di sisi, garis gawang di ujung-ujung, dan garis melintang tengah lapangan; 3 m lingkaran tengah; tak ada tembok penghalang atau papan
  3. Daerah penalti: busur berukuran 6 m dari setiap pos
  4. Garis penalti: 6 m dari titik tengah garis gawang
  5. Garis penalti kedua: 12 m dari titik tengah garis gawang
  6. Zona pergantian: daerah 6 m (3 m pada setiap sisi garis tengah lapangan) pada sisi tribun dari pelemparan
  7. Gawang: tinggi 2 m x lebar 3 m
  8. Permukaan daerah pelemparan: halus, rata, dan tak abrasif
Bola
  1. Ukuran: #4
  2. Keliling: 62-64 cm
  3. Berat: 390-430 gram
  4. Lambungan: 55-65 cm pada pantulan pertama
  5. Bahan: kulit atau bahan yang cocok lainnya (yaitu, tak berbahaya)
Jumlah pemain
  1. Jumlah pemain maksimal untuk memulai pertandingan : 5, salah satunya penjaga gawang
  2. Jumlah pemain minimal untuk mengakhiri pertandingan: 2
  3. Jumlah pemain cadangan maksimal: 7
  4. Batas jumlah pergantian pemain: tak terbatas
  5. Metode pergantian: “pergantian melayang” (semua pemain kecuali penjaga gawang boleh memasuki dan meninggalkan lapangan kapan saja; pergantian penjaga gawang hanya dapat dilakukan jika bola tak sedang dimainkan dan dengan persetujuan wasit)
Perlengkapan pemain :
Kaos bernomor, celana pendek, kaus kaki, pelindung lutut, dan alas kaki bersolkan karet
Lama permainan
  1. Lama: dua babak 20 menit; waktu diberhentikan ketika bola berhenti dimainkan. Waktu dapat diperpanjang untuk tendangan penalti.
  2. Time-out: 1 per regu per babak; tak ada dalam waktu tambahan
  3. Waktu pergantian babak: maksimal 10 menit

Jumat, 27 Mei 2011

Hampir Nyaris Bahkan

Hampir bisa membagikan hati buat seseorang lagi,
Nyaris ada secercah harapan
Bahkan usaha keras turut menemani dalam setiap perjuangan
Tapi semua kembali lagi pada kodrat yang namanya wanita
Wanita diusahakan primpen dalam istilah jawanya,lemah lembut,kalem,dan bahkan terkesan santun
Begitulah mungkin harapan dan selayaknya jadi wanita
Kemudian muncul istilah emansipasi wanita di era perjuangan Kartini
Wanita tidak boleh lemah,wanita tidak boleh kalah.wanita harus sejajar dengan laki-laki tapi masih tetap dalam koridor menghormati laki-laki
Lalu,disaat wanita itu merasakan cinta pada seseorang
Wanita hanya bisa memendam,memendam, dan terus memendam
Nggak tau sampai kapan,mungkin sampai udunan
Parahnya lagi hanya bisa memendam dan terus menunggu sang arjuna mengatakan cinta
Menyakitkan, sungguh menyakitkan
Kalo boleh pinjem lagunya Vierra sebentar
"Sadarkah kau. ku adalah wanita"
"Aku tak mungkin memulai"
"Hari ini ku akan menyatakan cinta"
"Aku tak mau menunggu terlalu lama"
Aku hanya bisa menulis, tanpa bisa mengungkapkan
Aku ingin kamu yang membacanya
Saat ini pasti kamu tahu siapa yang aku maksud
Aku tidak pernah menyuruhmu jadi bagian dalam hidupku
Tapi,pengungkapan adalah yang hanya nyaris dan bahkan yang berani aku tuliskan
#tiba-tiba kegalauan menghinggapi saya ^^

