Jumat, 25 Maret 2011

"GENDHING"

Reaktan partikel-partikel uap air dan amoniak telah menemukan chemistry-nya.Lewat intaian barometer,mereka berperang dan akhirnya sama-sama jatuh ke tanah menjadi hujan.Hujan dengan gendhing kerinduan.Rindu pada sosok sederhana yang selalu berjibaku dalam diam,bergulat dengan asa,dan berpacu dalam gelap.Dialah,murid sekaligus motivatorku.Gendhing,namanya.

Hari ini,tak tampak Gendhing menyedapkan bola mataku.Biasanya,Gendhing adalah orang pertama yang mengisi ruang kelasku.Duduk paling depan,dan sudah siap dengan pena yang akan menari lewat sela jari tangannya.Berhias pula dengan simpul senyum kecil yang tersungging di sudut bibirnya.Dan terakhir,dia akan memberikan secarik kertas berwarna hijau,dengan coretan yang teramat sederhana,yaitu "Guruku".

"Hyah,hanya coretan itu yangs elalu dan tak pernah lupa dia berikan padaku."Terlihat sangat sederhana,tapi berjuta makna buatku."
"Bu,benarkah hari ini hari terakhir ibu ngajar disini?"celetuk salah satu muridku,yang berhasil mengusir semua lamunanku.
"Tak ada hari terakhir buat ibi untuk ngajar disini.Jadi,suatu saat ibu akan kembali disini,dan bertemu dengan kalian lagi.Doakan,saat ibu kembali disini,ibu sudah menjadi guru sejati,bukan seorang mahasiswa yang hanya praktek jadi guru,OK!"aku berkoar penuh semangat,mencoba menyamarkan gundah yang terus berontak.
"Kami akan selalu merindukan ibu guru.Selalu.Termasuk Gendhing,"mereka merespon omonganku.
"Sungguh,secuil pengalaman ini telah menggoreskan luka terindah di hatiku.

Dentuman jam bagai godam munkar nakir,pertanda awal perpisahanku dengan sekolah dan kota ini.Tapi,kaki ini enggan melangkah pergi.Gaya tarik magnetik Gendhing,memaksaku tetap berdiri mematung disini.Aku menunggu Gendhing memberikan coretan itu lagi atau bahkan bukan coretan itu lagi yang akan dia berikan,melainkan teriakan lantang dengan syair "Guruku" lewat mistik suaranya.Kenapa mistik?karena tak pernah sekalipun aku mendengar dia berucap.

Masih dalam benteng pertahananku,kucoba melemparkan pandangan menjajaki semua penjuru sekolah.Kali-kali aja,tiba-tiba Gendhing menyeruak diantara gundhul-gundhul muridku yang lain.Tapi,sekali lagi hasilnya nihil.Hingga,aku benar-benar harus mengucapkan salam perpisahan.

Gagang pintu mobil kubuka perlahan.Persneleng gas pun dinyalakan,as roda mobil sedikit demi sedikit bergerak maju,selaras dengan setiap tarikan yang diberikan.
"Selamat tinggal semua,dan selamat tinggal Gendhing.Gurumu ini,akan selalu menginmgatmu,"batinku sambil memandangi dua puluh lembar kertas berwarna hijau yang bertuliskan "Guruku".

Disela lamunku,tiba-tiba mobil berhenti karena dikejutkan dengan mobil berwarna silver yang tiba-tiba memotong jalan,menghadang mobilku.
Si empu mobil penghadang,menunjukkan batang hidungnya.Betapa,terkejutnya aku saat melihat bocah belasan tahun pencuri hatiku.Gendhing.Puzzle hati yang sempat terbongkar cacah,kini tertutup sempurna lagi.Aku bungah melihat kehadiran Gendhing.

Tapi,pemandangan lain datang dari sosok sederhana sang murid itu.Dia tak lagi memegang pena sahabatnya.Daging isi hasta dan pengumpil itu,kini berubah jadi seuntai kain panjang tak bernyawa.

"Beginilah,Bu keadaan Gendhing sekarang.Tak hanya suaranya saja yang hilang,tapi sekarang tangannya pun menyusul menjadi aksesoris dirinya yang terlihat utuh tapi tak bisa buat apa-apa,"cerita pilu yang datang adri gendhing syahdu sang ibunda Gendhing.

Ternyata selama ini, Gendhing adalah penyandang tunawicara yang mati-matian berjuang di sekolah anak-anak normal.Dan,sekarang tangan sebagai penyambung lidahnya,harus mati tak berfungsi lagi.Pasalnya,itu dikarenakan kecelakaan beberapa hari lalu yang menimpa dirinya.Sungguh,tak terbayangkan bagaimana bisa anak sekecil itu survive dengan segala ketidakberdayaan dirinya,tapi masih bisa mengumbar senyuman.

Air mata itu,membanjiri pertemuanku dengan Gendhing.Getir pilu semakin memuncak,tatkala terlihat setangkai bunga mawar yang dicokot dengan barisan giginya.Bersusah payah dia berusaha memberikan kenangan tersendiri yang tetap terlihat sederhana tapi kesannya langsung menghujam jiwa..
"Subhanallah....!Perjuangan bocah itu memporak-porandakan pertahanan dinding hatiku.Saking girangnya,kupeluk erat Gendhing,dan berulang kali kulantunkan gendhing syahdu coretan "Guruku" ditelinganya.
"Guruku....Guruku....Guruku"

1 komentar: