Kamis, 13 Juni 2013

Si Pemilik Senyum

Pertarungan selama satu minggu itu bengis rasanya. Biasanya satu minggu yang berlalu begitu saja jadi menahun serasa berjalan. Berjuang di tengah padang tandus yang liar. Merangkak, terjatuh sampai hampir mati karenanya. Lalu seminggu itu terjawab sudah. Bibir rasanya kelu. Aku tak mampu menjelaskan kronologi pertarunganku dengan waktu yang namanya seminggu. Aku masih membisu dalam balutan waktu. Terduduk tanpa rangka dan menangis tanpa air mata. Aku masih mau menoleh ke belakang. Tapi gelap tak berdian menjadi umbra. Lalu aku tersenyum kecut sambil meremas tanah meninggalkan goresan luka.

"Fighting Pemilik Senyumku!!!" aku kenal suara itu bahkan aku pernah sangat bersahabat dengan suara itu. Lalu dengan malas aku menoleh ke arahnya. Seperti biasa, aku selalu mengumbar senyum ke arahnya. Yah, walopun hanya tersirat saja.

"Jelek ," koarnya lagi menjejal telinga. Masih sama, aku lagi-lagi hanya tersenyum ke arahnya.
Lalu tatapannya tajam membunuhku. Siapa takut? Aku pun tak mau kalah menyerangnya dengan tatapan mataku.

"Aku tahu ini sulit, tapi aku yakin kamu pasti bisa. Si Pemilik Senyumku tidak pernah menangis dan dia bukan tipe orang yang suka menyerah. Tak ada yang mudah tapi tidak ada yang tidak mungkin,"itu kata terakhir diantara tatapan mata kami yang beradu pilu. Seperti katanya, sekuat hati aku menahan air mata yang mau pecah keluar. Senyuman yang aku paksakan rasanya sebagai karang pemecah gelombang di tepian pantai yang luas terhampar.

Tatapan mata berakhir. Kini aku hanya mampu memandangi punggung yang  terlihat samar dan pada akhirnya menghilang. Bahkan sampai pada detik terakhir aku bisa memilikinya senyum itu masih tersungging di bibir yang kaku dan kelu.

"Yaahhh, , , , aku harus melepasnya walopun aku masih sangat menyayanginya. Senyum itu menguap dan berganti menjadi airmata. Si pemilik senyum itu menangis. Si pemilik senyum itu mengganti senyumannya dengan airmata. Kronologi peperanganku dengan waktu yang namanya seminggu terjawab sudah. Aku kalah dan aku tak mampu bertahan.