Selasa, 24 Mei 2011

Arang Merah Tak Pernah Berpendar



Saat rembesan air mulai berkapilaritas dengan tanah liat yang telah berubah menjadi genteng, saat itulah saat yang membuat hati kami ketar-ketir. Takut-takut kalau air itu akan secara liar memporak-porandakan rumah kami, menghajar kami dengan segala keganasan elemennya, dan mengusir kami dari kefanaan dunia. Langit menangis, dan kami pun turut larut di dalamnya.
Dian terang, mengkristal dalam bulir bening air mata kami. Berkilau, dan penawaran kebahagiaan tersaji disana. Keindahan kemilau cahaya itu berasal dari aura guru kami. Beliau adalah Ibu Tantri. Sosok guru bersahaja yang mengentas kami dari terik matahari yang berpadu padan dengan gemuruh letupan ombak pantai. Menyentuh hati kami dengan penjajakan  dunia pendidikan yang jauh lebih berharga daripada uang. Akhirnya, kami pun sepakat mengikuti program layanan pendidikan ini. Bernaung di bawah rumah belajar yang sebenarnya tak layak disebut rumah ini. Tapi, apapun dan bagaimanapun bentuknya, transfer ilmu pengetahuan harus tetap dijalankan.
“Assalammualaikum!” sapa Ibu Tantri, sembari membuka pintu kayu rapuh yang sudah digerogoti rayap.
“Walaikumsalam!” kami menjawabnya serentak dengan suara yang sedikit bergetar.
“Kalian kedinginan?” tanya beliau penuh kasih.
“Kami tidak kedinginan, Bu. Dingin itu sudah menjadi sahabat kami sejak kami turun menjadi gelandangan pinggir pantai,” jelas Haikal sang ketua kelas.
“Lantas, kenapa kalian mesti menangis?” lanjut Bu Tantri lagi, masih dengan suara lembut penuh sayang. Kami tak menjawab, hanya tundukkan serentak kepala kami yang mengisyaratkan sesuatu. Isyarat kebodohan tentunya, karena mana mungkin Ibu Tantri  dapat melihat tingkah polah kami dalam kegelapan ruangan.
“Heeii...ada apa anak-anakku?” sumbang nada kecemasan mulai menggerogoti pita suara beliau. Kami pun langsung berlari ke arah beliau, memeluk, dan terus memeluk dengan bulir air mata yang masih menganak sungai di pelupuk mata.
“Ibu,ini!” kata Silvi, bocah paling kecil diantara kami sambil meletakkan buku basah di tangan Ibu Tantri.
“Ealah...bukunya basah ketrocohan ya? Sini-sini, semua buku dikumpulkan jadi satu dan kita panggang bersama-sama,” simpul senyum kecil tersungging di sudut bibir beliau.
“Kita,bakal berpesta panggang buku, begitu Bu?” lagi-lagi tanya Silvi dengan lugunya.
“Hahaha...,” kami pun berhasil tertawa ngakak oleh celotehan Silvi yang mencerminkan khas keluguan anak kecil.
Ngisyu,” celetuk Ibu Tantri disela tawa renyahnya,dan kami pun terperanjat kaget mendengar kata-kata aneh itu keluar dari mulut beliau.
“Bu...!!” ucap kami serentak penuh tanda tanya besar.
“Ouwh...kalian baru dengar ya? Kalo dalam bahasa candaan Jawa, “ Ngisyu” itu kependekkan dari “ mari nangis ngguya-ngguyu.”
“...”  kami bengong tak mengerti.
“Artinya, kalo diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia adalah “ setelah nangis tertawa-tawa”, begitu anak-anak.”
“Ouwh...!!” lanjut kami akhirnya sambil geleng-geleng kepala.
“Sudah-sudah, kalian pergi bobok sana. Sisanya biar ibu keringkan sendiri. Hari sudah larut ini,” perintah si Ibu guru, dan kami pun mematuhinya. Kilatan bara api, memantul dari wajah ayu beliau. Wajah penuh keteduhan dan aura hangat keibuan. Sungguh, beliau adalah anugerah Tuhan terindah yang dilimpahkan pada kami.
“Tuhan, selalu jagakan beliau buat kami. Agar ketika esok, bola mata ini masih bersinar lagi, beliau adalah orang pertama yang menyedapkan pandangan kami. Amin..,”kami mengakhiri  malam itu dengan panjatan doa khidmat buat Ibu Tantri.
***
Masih seperti rutinitas pagi-pagi biasanya. Suara kokok ayam yang pecah diantara deburan ombak pantai. Selimut embun tebal yang menutupi dedaunan dan suara lolongan para nelayan yang datang dari aktivitasnya mencari ikan.
Tampak dari kejauhan, si Ibu guru sedang menata ruang belajar yang akan kami gunakan untuk  menimba ilmu. Guratan garis wajahnya tak pernah luntur akan semangat membara memberikan pendidikan. Lagi-lagi, kami tersenyum bangga memiliki beliau.
“Anak-anak sudah saatnya kalian memasuki kelas,” teriak beliau sambil berjalan menghampiri kami.
“Sebentar, Bu! Nunggu matahari terbit dulu,” balas kami serentak.
“Baiklah,” jawab beliau sembari meletakkan pantatnya diantara pasir pantai.
