Selasa, 26 Februari 2013

GUE BUKAN EKOR, TAPI SAYAP !!!

-->
GUE BUKAN EKOR, TAPI SAYAP !!!
Sebuah teorema menyatakan bahwa Januari adalah hujan setiap hari. Setelah dilakukan pembuktian secara deduktif bahwa hal itu terbukti benar adanya. Terhitung sampe per 15 Januari 2013, gue telah melinting celana panjang gue sebanyak 15 kali akibat kerusuhan berkampanyenya air got yang lagi pada berjubel di jalanan. Eiittttss, jangan salah bukan hanya makhluk yang bernama manusia saja yang bisa menyalurkan aspirasinya sebagai warga negara yang tinggal di negara demokrasi, air sebagai benda mati pun tidak mau kalah menyalurkan aspirasinya. Akibatnya banjir meluap dimana-mana. Termasuk di kampus gue tercinta ini. Basah sudah pasti, kotor apalagi, dan dingin pelengkap derita si korban banjir. Parahnya lagi skripsi menjadi target operasi banjir tuk kesekian kali.
“Haasshh......ngeselin!!!” gerutu gue sambil ngerapiin lembaran kertas skripsi yang sudah tidak tertata rapi yang gue jepit diantara celah ketek dan tangan gue.
“Ouwh,,,beginilah skripsi penderitaannya tiada akhir,” masih nada-nada suara kesal yang keluar dari mulut gue.
“Beginilah cinta yang penderitaannya tiada akhir bukan skripsi, nona manis,” celetuk seseorang sambil merapikan lipatan jas hujannya.
“Eehh iya dinkz, nggak apalah nyrempet-nyrempet dikit,” balas gue sambil melemparkan pandangan ke arah suara seseorang yang suaranya menyapa gendang telinga gue.
“Elu,” lanjut gue.
“Biasa aja kali ekspresi muka elu, nggak perlu sampe seterpesona itu,” terdengar joke khas dari seseorang itu. Seseorang yang mampu mematikan aliran urat syaraf hidup gue dan membiusnya, sampe semua terasa kaku dengan mantra-mantra cintanya.
“Apaan sich elu, kan gue jadi malu kalau sudah ketahuan kayak begini,” begonya gue keluar dech. Selalu nggak bisa nutupi perasaan hati gue di depan orang yang gue sayangi dengan segenap jiwa dan raga gue, dengan seluruh tumpah darah dan bangsa gue yaitu, Indonesia. Aaahh apaan sich gue jadi kaga nyambung begini, dasar Ines-Ines (sambil cengar-cengir).
“Aahh makhluk aneh,” balas dia sambil nyabut skripsi dari jepitan ketek dan tangan gue lalu membawanya pergi begitu saja.
Ya, itulah dia Rama. Teman satu angkatan sama gue, satu jurusan sama gue, satu dosen pembimbing skripsi sama gue, dan striker bola di tim jurusan gue. Bukan di tim jurusan gue dinks tapi jurusan cinta di hati gue makanya nendang-nendang mulu di hati gue sampai.....sampai....sampai periode waktu yang tak pernah tahu. Bahkan kalau boleh diistilahin dalam bahasa persepakbolaan mungkin bola asmara gue ke dia tak akan pernah mencapai gawang dan bersorak goal. Tapi bola asmara itu akan tetap membumbung tinggi dengan segala ketulusan cintanya.
“Aahh....elu bengong lagi.....mandangin gue lagi. Pajangin aja sekalian gue di rumah elu,” dasar si Rama selalu ngagetin gue di saat gue lagi asik-asiknya berimajinasi tentang dia.
“Pajangin di hati gue aja,”  balas gue ngasal sambil natap matanya nanar.
“Kesambet apaan sich elu. Jadi ngeri nech gue sama elu,hahaha.”
“Ram, boleh kan gue selalu ada buat elu,” lanjut gue lagi.
“Emang itukan yang elu kerjain setiap hari. Ngekorin gue kemana-mana,” jawab Rama masih dengan joke khasnya.
“Karena itulah hal yang bisa gue lakuin buat elu,” bak tertarik magnet bola matanya, mata gue masih lekat menatap ke arahnya.
“Gue sayang sama elu, Ram. Jeeddeerr !!!!” rongrongan suara gue beradu dengan suara aliran listrik petir yang lagi konser di langit. Rama tercengang kaget. Sorotan matanya membalas memandang tajam ke arah gue.
“Masyaallah,,, ultrasonic banget petir barusan!! Jantung gue sampai mau copot ini,” kata Rama sambil mengelus dadanya.
Kata-kata Rama barusan malah jadi petir keras yang menghantam dada gue. Dikirain kaget karena gue nembak dia, eh malah ternyata kaget karena petir. Yaahhhh....kecewa L
“Sini gue bantuin ngelus-ngelus, tapi bayar ini ya,” karena takut tengsin yang lebih parah lagi, gue alihin saja pembicaraannya dan............... Rama memegang tangan gue hangat.
