Kecacatan bukanlah kekalahan
Kelengkapan bukanlah suatu kemenangan
Tapi bisa menerima keadaan apapun yang diperuntukkan oleh
Tuhan untuk kita, itulah kemenangan yang sempurna.....
Nhaz-Thie-Ty
§§§§§
Badanku agak meriang karena kecebur kolam kemaren. Mau sekolah pun rasanyan males banget. Apalagi hari ini aku ada tambahan pelajaran. Ditambah lagi pelajarannya adalah fisika. Dimana gurunya susah banget diajak kompromi. Jadi males nech.
“ Zhie.... Nao udah dateng tuch”, panggil bunda di luar kamarku. Karena insident kemaren aku ga mood banget naek angkot, jadilah Nao yang jadi tumbal buat jemput aku. Soalnya diantara semua temenku, Naolah yang jarak rumahnya paling deket denganku. Kulirik jam dinding kamarku, dengan cepat kusambar tas di atas meja belajarku.
“ Bunda, Nhazie berangkat!! Assalamualaikum.....”,
“ Hati-hati .....ntar ga usah pulang sore”, nasehat bunda penuh sayang.
“ Tumben lu agak rapi begitu.....”, sapa Nao saat aku menghampirinya.
“ Masak sich, padahal hari ini gua ga mandi lho, nech bau.....”, dengan senang aku menggoda Nao sambil menyodor-nyodorkan ketekku ke arahnya.
“ Hihihihi......ne anak kapan sich mau berubah”, dengan jijay Nao berjalan mendahuluiku.
“ Sialan lu Zhie udah 3 kali ini gua bolak balik ke rumah lu.....”, dengan kesal Nao menceritakan kisahnya.
“ Ko bisa sich? Lu nya aja yang bego kale.....
“ Gua ketipu tuch ama tampang marmut lu, tadi di jalan gua ngeliat lu nebeng ama anak kelas XI, eh pas gua dekatin.....”,
“ Hahahaha........”, dengan renyah aku menertawakan Nao.
“ Kampret lu !”
“ Stop...stop !!!! gua turun sini aja ntar gua jadi bahan omongan lagi gara-gara nebeng lu “, aku berhenti di deket perpus skul dan berjalan sendiri menuju my favorite class.
Seperti pagi-pagi biasanya, sebelum menuju kelas aku mampir dulu ke kelasnya anak-anak. Mulai dari kelasnya dava ama faya ampe kelasnya justice. Sempurna. Akhirnya dengan berceloteh ama anak-anak 100% mood yang sejak dari kemaren ilang kembali dengan sempurna dan hidup di setiap detak jantung dan aliran darahku.
“ Eh...marmut, udah sehat lu ?” tanya sisil saat aku memasuki kelas.
“ Lu dewe gimana ?” aku malah balik bertanya sambil naruh tas di bangku.
“ Lu liat ndiri aja, giman udah buaek banget kan ?” denagn lincah sisil berulah di depanku.
“ Sippp !!”
“ Lu gimana ?” ulang sisil.
“ Sama donk, gua juga udah buaek banget.....”, dengan lincah juga aku menirukan gerakan sisil dan tawa renyah pun langsung membahana.
“ Ya, jelaslah lu baek-baek aja, lu kan cewek super”, dengan tampang menyebalkan pake banget, tba-tiba Nao ada diantara aku ama sisil.
“ Bukan cewek super kale tapi PK ( Premanisme Kampung )”, bak burung emprit, sastra pun ikut berat cuit menggodaku.
“ Sastra.....Nao...menyebalkan”, teriakku sambil nimpuki mereka lagi-lagi tawa itu pun meledak di mulut kami berempat. Dasar... kenapa sich mereka hobi banget ngejailin seorang nhazie ?? tapi, kalau ga seperti itu ga ada sesuatu yang berbeda, unik dan menyenangkan yang akan terkenang sewaktu kita lulus skul ntar.
“ Anak-anak, silahkan buka bab 5 ?” itulah kalimat pertama guru fisikaku saat tiba di kelas. Giman ga asyik banget kan ?
“ Absent...????’ dua suku kata itu menjadi bandalan guruku untuk senam jantung waktu pelajaran fisika.
Kontan aja semua temen-temenku pada geer setelah mendengar kata-katanya.
“ 7 “, angka yang menjadi favoritku itu pun jadi sasaran. Tanya jawab ini itu berlangsung dengan seru dan menegangkan.
“ Nhazie....”, kontan aja aku kaget setengah mati, my master fisika memanggil namaku. Dengan ragu aku mendongakkan wajahku yang ranum kala itu. Semua lamunanku berlarian entah kemana, tapi herannya Cuma satu yang tertinggal, bilu. Entah kenapa dalam suasana segenting ini pun namanya tidak mau lepas dari syaraf pikiranku.
“ Bagaimana cara mencari frekuensi dua benda dengan resonansi yang sama ?” aku cuma menanggepi dengan clingak clinguk aja.
“ Jangan kebanyaka pacaran aja, sekolah penting buat masa depan. Gimana punya pacar ga ?” dengan sabar aku mendengarkan khutbah guruku dan kalimat terakhirnya angka mati buatku.
“ Gag punya, pak !” dengan tersipu aku menjawabnya diiringi suara gaduh temen-temenku.
“ Wahh...gimana nech ketua OSIS kok ga punya pacar ”, punya pacar itu ga pa yang penting jangan terlalu menomorka pacaran, apalagi sekarang kalian udah kelas 3. Jadikan pacar penyemangat belajar kalian “, suara applause pun langsung riuh terdengar. Bersamaan itu pula aku dikagetkan dengan getar Hpku.
“ Justice “, gumamku
“ Tumben nech anak sms pada jam pelajaran kayak begini .....”
“ jas-jus ‘ zhie, lu keluar sekarang bisa ga ? gua ma faya nunggun di kamar mandi.
“ nhazi-e “ siipp...!! tanpa ditemani sisil aku segera pamit ke kamar mandi.
“Sori....lama ya nungguin gua “, kataku saat bertemu ama justice and faya. Hening seketika menyapa. Aneh rasanya. Perasaan tadi pagi masih fine-fine aja tuch.
“ Mentang-mentang diam adalah emas pada ga ada yang bersuara nech “, celetukku memecah keheningan.
“ Zhie....”, mereka serentak memanggil namaku
“ Ga usah koor gitu donk “, kilahku
“ SGG udah ga ada.....”
“ Deg...”, jantungku seakan menghentikan aktivitasnya. Lagi-lagi hening yang menyapa. Tak ada satu pun dari kita bertiga yang berani menatap. Hanya tertunduk lesu dengan pikiran kita masing-masing.
“ Ngga....ngga...ngga...boleh”, cegahku
“ Bukan seperti itu, anak-anak dala SGG. Mereka yang gua kenal begitu semangat and easy going dalam menghadapi hidup. Kasih gua alasan kenapa begitu entengnya kalian memutuskan hal bodoh kayak begini ? apakah kalian nggak ingat, betapa dulu kita berbahagia atas persahabatan ini dan juga betapa banyak....”
“ Cukup Zhi........,” dengan keras faya membentakku
“ Nggak, fay.......apapun yang terjadi lu ama justice adalah keluarga kedua gua....”
“ Zhie, lu ga usah mempertahankan sesuatu yang udah ga bisa dipertahanin.......lu bayangin aja betapa sulitnya kita mo jalan bareng sekarang. Pasti ada-ada aja dech alasan dari kita. Biarlah dulu itu menjadi kenangan terindah dalam hidup kita bertiga.
“ Sudah Zhie, ada hal yang harus lebih kita pikirkan daripada persahabatan ini......., sebentar lagi kita UAN. So.......thinking it....”
“ Just..Ffay.....”, dengan perasaan campur aduk kupeluk mereka dengan erat. Persahabatan itu kini sudah berakhir. Persahabatan yang selalu kuelu-elukan talinya telah terputus dan tak akan bisa kusambung lagi. Ibarat air, persahabatan itu kini sudah menguap dan uap kebahagiaannya itu hanya tinggal di angkasa. Kini hanya satu yang ada di hati dan jiwaku. Walo jauh tapi dekat kumiliki dia di hatiku. Bilu itulah jawabnya. Sesak menghantam dadaku, langkahku lunglai tanpa semangat. Suara decak sepatu yang berperang dengan lantai seakan ikut menangis melihatku. Aku benar-benar ga rela persahabatan itu harus berakhir seperti ini.
§§§§§

7
“ without dreams life happens to you “
“ with dreams you make life happens “
Nhaz-Thie-Ty
Seharian aku mengunci diri di dalam kamar. Nhazie yang begitu semangat, telah mati hari ini. Tidak cinta, tidak persahabatan, semuanya selalu menyisakan celah luka yang mendalam, luka yang perlu banyak waktu untuk tahap penyembuhan. Pondasi persahabatan yang terbangun dari senyum, tawa, bahagia, sedih dan tangis hancur luluh lantah menyatu dengan bumi. Yang harus dihancurkan oleh satu material yaitu ketidakkompakan.
Samar-samar diluar kamar aku menangkap pembicaraan bunda dengan seseorang. Semakin lama suara itu terdengar mendekat dan sampailah getaran suara itu di depan kamarku.
“ Kira-kira ada apa ya nak dava, kok nhazie seharian betah bener di dalam kamar ?” aku menangkap nada cemas dari suara bundaku sayang.
“ Dava juga kurang tahu tante, soalnya hari ini dava juga belum ketemu sama sekali ama nhazie.......”
“ Mungkin dengan kedatangan nak dava, tante tahu jawabannya.......”, kalimat terakhir bunda pun diiringi suara ketokan pintu kamarku. Berkali-kali sudah diketuk, tapi tak kuhiraukan juga. Melihat pintu tak dikunci, si empu pengetuk pintu masuklah sudah.
“ Tumben, hari ini betah ga keluar kamar. Semedi lu ?” sindirnya
“ Gua tahu pasti seharisn ini lu juga belum makan, nech gua bawain wedang ronde plus roti bakar dengan keju dan coklat “. Dava meletakkan menu favoriteku itu tepat dihadapanku. Aroma wedang ronde menusuk hidungku. Wanginya mengikuti irama sarafku dan sampailah merangsang pada perutku. Kontan aja cacing-cacingnya pada mukul gendhang minta diisi.
“ Makan aja dulu, katanya life must go on “, semua kata-kata dava bernada semangat untukku.
“ Dav.......”, panggilku diiringi bulir air mata yang ga tau sejak kapan membasahi pipiku.
“ Gua udah ga punya sahabat lagi, mereka udah pergi dari hidup gua,......”
“ Kalo itu jalan terbaik, kenapa mesthi ditangisi dan disesali dengan santai dava menanggapi omonganku. Hening kemudian menyapa. Hanya isak tangisku yang sesekali mungkin mengisi keheningan diantara aku ma dava. Hingga dava lagi yang memulai pembicaraan.
“ Zhie, tidak hidup namanya kalo tidak pernah sedih, tidak hati namanya kalo tidak pernah dilukai. Tidak hati pula namanya kalo tidak bisa menyembuhkan luka dan sekarang tidak nhazie namanya kalo trus seperti ini. Tak harus orang yang kita cintai ato kita sayangi trus ada di sisi kita, tak pelak juga saking sayangnya, kita kerap tidak sadar kalo rasa sayang itu justru luka baginya.......untuk itu biarkan semua cinta dan sayang mengalir dengan sendirinya......”, kupandang tajam wajah dava. Urat-urat wajahnya menceritakan kesedihan dan kekecewaan. Bulir bening itu meluncur dengan mulus di pipinya. Hanya ada satu kata dalam ruang fikirku. Dava – nangis.
“ Dav, lu kenapa ? jangan gara-gara gua nangis, lu ikutan nangis donk “, disela air mataku itu aku untuk mencoba untuk tertawa.
“ Gara-gara lu sich. Dasar marmut !! jangan nangis-nangisan donk jelek tahu.....”.
“Enak aja, gua ga nyuruh lu-nya nangis “, belaku
“ Gua kan ga tega ngliat lu “, balas dava sambil ngelap air matanya.
“ Dav, lu sahabat yang gua miliki sekarang ini “, dengan sayang sebagai sahabat, kupeluk dava dengan erat.
“ Udah dech, gua cabut dulu yach. Janji ga nangis lagi, othree !!!”
Kedatangan dava bener-bener memberikan extra spirit buatku. Sosok justice ma faya srsaat tergantikan oleh sesosok dava yang begitu menghidupkan hidupku menjadi lebih hidup. Katanya “ Star Mild “ sich Lasta Masta. Tapi, aku masih ragu air mata dava menyisakan pertanyaan yang ku tak tahu apa jawabnya.
“ walaupun lu.....just, fay udah ga nganggep gua sahabat lagi, tapi kalian masih tetap menjadi sahabat gua untuk sekarang dan selamanya..........
§§§§§

8
“ everything i do........
“ i give my heart and soul
“ i can hardly breath i need you “
Nhaz-Thie-Ty
Moment kelas 3 yang seharusnya dipusatkan pada pelajaran kacau sudah oleh problem-problem yang mengusikku. Mulai dari cinta ampe persahabatan semuanya bersalah. Kayaknya kesedihan trus menghantuiku saat ini. Kehilangan seorang sahabat sama dengan kehilangan semangat buatku. Lihat aja hari ini aku males banget menginjakkan kaki di skul. Apalagi mau tidak mau sekolah lah yang menjadi rumah keduaku.