Satu ciri khas pantai yang haram untuk dilewatkan, yaitu sunrise dan sunset. Semua orang pasti punya cerita sendiri ketika mereka menikmati pesona keindahan alam Tuhan yang satu ini. Begitu halnya dengan kami. Setoples gula-gula permen manis menemani kami.
“Ini, Bu!” Silvi menyodorkan setoples gula-gula permen manis pada beliau. Beliau memasukkan jari-jari tangannya ke dalam toples, dan meraba. Mencoba menerjemahkan.
“Aarrgghh...,” tiba-tiba Ibu Tantri berteriak histeris sambil menutup wajah dengan kedua tangannya. Sontak kami terkejut dibuatnya. Ketidaktenangan dan ketakutan yang cukup berarti, menghinggapi jiwa beliau. Kami semakin takut. Apa yang sebenarnya terjadi?
“Ibu kenapa? Ibu takut pada permen?” Silvi bertanya dengan polosnya.
“Ibu kira tadi ini biji bola mata, jadi Ibu takut,”jawab beliau denagn suara merendah.
“Ibu tunanetra?”tanya Haikal mencoba menebak dan langsung diiyakan oleh beliau.
Bagai sambaran petir menghantam kami. Sebuah kenyataan yang tak pernah terdeteksi oleh kami. Sosok yang terlihat sempurna, ternyata menyimpan kedukaan yang mengelabuhi kami.
“Kalian pasti terkejut, bukan? Bagaimana bisa Ibu menjalani ini semua? Ini, semua bermula ketika Ibu menginjak usia 12 tahun. Sebuah virus ganas menyerang retina bola mata Ibu. Perlahan tapi pasti, sedikit demi sedikit virus itu mulai merusak syaraf-syaraf penting bola mata Ibu. Dan pada akhirnya, vonis kebutaan yang harus Ibu terima. Saat itu dunia terasa kiamat buat Ibu. Merah, kuning, birunya dunia tiba-tiba berubah jadi hitam semua,” Ibu berhenti sejenak dan menarik napas panjang. Sedangkan kami, dengan seksama terus menyimak cerita beliau.
“Tapi, dibalik itu semua ada support dari seorang guru pada Ibu agar Ibu tetap melanjutkan hidup ini. Melanjutkan hidup layaknya orang normal. Ibu pun lambat laun termotivasi dan mulai terbiasa dengan keadaan ini. Kebutaan bukan halangan untuk meraih hidup, mimpi, dan cita-cita. Ibu terus berjuang. Perjuangan terbesar terasa saat Ibu memutuskan untuk tetap bersekolah pada lingkup anak-anak normal. Sampai pada akhirnya, Ibu dapat meraih gelar sarjana dan mengikuti program layanan pendidikan  bagi daerah terpencil ini,” begitu cerita haru yang penuh motivasi keluar dari mulut beliau.
“Plok...plok..plok..!!” kami bertepuk tangan untuk beliau, lalu memeluk beliau.
“Saya akan bersungguh-sungguh. Bu!”
“Saya juga.”
“Saya juga.”
Semua bergulat dengan perasaan masing-masing akan cerita Ibu Guru. Haru, kagum, bangga bercampur jadi satu.
“Ayo, Bu!” kami menarik beliau ke arah pancaran sinar matahari. Kami berdiri berjejer, memejamkan mata, merentangkan tangan, dan merasakan setiap jengkal anugerah Tuhan yang tak pernah putus buat makhluknya.
“Bu...!!” panggil kami dan beliau pun menoleh.
“Satu, dua, tiga...!!” kami memasukkan sebutir permen  ke dalam mulut beliau dan berlari.
“Anak-anak...!!” lagi-lagi Ibu berteriak histeris melihat ulah jahil kami.
***
Kami salut dan kagum pada perjuangan Ibu Tantri untuk memajukan dunia pendidikan. Dalam keterbatasan yang dimiliki oleh beliau, beliau masih bisa bekerja secara sempurna. Bahkan, beliau mampu mengenali kami satu per satu. Walaupun, tanpa pernah bisa melihat wajah kami secara langsung.
“Anak-anak hari ini tanggal berapa?”
“Tanggal 20 Mei, Bu!” jawab kami serentak. Lalu, Ibu Tantri diam sejenak.
“Saya tahu, Bu! Hari ini Hari Kebangkitan Nasional, kan?” celetuk Risma, satu bocah diantara kami.
“Selain itu, hari ini adalah hari terakhir kami bersam Ibu,” Haikal menimpali lalu tertunduk lemas.
Benar apa yang dikatakan oleh Haikal. Hari ini dan pada detik ini juga, tepat sudah satu tahun Ibu Tantri mengajar kami secara sukarela. Satu tahun, adalah masa bhakti pengajaran seorang guru dalam program layanan pendidikan bagi daerah terpencil, seperti kami. Program ini adalah bentuk realisasi dari UU No.20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 32 ayat 2 tentang pendidikan layanan khusus yang diberikan kepada anak didik di daerah terpencil atau terbelakang. Setiap tahunnya, kami memang mendapat jatah pengajar dari guru-guru yang berbeda. Dan, tahun ini merupakan tahun paling istimewa buat kami.
“Ada hitam ada putih. Ada suka, begitu pula ada duka. Ada pertemuan tentunya ada perpisahan. Tapi, ini hanya perpisahan sesaat anak-anak. Suatu saat, dalam kesempatan yang berbeda, pasti kita akan dipertemukan lagi,” Ibu Tantri mencoba menguatkan kami.
