GUE
BUKAN EKOR, TAPI SAYAP !!!
Sebuah
teorema menyatakan bahwa Januari adalah hujan setiap hari. Setelah dilakukan
pembuktian secara deduktif bahwa hal itu terbukti benar adanya. Terhitung sampe
per 15 Januari 2013, gue telah melinting celana panjang gue sebanyak 15 kali
akibat kerusuhan berkampanyenya air got yang lagi pada berjubel di jalanan.
Eiittttss, jangan salah bukan hanya makhluk yang bernama manusia saja yang bisa
menyalurkan aspirasinya sebagai warga negara yang tinggal di negara demokrasi,
air sebagai benda mati pun tidak mau kalah menyalurkan aspirasinya. Akibatnya
banjir meluap dimana-mana. Termasuk di kampus gue tercinta ini. Basah sudah
pasti, kotor apalagi, dan dingin pelengkap derita si korban banjir. Parahnya
lagi skripsi menjadi target operasi banjir tuk kesekian kali.
“Haasshh......ngeselin!!!”
gerutu gue sambil ngerapiin lembaran kertas skripsi yang sudah tidak tertata
rapi yang gue jepit diantara celah ketek dan tangan gue.
“Ouwh,,,beginilah
skripsi penderitaannya tiada akhir,” masih nada-nada suara kesal yang keluar
dari mulut gue.
“Beginilah
cinta yang penderitaannya tiada akhir bukan skripsi, nona manis,” celetuk
seseorang sambil merapikan lipatan jas hujannya.
“Eehh
iya dinkz, nggak apalah nyrempet-nyrempet dikit,” balas gue sambil melemparkan
pandangan ke arah suara seseorang yang suaranya menyapa gendang telinga gue.
“Elu,”
lanjut gue.
“Biasa
aja kali ekspresi muka elu, nggak perlu sampe seterpesona itu,” terdengar joke
khas dari seseorang itu. Seseorang yang mampu mematikan aliran urat syaraf
hidup gue dan membiusnya, sampe semua terasa kaku dengan mantra-mantra
cintanya.
“Apaan
sich elu, kan gue jadi malu kalau sudah ketahuan kayak begini,” begonya gue
keluar dech. Selalu nggak bisa nutupi perasaan hati gue di depan orang yang gue
sayangi dengan segenap jiwa dan raga gue, dengan seluruh tumpah darah dan
bangsa gue yaitu, Indonesia. Aaahh apaan sich gue jadi kaga nyambung begini,
dasar Ines-Ines (sambil cengar-cengir).
“Aahh
makhluk aneh,” balas dia sambil nyabut skripsi dari jepitan ketek dan tangan
gue lalu membawanya pergi begitu saja.
Ya,
itulah dia Rama. Teman satu angkatan sama gue, satu jurusan sama gue, satu dosen
pembimbing skripsi sama gue, dan striker bola di tim jurusan gue. Bukan di tim
jurusan gue dinks tapi jurusan cinta di hati gue makanya nendang-nendang mulu
di hati gue sampai.....sampai....sampai periode waktu yang tak pernah tahu.
Bahkan kalau boleh diistilahin dalam bahasa persepakbolaan mungkin bola asmara
gue ke dia tak akan pernah mencapai gawang dan bersorak goal. Tapi bola asmara
itu akan tetap membumbung tinggi dengan segala ketulusan cintanya.
“Aahh....elu
bengong lagi.....mandangin gue lagi. Pajangin aja sekalian gue di rumah elu,” dasar
si Rama selalu ngagetin gue di saat gue lagi asik-asiknya berimajinasi tentang
dia.
“Pajangin
di hati gue aja,” balas gue ngasal
sambil natap matanya nanar.
“Kesambet
apaan sich elu. Jadi ngeri nech gue sama elu,hahaha.”
“Ram,
boleh kan gue selalu ada buat elu,” lanjut gue lagi.
“Emang
itukan yang elu kerjain setiap hari. Ngekorin gue kemana-mana,” jawab Rama
masih dengan joke khasnya.
“Karena
itulah hal yang bisa gue lakuin buat elu,” bak tertarik magnet bola matanya,
mata gue masih lekat menatap ke arahnya.
“Gue
sayang sama elu, Ram. Jeeddeerr !!!!” rongrongan suara gue beradu dengan suara
aliran listrik petir yang lagi konser di langit. Rama tercengang kaget. Sorotan
matanya membalas memandang tajam ke arah gue.
“Masyaallah,,,
ultrasonic banget petir barusan!! Jantung gue sampai mau copot ini,” kata Rama
sambil mengelus dadanya.
Kata-kata
Rama barusan malah jadi petir keras yang menghantam dada gue. Dikirain kaget
karena gue nembak dia, eh malah ternyata kaget karena petir. Yaahhhh....kecewa L
“Sini
gue bantuin ngelus-ngelus, tapi bayar ini ya,” karena takut tengsin yang lebih
parah lagi, gue alihin saja pembicaraannya dan............... Rama memegang
tangan gue hangat.