“ Tumben lu lemes githu, biasanya udah berkicau tuch mulut “, sapa seseorang yang mencoba menjajari langkahku.
“ Biasa....gua lagi males banget pake puoll “, balasku tanpa semangat.
“ Ooo...”, balasnya. Ekspresinya kontan aja membuatku terkejut, soalnya ga mungkin banget temenku Cuma nanggepi omonganku pake “ O “ doank. Apalagi melihatku seperti ini pasti dech khutbah-khutbahnya udah pada rame di telingaku. Dengan malas ku lirik orang yang sedang menjajari langkahku.
“ Bilu.....!!!”
“ Biasa aja kale, ga usah terkejut githu. Emang gua syetan apa ?
“ Hhh...hh...nggak kok “, jawabku gugup
“ Lagi kesambet syetan lu ?” tanyanya.
Akibat pemandangan yang begitu aneh menurutku, akupun berhasil tak menghiraukan serentetan pertanyaan bilu.
“ Payah lu zhie, ga asyik banget......dari tadi gua nanya lu, eh lu-nya asyik melototin gua mulu.....”.
“ Eh, sory-sory yach, PD amat sich lu, sapa juga yang melototi lu. Liat tuch ada tato cabe di gigi lu,” kilahku saat bilu tahu kalo sejak tadi aku terus ngliatin dia. Tanpa permisi ato basa-basi lagi aku langsung ngibrit ninggalin bilu. Tak lupa juga sebelum aku melangkahkan kaki mungilku, kulirik wajah tengsin bilu akibat tato cabe bo’ongan itu. Lucu banget dech, seorang bilu yang selalu perfect dengan style-nya harus tengsin akibat tato cabe bo’ongan itu.
“ Wahh...ga sia-sia donk kedatangan gua kemaren ke rumah lu “, sapa dava yang ga sengaja bersisipan jalan denganku.
“ Thanks ya “, ucapku senang
“Tapi aneh dech gua liat-liat dari tadi tuch mulut senyum-senyum trus......”.
“ Hmm...hmmm....yang aneh bukan gua tapi lu dava sayank..”, kataku barusan ternyata menjadi angka mati bagi dava. Kontan aja dava berubah 180˚ “.
“ Dav, lu kenapa sech ?” jangan ikut-ikutan gua donk, biar gua aja yang sedih saat ini. Nech aja gua udah setengah mati ngehidupin Nhazie yang dulu lagi, Nhazie yang selalu ceria dan selalu rame orangnya, apalagi tadi gua dapat hiburan yang bener-bener nyenengin gua .”
“ Jadi bukan gua donk yang ngebuat mulut lu ga bisa mingkem lagi itu.
“ Justru malah lu orang pertama yang ngebuat gua seperti ini.
“ Orang keduanya sapa donk ?”
“ Bodo banget sich lu, ya jelas bilu lah, emang mo sapa lagi ? kebanyakan nanya lu ?’
“Bilu ???”
“ Yuppss....aneh banget yach ? lu aja yang ga ngrasain aneh begitu apalagi gua !!
“ Zhi, kalo gua nyuruh lu ....!!! lu mau ga ?”
“ Ya jelas maulah, apalagi untuk lu, selama gua bisa gua akan lakuin kok .”
“ Sumpel ! ga nyesel lu ?”
“ Insyaallah ,” jawabku sante-sante aja
“Gua nyuruh lu.....”.......”..................” jauhin bilu !”
“ deg..”
“......................”
“.................”
“ Sakit lu Dav. Saat ini gua udah kehilangan sahabat-sahabat gua yang teramat gua sayangi, trus lu sekarang nyuruh gua ngejauhin bilu, trus selanjutnya lu bakalan bilang kalo gua udah ga pantes jadi sahabat lu lagi, tega banget sich lu, dav !!!. padahal menurut gua lu tuch orang yang paling ngertiin gua, lu tahu kan betapa sayangnya gua ama bilu, bahkan gua rela nrima perlakuan bilu yang menurut gua udah keterlaluan banget, gua udah berdiri kokoh di atas semua itu. Seharusnya lu juga tau gua seperti itu karena gua bener-bener sayang ama bilu. Dan baru detik ini bilu bilu baek ama gua, tiba-tiba lu kayak gitu. Sorry dav ! nhazie sahabat lu ga bisa nglakuin permintaan lu “, dengan perasaan campur aduk aku langsung pergi ninggalin dava.