“Kami,pasti akan selalu merindukan Ibu. Semua tentang Ibu telah berhasil tertanam dalam hati kami. Ibu laksana lentera yang menerangi sisi gelap hidup kami,” ucap kami sambil menatap lekat beliau.
“Terima kasih anak-anak. Ibu cukupkan pelajaran kita hari ini. Semoga pelajaran terakhir ini bermanfaat buat kalian. Silahkan kalian istirahat dulu! Biar Ibu packing buat persiapan kembali ke kota.
Kami berhambur keluar ruangan. Merencanakan sesuatu akhir yang berkesan buat Ibu Guru kami tercinta. Namun sebelum rencana itu berhasil dilakukan, suara kentongan pertanda pasang air pantai membahana menyapa telinga. Kami panik. Pasang air tertinggi telah terjadi. Kami berlari berhambur mencari tempat yang paling aman. Dalam derap langkah kaki untuk kesekian kalinya, Haikal mengomando kami untuk berhenti berlari. Berputar arah, kembali ke rumah belajar menjemput Ibu Tantri. Kami menyetujui usul Haikal. Kami tak peduli lagi suara jeritan orang yang meneriaki kami untuk segera menjauh dari gulungan ombak beringas. Kami berlari dan terus berlari hingga tangan kami berhasil menggandeng tangan Ibu Tantri untuk segera pergi meninggalkan rumah belajar. Perjuangan serasa meruncing saat kami berlari bersama, berkejaran dengan gulungan ombak kejam yang sama sekali tak mau mengalah. Perjuangan yang terbingkai indah karena patrian kebersamaan.
“Kita sudah aman, Bu!”kata Haikal.
“Teman-teman yang lain lengkap, Kal?”tanya Ibu Tantri disela hela napas yang masih terengah-engah. Haikal pun menghitung satu per satu. Dan.....
“Silvi, Bu!”Haikal panik saat mendapati bocah paling kecil diantara kami tidak ada dalam gerombolan.
“Silvi???”Ibu menangis, dan kami juga turut menangis dalam kepanikan yang sangat.
“Sudah-sudah, hapus air mata ini. Kita harus tenang, agar pikiran kita tetap jernih dan tidak mikir yang macem-macem.Setelah keadaan ini mereda, kita langsung cari Silvi,” Ibu Tantri meraba wajah kami, dan mengelap air mata kami satu per satu.
Kami berpencar ke semua tempat yang biasa dikunjungi oleh Silvi. Tapi hasilnya nihil. Silvi masih belum ditemukan. Lagi-lagi, ketakutan menjalar dalam darah kami. Keputusasaan berperang dengan ketakutan melahirkan pikiran negatif yang antah berantah kacaunya. Kami, terduduk lemas. Air mata yang stoknya tak pernah habis itu meleleh begitu saja.
“Ibu Guru, kakak-kakak!” lengkingan nyaring khas suara anak kecil menyembul dari balik bukit.
“Silvi!” pekik kami.
“Sini!” ajaknya sambil melambaikan tangan. Kaki kami berjalan ke arahnya.
“Kamu disini dari tadi?” tanya kami penasaran, dan hanya dijawab dengan anggukan kepala. Dan dengan asiknya, dia menggandeng tangan Ibu Tantri ngeloyor pergi. Mau gak mau kami mengekor di belakangnya.
“Ini buat Ibu!” lanjut Silvi lagi. Ibu Tantri mencoba meraba sesuatu yang ingin ditunjukkan oleh Silvi. Dalam garis telapak tangan, beliau  mencoba merasakan sesuatu.
“G, U, R, U, K, U. GURUKU,”teriak Ibu Tantri,setelah berhasil meraba benda kasar yang terbuat dari ranting kayu pohon kelapa yang tenyata bertuliskan “Guruku” hasil karya si bocah cilik,Silvi. Kami takjub akan kenangan terindah Silvi yang diberikan kepada Ibu Tantri. Terkesan sederhana, tapi bermakna dalam.
Kami berpelukan dan bersorak senang akhirnya. Perpisahan manis manalagi diakhiri dengan iringan lagu Himne Guru mengantar kepergiaan Sang Maestro Guru Pujaan, Ibu Tantri. Meskipun roda mobil terus melaju membawa Ibu Tantri pergi, kami tak henti meneriakkan lagu perjuangan sang guru itu.
Terpujilah wahai engkau, Ibu Bapak Guru
Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku
Semau bhaktimu akan ku ukir di dalam hatiku
Sebagai prasasti terima kasihku
Tuk pengabdianmu
Engkau sebagai pelita dalam kegelapan
Engkau laksana embun penyejuk
Dalam kehausan
Engkau patriot pahlawan bangsa
Tanpa tanda jasa
“Terima kasih untuk semuanya, Bu.”
“Kobaran bara api semangat Ibu, akan kami lanjutkan. Kami akan memajukan Indonesia lewat pendidikan. Arang yang Ibu tinggalkan tak akan pernah berhenti berpendar.. Ibu Guru terima kasih,” kami berteriak lantang sambil melambaikan tangan untuk beliau. Lewat celah kaca mobil, Ibu menyunggingkan simpul senyum kecil disertai balasan tangan pula.
***