“Nes,
ada banyak orang yang lebih pantas buat elu daripada gue.”
“Ram....”
“Gue
tahu Nes elu suka sama gue. Bahkan jauh sebelum elu jujur barusan, gue sudah tahu.
Kalau elu saja bisa jujur sama gue, berarti gue juga harus jujur sama elu,”
kata-kata Rama kali ini terdengar serius daripada biasanya. Hati gue jadi nggak
karuan dibuatnya. Nggantung. Antara mau seneng atau mau sedih.
“Jauhin
gue Nes,” jelas, padat, dan tegas bersarang di telinga gue.
“Gue
bukan orang baik buat elu, masih banyak orang diluar sana yang jauh lebih baik
daripada gue. Gue nggak mau elu tersiksa setiap kali elu berada pada radius
yang sangat dekat dengan gue,” Rama mencoba memberi penjelasan.
“Cinta
gue simpel kok, Ram. Saat hati gue telah memilih dan mencintai hati seseorang,
ya itulah cinta buat gue. Gue nggak minta elu membalas cinta gue, gue hanya
pengen selalu ada buat elu, sudah itu saja kok Ram.”
“Tapi
Nes, hati gue bukan buat elu.”
“Ram,
ijinin gue selalu ada buat elu sampai elu ngedapetin seseorang yang bisa ngisi
hati elu. Saat elu sudah menemukan orang itu baru gue akan pergi dari hidup
elu.
“Nes...”
“Karena
kebahagian cinta buat gue adalah saat gue bisa terus berjuang buat cinta gue
sampai gue menyerah dan kalah. Karena berani berjuang adalah tidak takut kalah.
“Ayoo
Nes bimbingan skripsi dulu,” begitulah gue mengakhiri masalah percakapan urusan
hati ini dengan Rama. Dapat diambil kesimpulan Rama memberikan lampu hijau buat
perjuangan cinta gue. Cinta gue tetap sama. Cinta yang simpel. Gue tidak akan
pernah merubah hati Rama untuk berubah mencintai gue, gue hanya mencintai sosok
seorang Rama sampai kapan pun walau pada akhirnya Rama tidak akan pernah
memberikan hatinya buat gue. Gue akan berjuang mencintai Rama sampai gue kalah.
***
Apa
yang gue lakuin ke Rama tidak berubah masih sama seperti biasanya. Tidak salah
kalau Rama bilang bahwa gue adalah ekornya. Orang pasti ngira kalau gue adalah
ceweknya. Tapi kalau sekarang kenyataannya ada dua cewek yang ada bersama Rama,
apakah orang masih mengira demikian?? Ya, saat ini gue lagi nemenin Rama
kencan. Sesuatu yang mungkin jarang sekali dilakukan oleh sebagian cewek waras
yang lagi kasmaran pada pasangannya.
"Ram,
gue cabut dulu ya. Langsung ketemu diruang dosen aja ntar,” setelah sekian
lamanya gue nemenin Rama kencan di kampus dengan gebetannnya akhirnya gue pergi
juga. Ketidakwarasan akal gue sontak sembuh mendadak setelah merasakan sakit
tak terkira di relung hati. Setegar-tegarnya gue di hadapan Rama ternyata hati
gue rapuh juga. Sakit saat melihat Rama bersama cewek lain.
Gue
pergi gue menangis saat itu. Perjuangan gue rasanya di ujung tanduk. Seakan
lupa dengan semboyan gue bahwa cinta itu simpel, cinta itu hanya mencintai
seseorang tanpa sedikit pun mengharapkan balasannya. Tapi, ternyata sakit.
“Dasar
gue bodoh mana ada cinta seperti itu?” buliran bening airmata itu ikut
berkampanye di sudut mata gue. Ya gue menangis. Kamar mandi dekat ruang dosen
itu mungkin yang akan menjadi saksi detik-detik runtuhnya dinding pertahanan
gue.
“Sakit
kan?” tiba-tiba suara Rama mengagetkan gue.
“Ram....,”
gue hanya bisa menangis di pelukan Rama.
“Maafin
gue Nes karena gue nggak bisa balas cinta elu,” yang terdengar hanya
sesenggukan dari rongrongan pita suara gue.
“Yawdalah
Ram, ini uda konsekuensi gue. Bimbingan skripsi sekarang yuukk. Lagi-lagi
skripsi yang jadi penengah carut marutnya perasaan gue bersama Rama.
Hati
gue lagi mengibarkan bendera setengah tiang. Hari ini tidak ada semangat tidak
juga terdengar joke khas Rama. Hati benar-benar berada dalam keadaan siaga 1.
Tak lama berselang urusan hati belum kelar, skripsi ikut memicu mood rusak
seharian. Revisi. Padahal deadline skripsi harus kelar seminggu lagi. Sumpah
gila gue. Tanpa pamit gue langsung nyelenong pergi ninggalin Rama. Nenangin
diri di rumah, absent jadi ekor Rama.
Air
adalah satu-satunya pelarian terbaik buat ngusir stress kali ini. Setibanya di
rumah gue langsung mengguyur tubuh gue dengan segala elemen kesegaran air.