“Nes, ada banyak orang yang lebih pantas buat elu daripada gue.”
“Ram....”
“Gue tahu Nes elu suka sama gue. Bahkan jauh sebelum elu jujur barusan, gue sudah tahu. Kalau elu saja bisa jujur sama gue, berarti gue juga harus jujur sama elu,” kata-kata Rama kali ini terdengar serius daripada biasanya. Hati gue jadi nggak karuan dibuatnya. Nggantung. Antara mau seneng atau mau sedih.
“Jauhin gue Nes,” jelas, padat, dan tegas bersarang di telinga gue.
“Gue bukan orang baik buat elu, masih banyak orang diluar sana yang jauh lebih baik daripada gue. Gue nggak mau elu tersiksa setiap kali elu berada pada radius yang sangat dekat dengan gue,” Rama mencoba memberi penjelasan.
“Cinta gue simpel kok, Ram. Saat hati gue telah memilih dan mencintai hati seseorang, ya itulah cinta buat gue. Gue nggak minta elu membalas cinta gue, gue hanya pengen selalu ada buat elu, sudah itu saja kok Ram.”
“Tapi Nes, hati gue bukan buat elu.”
“Ram, ijinin gue selalu ada buat elu sampai elu ngedapetin seseorang yang bisa ngisi hati elu. Saat elu sudah menemukan orang itu baru gue akan pergi dari hidup elu.
“Nes...”
“Karena kebahagian cinta buat gue adalah saat gue bisa terus berjuang buat cinta gue sampai gue menyerah dan kalah. Karena berani berjuang adalah tidak takut kalah.
“Ayoo Nes bimbingan skripsi dulu,” begitulah gue mengakhiri masalah percakapan urusan hati ini dengan Rama. Dapat diambil kesimpulan Rama memberikan lampu hijau buat perjuangan cinta gue. Cinta gue tetap sama. Cinta yang simpel. Gue tidak akan pernah merubah hati Rama untuk berubah mencintai gue, gue hanya mencintai sosok seorang Rama sampai kapan pun walau pada akhirnya Rama tidak akan pernah memberikan hatinya buat gue. Gue akan berjuang mencintai Rama sampai gue kalah.
***
Apa yang gue lakuin ke Rama tidak berubah masih sama seperti biasanya. Tidak salah kalau Rama bilang bahwa gue adalah ekornya. Orang pasti ngira kalau gue adalah ceweknya. Tapi kalau sekarang kenyataannya ada dua cewek yang ada bersama Rama, apakah orang masih mengira demikian?? Ya, saat ini gue lagi nemenin Rama kencan. Sesuatu yang mungkin jarang sekali dilakukan oleh sebagian cewek waras yang lagi kasmaran pada pasangannya.
"Ram, gue cabut dulu ya. Langsung ketemu diruang dosen aja ntar,” setelah sekian lamanya gue nemenin Rama kencan di kampus dengan gebetannnya akhirnya gue pergi juga. Ketidakwarasan akal gue sontak sembuh mendadak setelah merasakan sakit tak terkira di relung hati. Setegar-tegarnya gue di hadapan Rama ternyata hati gue rapuh juga. Sakit saat melihat Rama bersama cewek lain.
Gue pergi gue menangis saat itu. Perjuangan gue rasanya di ujung tanduk. Seakan lupa dengan semboyan gue bahwa cinta itu simpel, cinta itu hanya mencintai seseorang tanpa sedikit pun mengharapkan balasannya. Tapi, ternyata sakit.
“Dasar gue bodoh mana ada cinta seperti itu?” buliran bening airmata itu ikut berkampanye di sudut mata gue. Ya gue menangis. Kamar mandi dekat ruang dosen itu mungkin yang akan menjadi saksi detik-detik runtuhnya dinding pertahanan gue.
“Sakit kan?” tiba-tiba suara Rama mengagetkan gue.
“Ram....,” gue hanya bisa menangis di pelukan Rama.
“Maafin gue Nes karena gue nggak bisa balas cinta elu,” yang terdengar hanya sesenggukan dari rongrongan pita suara gue.
“Yawdalah Ram, ini uda konsekuensi gue. Bimbingan skripsi sekarang yuukk. Lagi-lagi skripsi yang jadi penengah carut marutnya perasaan gue bersama Rama.
Hati gue lagi mengibarkan bendera setengah tiang. Hari ini tidak ada semangat tidak juga terdengar joke khas Rama. Hati benar-benar berada dalam keadaan siaga 1. Tak lama berselang urusan hati belum kelar, skripsi ikut memicu mood rusak seharian. Revisi. Padahal deadline skripsi harus kelar seminggu lagi. Sumpah gila gue. Tanpa pamit gue langsung nyelenong pergi ninggalin Rama. Nenangin diri di rumah, absent jadi ekor Rama.
Air adalah satu-satunya pelarian terbaik buat ngusir stress kali ini. Setibanya di rumah gue langsung mengguyur tubuh gue dengan segala elemen kesegaran air. Terbukti otak gue kembali fresh dan gue bisa berpikir jernih kembali. Ya walopun rasa sakit di hati masih terus membekas lara mengeluarkan darah kekalahan.
“Cinta itu simpel.......Cinta itu simpel.....Cinta itu simpel....aaarrgghhh Cinta nggak ada yang simpel dan cinta itu ribet. Gue kalah. END.
***
Menyerah mungkin sebuah kata yang pas mewakili perasaan hati gue saat ini. Mungkin juga jadi ekor Rama adalah rutinitas harian gue, makanya ketika bendera setengah tiang sudah berkibar tetep saja gue nggak bisa jauh dari Rama. Urusan hati lama kelarnya.
“Nes sumpah deh, beneran gue sudah nggak tega nyiksa hati elu lagi. Plis Nes, jangan seperti ini. Hati gue juga sakit lagi ngliat elu kayak begini. Elu punya kehidupan sendiri dan gue juga punya kehidupan sendiri. Plis Nes, hentikan kebiasaan elu ini ya,” itulah prolog dari Rama yang mengawali pertemuan gue sama Rama di siang itu.
“Bener kata elu Ram. Tapi ijinkan sekali ini saja gue ngekorin elu habis ini gue janji nggak bakal ngekorin elu lagi.
“Gue hari ini mau ketemuan lagi sama gebetan gue, beneran elu nggak apa-apa masih ngekorin gue?”
“Ng....ng....nggak apa-apa kok,” dengan berat hati gue menjawabnya.
“Berat banget jawaban elu kayak ada batu 100 ton saja. Ya sudah ayooo...!!
Itung-itung ini adalah hari terakhir gue jadi ekornya si Rama, dengan segala bentuk peperangan yang sedang terjadi di hati gue, terpaksa gue harus ikhlas ngliatin Rama bersama gebetannya di depan mata gue.
“JLEB. SAKIT.
“Raaammmm.......Sakit!!!!” wajah Rama tampak melas memandang wajah gue yang sudah kayak baju yang nggak disetrika satu tahun. Kisut banget.
“Sebenarnya gue sudah nyerah Ram dari kemarin. Tapi hari ini terpaksa gue ngekorin elu lagi soalnya gue mau ngambil flashdisk skripsi gue yang ada di elu,” jelas gue dengan segala gundah gulana yang menerpa.
“Flashdisk ini maksud elu?” tunjuk Rama pada flashdisk yang lagi nancep di komputer lipatnya alias laptop.
“He`ehm,” jawab gue sambil ngangguk ringan.
“Nech,” kata Rama sambil menyodorkan flashdisk dan laptopnya.
Mata ini terperangah tak percaya saat gue melihat semua video pengekoran gue bersama Rama. Antara lucu, kasihan, sakit hati, dan beratnya sebuah perjuangan. Gue jadi bingung antara mau nangis apa tertawa.
“Semua video itu sudah gue masukin di flasdisk elu. Jadi kalau elu pengen ngekorin gue lagi jadi gampang . Elu tinggal lihat saja video itu. Karena gue sekarang sudah nemuin ini Nes,” kata Rama sambil memegang tangan cewek yang digebetnya selama ini. Langsung saja pecah tangisan dari mata gue. Artinya perjuangan cinta gue bener-bener berakhir saat ini.
Tak ada ucapan salam perpisahan atau ucapan selamat, gue langsung dengan segera ambil langkah seribu ninggalin Rama. Ternyata cinta memang nggak ada yang simpel dan cinta itu sakit saat tidak bisa memiliki hati orang yang kita cintai.
“Aaarrgghhhhh.......,” gue menjerit keras. Menjerit sekeras-kerasnya.
“Beeuhh, apaan ini bau banget. Habis makan jengkol berapa kilo elu?” mulai terdengar joke khas ala Rama ditengah hancurnya hati gue.
“Rama....!!!!”
“Makanya kalau ada orang ngomong dengerin dulu, maen nyelenong pergi saja.
“Video itu buat kenang-kenangan elu saat masih jadi ekor gue, tapi sekarang si ekor itu telah berubah jadi sayap di hati gue. Semua karena ini, karena cewek fotografer handal ini yang mengabadikan perjalanan cinta ekor yang berubah jadi sayap,” kata-kata Rama barusan berubah menjadi oase ditengah kegersangan hati gue yang tengah terluka olehnya.
“Jadi?”
“Jadi dia ada selama ini memang buat kita. Buat mengabadikan cinta si ekor yang berubah jadi sayap.
“Rama.....I love you. Gue bukan ekor tapi gue adalah sayap. Lalayeye...”
“Dasar norak, hahahaha....,”dengan gemas Rama ngacakin rambut gue dan saat itulah gue bisa bilang bahwa “Benar cinta itu nggak simpel tapi ribet”.
***