Senin, 23 Mei 2011

Artikel Ilmiah


PENDIDIKAN LAYANAN KHUSUS
MASYARAKAT DAERAH TERPENCIL DAN TERKENA BENCANA
Nastiti Rahayu VI C / 08411.199
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA

1.        Pendahuluan
Pendidikan merupakan salah satu kebutuhan manusia dalam upaya mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kualifikasi kemampuan yang mencakup kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, keterampilan, daya saing, semangat juang, dan kreativitas inovatif untuk dapat hidup mandiri dan berdaya saing. Oleh karena itu, pemerintah provinsi dan terutama pemerintah kabupaten/kota wajib memberikan layanan pendidikan bagi warga negara Indonesia.  Sesuai dengan isi dalam Pasal 31 ayat 1 UUD 1945 yang menyatakan bahwa “Tiap-tiap warga negara berhak mendapat pengajaran”. Dalam pasal ini menunjukkan bahwa pemerintah dan bangsa Indonesia menghormati dan melindungi hak asasi individu yang berkedudukan sebagai warga negara untuk mendapatkan pengajaran.
Tidak terkecuali, bagi masyarakat yang tinggal di daerah terpencil dan terkena bencana harus mendapat perhatian dan pelayanan khusus, agar semua warga Indonesia menjadi manusia-manusia yang berpendidikan. Persoalan mengenai akses jalan dan transportasi yang sulit, serta situasi bencana yang melanda semoga tidak merubah persepsi masyarakat terhadap pendidikan turut mempengaruhi turunnya minat bersekolah dan meningkatnya angka putus sekolah. Dengan demikian, pemerintah harus mensosialisasikan, memperhatikan, dan mengayomi masyarakat yang tinggal di daerah terpencil dan yang tinggal di daerah bencana agar mereka tetap memperoleh pendidikan. Pemerintah dapat merealisasikan dengan jalan pembukaan gedung sekolah baru, pemberian beasiswa pada tingkat SD dan SMP, penyediaan sumbangan dana bantuan operasional pada sekolah-sekolah, dan meningkatkan akses, ekualitas, dan ekuitas pendidikan.