Terbukti otak gue kembali fresh dan gue bisa berpikir jernih kembali. Ya
walopun rasa sakit di hati masih terus membekas lara mengeluarkan darah
kekalahan.
“Cinta
itu simpel.......Cinta itu simpel.....Cinta itu simpel....aaarrgghhh Cinta
nggak ada yang simpel dan cinta itu ribet. Gue kalah. END.
***
Menyerah
mungkin sebuah kata yang pas mewakili perasaan hati gue saat ini. Mungkin juga
jadi ekor Rama adalah rutinitas harian gue, makanya ketika bendera setengah
tiang sudah berkibar tetep saja gue nggak bisa jauh dari Rama. Urusan hati lama
kelarnya.
“Nes
sumpah deh, beneran gue sudah nggak tega nyiksa hati elu lagi. Plis Nes, jangan
seperti ini. Hati gue juga sakit lagi ngliat elu kayak begini. Elu punya
kehidupan sendiri dan gue juga punya kehidupan sendiri. Plis Nes, hentikan
kebiasaan elu ini ya,” itulah prolog dari Rama yang mengawali pertemuan gue
sama Rama di siang itu.
“Bener
kata elu Ram. Tapi ijinkan sekali ini saja gue ngekorin elu habis ini gue janji
nggak bakal ngekorin elu lagi.
“Gue
hari ini mau ketemuan lagi sama gebetan gue, beneran elu nggak apa-apa masih
ngekorin gue?”
“Ng....ng....nggak
apa-apa kok,” dengan berat hati gue menjawabnya.
“Berat
banget jawaban elu kayak ada batu 100 ton saja. Ya sudah ayooo...!!
Itung-itung
ini adalah hari terakhir gue jadi ekornya si Rama, dengan segala bentuk
peperangan yang sedang terjadi di hati gue, terpaksa gue harus ikhlas ngliatin
Rama bersama gebetannya di depan mata gue.
“JLEB.
SAKIT.
“Raaammmm.......Sakit!!!!”
wajah Rama tampak melas memandang wajah gue yang sudah kayak baju yang nggak
disetrika satu tahun. Kisut banget.
“Sebenarnya
gue sudah nyerah Ram dari kemarin. Tapi hari ini terpaksa gue ngekorin elu lagi
soalnya gue mau ngambil flashdisk skripsi gue yang ada di elu,” jelas gue
dengan segala gundah gulana yang menerpa.
“Flashdisk
ini maksud elu?” tunjuk Rama pada flashdisk yang lagi nancep di komputer
lipatnya alias laptop.
“He`ehm,”
jawab gue sambil ngangguk ringan.
“Nech,”
kata Rama sambil menyodorkan flashdisk dan laptopnya.
Mata
ini terperangah tak percaya saat gue melihat semua video pengekoran gue bersama
Rama. Antara lucu, kasihan, sakit hati, dan beratnya sebuah perjuangan. Gue
jadi bingung antara mau nangis apa tertawa.
“Semua
video itu sudah gue masukin di flasdisk elu. Jadi kalau elu pengen ngekorin gue
lagi jadi gampang . Elu tinggal lihat saja video itu. Karena gue sekarang sudah
nemuin ini Nes,” kata Rama sambil memegang tangan cewek yang digebetnya selama
ini. Langsung saja pecah tangisan dari mata gue. Artinya perjuangan cinta gue
bener-bener berakhir saat ini.
Tak
ada ucapan salam perpisahan atau ucapan selamat, gue langsung dengan segera
ambil langkah seribu ninggalin Rama. Ternyata cinta memang nggak ada yang
simpel dan cinta itu sakit saat tidak bisa memiliki hati orang yang kita
cintai.
“Aaarrgghhhhh.......,”
gue menjerit keras. Menjerit sekeras-kerasnya.
“Beeuhh,
apaan ini bau banget. Habis makan jengkol berapa kilo elu?” mulai terdengar
joke khas ala Rama ditengah hancurnya hati gue.
“Rama....!!!!”
“Makanya
kalau ada orang ngomong dengerin dulu, maen nyelenong pergi saja.
“Video
itu buat kenang-kenangan elu saat masih jadi ekor gue, tapi sekarang si ekor
itu telah berubah jadi sayap di hati gue. Semua karena ini, karena cewek
fotografer handal ini yang mengabadikan perjalanan cinta ekor yang berubah jadi
sayap,” kata-kata Rama barusan berubah menjadi oase ditengah kegersangan hati
gue yang tengah terluka olehnya.
“Jadi?”
“Jadi
dia ada selama ini memang buat kita. Buat mengabadikan cinta si ekor yang
berubah jadi sayap.
“Rama.....I
love you. Gue bukan ekor tapi gue adalah sayap. Lalayeye...”
“Dasar
norak, hahahaha....,”dengan gemas Rama ngacakin rambut gue dan saat itulah gue
bisa bilang bahwa “Benar cinta itu nggak simpel tapi ribet”.
***