2.        Pembahasan
2.1  Pendidikan Layanan Khusus
Mengacu pada UU No.20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 32  ayat 2 berbunyi: “Pendidikan layanan khusus diberikan kepada anak didik di daerah terpencil atau terbelakang, masyarakat adat yang terpencil, dan atau mengalami bencana alam, bencana sosial, dan tidak mampu dari segi ekonomi”.
Penanganan pelayanan khusus dapat dilakukan dengan cara pengaturan masalah penjadwalan masuk sekolah, intensitas pertemuan tatap muka, materi yang disampaikan seperti bidang matematika, agama, bahasa, dan bidang lainnya berdasarkan kebutuhan daerah setempat.
Pendidikan layanan khusus juga harus mempertimbangkan persiapan mental para anak didik. Penanganan pendidikan  dimulai dengan penanganan psikologis spirit belajar dan rasa optimisme menghadapi hidup, semangat bermain, menyatu dengan teman-teman sebaya, dan keceriaan mereka harus dipulihkan.

2.2 Daerah Terpencil dan Terkena Bencana
As any student of history knows, domestic and international conflict can stem from various factors including economic inequality, ethnic, and religious disputes, foreign exploitation, and resource deprivation. (http://books.google.co.id)
Beberapa wilayah di Indonesia yang miskin harta dan miskin ilmu seperti kehidupan anak nelayan di Desa Aeng Batu-Batu, Kecamatan Galesong Utara, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan yang merupakan daerah terpencil. Hantaman bencana  bertubi-tubi yang menghantam Indonesia,membuat dada ini tidak berhenti menangis. Seperti, tsunami Aceh, gempa Sumatra Barat, gunung meletus Yogyakarta, dan lumpur lapindo Sidoarjo. Mereka semua butuh uluran tangan demi kembali menapaki hidup yang layak lagi, dan pada akhirnya tercipta sumber daya manusia yang produktif. Ini dimaksudkan juga untuk kemajuan bangsa di kancah internasional. Pendidikan berkualitas adalah kunci mengkonversi dari kemiskinan dan keterbelakangan menjadi kemajuan, menjadi bangsa yang cerdas, adil dan makmur.

2.3 Upaya Pemerintah
Pemerintah telah menyiapkan penanganan jangka pendek (1-6 bulan) dan jangka panjang (4-5 tahun).Penanganan jangka pendek bertujuan memulihkan kembali kelangsungan proses pembelajaran dalam situasi darurat. Tahapan ini mencakup pendidikan formal (sekolah) dan non formal (luar sekolah). Pada jalur formal, pemerintah membangun sekolah tenda dengan kapasitas 40 orang per kelas. Setiap kelas ditangani tiga orang guru. Sekolah darurat didirikan di sekitar lokasi pengungsian.
Secara fisik rehabilitasi dan rekonstruksi secara sistematis, seperti penyediaan tenaga guru di tempat-tempat relokasi karena citra terdepan dalam soal pendidikan ini adalah guru, sarana-sarana pendidikan, dan menata kembali program belajar yang tertunda. Some of the greatest unsung heroes of our society are the teachers who spend their lives educating our children. (http://www.edubook.com/teacher)
Pendidikan harus terus berjalan. Pemberian pendidikan dalam keadaan bagaimanapun, bertujuan untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia. Tidak membayangkan, Indonesia yang menduduki peringkat ke-4 jumlah penduduk terbanyak harus bernasib sama dengan 14 negara yang jauh tetinggal dengan negara lain di dunia.
One way to learn what makes a difference and how much of a difference it makes is to measure schooling outputs in a large number of settings that vary in terms of the characteristics or inputs that are thought to make a difference. (Gary Bridge dkk, 1979:3)
Apapun dan bagaimanapun caranya menempuh pendidikan, sekalipun dengan segala perbedaan cara, tempat, keadaan serta karakteristik harus tetap menghasilkan lulusan yang berkualitas demi meningkatkan daya saing bangsa dalam pertarungan internasional.

3.    Kesimpulan dan Saran
3.1  Kesimpulan
Pendidikan layanan khusus dimaksudkan agar tidak ada anak yang putus sekolah dan tetap memperoleh pendidikan dalam keadaan bagaimanapun juga. Dengan jumlah penduduk yang padat, diharapkan output pendidikannya dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia sehingga mampu bersaing dalam dunia internasional sebagai negara maju dan berkembang.

3.2 Saran
                         Pemerintah perlu mengadakan penanganan secara cepat dan tepat mengenai pendidikan    layanan khusus ini dan perlu akses yang lancar pemberian bantuan berupa sarana dan fasilitas.

Sabtu, 21 Mei 2011

Asa Dalam Pilihanku

Hitam mengkilap menyala dari kulit ariku.Peluh menetes di sekujur tubuhku.Samudra kering merongrong melewati tenggorokanku.Siang ini,sungguh matahari berhasil menghajar ragaku,mambakar kulitku dengan segala keperkasaan teriknya.Batinku kesal.Dan kekesalan itu berbuntut panjang pada pekerjaan yang terus membuatku bergulat dengannya.Aku angkat tangan,tak sanggup untuk lebih lama berada di antara debu panas matahari.Berteduh di bawah pohon,begitulah aku memutuskannya.

Gesekan daun-daun berhasil menciptakan hembusan angin segar buatku.Membawa otakku berkelana menjajaki kehidupanku tempo dulu.Ada pulpen, buku, dosen, dan bangku kuliah, berfoya-foya nongkrong menjajakan uang sepuas hati.Sekelumit penjajakan kesenangan dunia yang aku torehkan.Tapi,itu semua tinggal seonggok cerita yang hanya bisa aku ceritakan,tanpa aku bisa melakoninya lagi.Duniaku kini telah berubah.

"Minum dulu,"sapa suamiku sembari ngelap air mata yang kau tak athu kapan jatuhnya.
"Maafkan aku,"lanjutnya lagi,sambil menenangkan buah hatiku yang juga turut nagis di gendhongannya.Mau tak mau,aku melemparkan pandangan pada dua sosok manusia yang jadi keluarga baruku saat ini.
"Untuk apa?"balasku dengan tatapan kosong.
"Untuk sebuah kesalahan yang tak termaafkan."
"Ini,bukan kesalahan.Tapi,inilah pilihan.Pilihan yang harus aku jalani dab aku pertanggungjawabkan dengan segala konsekuensinya,"begitulah aku mencoba berkilah pada sebuah pilihan yang telah aku pilih sendiri.Tanpa paksaan dan tekanan dari pihak manapun.Suamiku pun langsung membawaku dalam hangat peluknya.Kehangatan pelukan yang membuatku memilih dia daripada keluargaku.Kami larut dalam haru biru kesedihan.

"Sudah kamu pulang dulu sana.Sepertiga pekerjaan yang tertunda ini biar aku kerjakan.Bawa,baby ini pulang juga.Kasihan,terik matahari sudah semakin menggila,"saran suamiku.
"Tidak. Aku akan tetap disini menemanimu.Aku sudah berjanji untuk tetap susah senang disampingmu.
"baiklah,kalau seperti itu keinginanmu.Tapi,kamu harus istirahat disini saja,biar aku sendiri yang menggarap sawah.


Akhirnya,aku bersama anakku tetap menemani suamiku bekerja.Setidaknya itulah support yang aku bisa berikan buat keutuhan rumah tanggaku.Rumah tangga yang ku bangun tanpa restu keluargaku.Boleh sekarang segala tumpukan lembar kertas bernomial tak bersahabat lagi denganku, tapi aku lebih bahagia karenanya.Bahagia karena selalu ada perjuangan dalam setiap lembar meraihnya.bukan,bahagia karena setiap saat aku dapat menggeseknya dalam mesin elektronik yang dapat menelurkan uang.

Tetap dalam pertempuran hatiku,kucoba menyanyikan kidung haru buat anakkuMencoba menidurkannya dalam jarit gendhong usang yang terselempang di pundakku.sayup-sayup kidung itu pecah dalam lautan air mata yang lagi=lagi menganak sungai di pelupuk mataku.Aku rindu keluargaku, ayah, ibu, dan kakakku.

"Ayah,Ibu, aku rindu kalian.Sampai kapanpun kalian tetap penghuni paling istimewa di hatiku.Haru semakin memecah saat kidung lagu nina bobok kunyanyikan untuk yang kesekian kalinya buat anakku.Kidung yang 20 tahun lalu selalu dinyanyikan ibu buatku.

"Nina bobok,oh nina bobok"
"kalo tidak bobok digigit nyamuk"

Tetap ada asa dalam pilihanku agar suatu saat yang aku tak tahu kapan,aku dan keluarga kecilku bisa bersatu padu dengan ayah,ibu,dan kakakku.I MISS U ALL.

Senin, 16 Mei 2011

"MEREKA"

Kelam,ungu membiru lorong itu,jadi sahabat paling berharga sepanjang sejarah jalanku menapaki bangunan batu bata tua ini.Tak ada yang berarti,selain gelap dan gerah.Tapi,justru itu istimewanya.Lewat itu,aku bertemu dengan  sahabat-sahabatku.Dina,Lia,Devy,Siti,dan Bagus,itulah mereka.Sesederhana perkenalan itu yang membawa kami menjalani persahabatan ini.Suka,duka,aib,keluh,kesah,semua mewarnai perjalanan cerita inih.

Dampak perubahan pun sedikit demi sedikit mulai menggerogoti kehidupanku.Perlahan namun pasti,aku terpengaruh.Mulai dari perubahan style sampai segala sesuatunya.Dan karena mereka pula,aku tersadar bahwa jadi sesuatu yang sudah dari "sononya" itu lebih indah dan bermanfaat.Mereka membuatku menyadari segala sesuatunya jadi lebih berarti,dan bahkan aku menyesal,kenapa baru aku sadar sekarang??

"Wanita" itulah makhluk yang membuat dunia ini jadi berwarna.Yang hitam jadi putih dan yang layu jadi mekar.Menjadi wanita seutuhnya,itulah hal yang jadi planning aku sekarang ini.Segala atribut ketomboian,mulai ku copot satu per satu.Belum bisa diinggalkan semuanya sebenernya.Tapi,aku akan berusaha.Aku suka perubahan ini,karena memang baik adanya.Itu pula berkat mereka,para supporter terbesar dalam hidup aku,yaitu sahabatku.

Untuk mereka,jangan sungkan dan ragu-ragu lagi buat permak aku.Kenalkan aku dengan bedak,lipstik,eyeliner,maskara dan sebagainya.Terima kasih karena bersahabat dengan kalian membawa sesuatu yang besar dalam hidup aku.

Pengen aku ceritakan juga,bahwa karena mereka aku tahu bagaimana rasanya pahit dan manis dalam dunia yang namanya cinta.Cinta keluarga,cinta sahabat,dan pula cinta kekasih.Cinta ibarat granulla coklat dalam sebuah ice cream.Lama kelamaan akan tenggelam dalam manisnya lautan tebu gula.Lewat mereka,lagi-lagi aku menyadari betapa berkobarnya hidup ini dengan cinta.Mari,sahabat kita berdoa agar cinta selalu bersama kita dan tak akan menyakiti kita.

Buat Nhaz,Dina.dan Lia....."Berusaha tetep dan Usaha harus" cari cinta itu dan raihlah...
Jatuh,air mata,dan terluka hanya sekelumit aral kecil yang tersa indah saat kita dapat meraih sesuatu dengan segala usaha keras yang telah kita lakukan.
#hahahaha....ojo nangis ya cah moco iki...^^

Selasa, 10 Mei 2011

On Analisis vektor

Mata kuliah ini bertujuan mengembangkan kemampuan mahasiswa dalam memahami konsep dasar analisis vektor serta mampu untuk bereksperimen dan mengimplementasikan teorema dalam menyelesaikan masalah. Lingkup Bahasannya meliputi: vektor dan skalar; hasil kali vektor dan skalar; diferensiasi vektor; gradien, devergen, dan curl; integrasi vektor; teorema divergensi, teorema stokes, dan teorema integrasi yang lain; koordinat kurvilinear; serta tensor.

Vektor dalam fisika adalah besaran yang mempunyai besar dan arah,sedangkan skalar adalah besaran yang hanya memiliki arah saja.Contoh vektor adalah kecepatan,momentum,percepatan.Contoh skalar adalah gaya,luas,volume.

Sedangkan vektor dalam matematika biasanya disimbolkan dengan ruas garis berarah.Biasa ditulis dengan huruf besar yang disertai garis diatasnya atau dengan Alphabet yang dicetak tebal.

Istilah dalam vektor :
-Vektor Nol adalah vektor yang besarnya nol dan arahnya tak tentu (titik pangkal dan terminal berimpit)
-Kesamaan dua vektor,jika ada dua vektor yang mempunyai besar dan arah yang sama tanpa memperhatikan kedudukan titiak pangkal dan titik terminalnya.
-Kesejajaran dua vektor,jika ada dua vektor yang titik awalnya terletak pada letak yang sama.Besarnya bisa negaif atau positif.

(secuil hasil mesin ketik otak di tengah malam)
#masih kurang banyak materi yang belum masuk ^^