“ Heran dech, masak sich seoang sahabat tega berbuat kayak getho. Harusnya kan selalu support dan jadi sahabat yang bener-bener sahabat....,” aku pun ngedomel sendiri. Masih tidak percaya dengan sikap dava barusan. Saking jengkelnya, ampe kelupaan nanya alasan dia berbuat kayak githu.
“ Ribut amat sich lu ?” ucap sisil saat melihat ulahku
“ Sisil.......,” tanganku pun meraih pundak sisil dan membuat sisil tambah heran dengan ulahku.
“ Gua sedih banget.....kemaran gua putus persahabatan ama SGG dan sekarang dava nyuruh gua ngejauhin bilu, bayangin aja sil betapa banyak celah luka ini ada di hati gua....!
“ Lu ama SGG bubaran, kacau dech. Padahal gua sempet iri ama persahabatan kalian, tapi kenapa sekarang jadi seperti ini, “ sisil pun juga ikut sedih mendengar ceritaku.
“ Sabar aja , kan masih ada gua, Nao, sastra. Walopun kita-kita ga bisa seperti SGG tapi kita-kita akan berusaha menjadi yang terbaek buat lu kok, udah dech ga usah nangis lagi “, sepenuh hati sisil mencoba menegarkan aku.
“ Biar lu fersh, kantin yuuks.....,” gua traktir dech,” sisil langsung menarik tanganku menuju kantin
“ Bener nech lu yang traktir jadi ntar kalo gua mau ambil 3 botol frestea, 2 mangkok bakso dan 5 bungkus coklat ga perlu ngoret kantong donk ,” dengan cengir aku mengikuti langkah sisil.
“ Wahh...jangan-jangan cerita lu tadi bo’ongan lagi, biar lu dapet traktiran dari gua.
“ Ngga percaya ama gua........”
“ Dasar, giliran makan aja masalah seberat entu bisa lu lupain......”
“ Heheehehehe.....”
“ Kata orang makan adalah salah satu solusi nyelesein masalah, jadi untuk saat ini gua pengen kembali hidup kayak biasanya, Nhazie yang ga pernah kalah dengan yang namanya masalah. Ayo Nhazie semangat ,” dengan semangat kemerdekaan aku mencoba kembali membangun diriku yang seperti dulu.
“Perasaan yang bilang kalo makan adalah solusi entu SGG tuch......,” sisil mencoba menerka
“ Emang ......iya !!! sampai kapanpun SGG adalah keluarga kedua gua dan lu, sastra ma nao adalah sahabat gua juga. Udah sil makan nyokk....!!!
§§§§§
Derai hujan membasahi bumi
Iringi kepergianmu dari sisiku
Samar terdengar langkahmu menjauh
. . . . . .
Tiada derita pernah kualami
Sehancur denganmu, sepanjang umurku
Saat kuinginkan dirimu . . . . . .
Gerimis turun kala siang itu. Menari di langit dengan suara yang diciptakan oleh gesekan dedaunan dengan air. Udara panas tergantikan sudah oleh udara segar nan sejuk yang tiba-tiba menyentuh permukaan kulit.
“ Kok hujan ya sil, jadi ngantuk nech gua ?” kuletakkan kepalaku diantara kedua tanganku di atas bangku.
“ Sama zhie, gua juga ngantuk banget nech.....”
“ Kalo hujannya ga reda-reda, ntar gimana ya gua pulangnya.”
“ Waduhh...sory ya zhie, hari ne gua ga bawa motor.......”
“ Gag apa kok sil, palinh-palinh ntar ujung-ujungnya gua juga naek angkot
“ Bahaya tahu.....sore-sore begini seorang cewek naek angkot, bareng dava kan masih bisa ?”
“ Ngga....ahh.....gua lagi kesel ama tuch anak .”
“ Insiden tadi pagi ya ?” tanya sisil.
“ Hmmm.....,” jawabku malas
“ Udah dech gua yakin kok dava kayak githu pasti ada maksudnya. Apalagi dulu lu kan pernah ada feel ama dia, bisa aja dia ga mau kehilangan lu karena lu-nya jadi baekan ama bilu...”
“ Ngaco lu. Dava tuch dah punya soulmate. Itu lo yang namanya praba yang gua ceritain kemaren-kemaren itu. Udah dech daripada kita nunggu guru bimbel kita yang ga jelas kemana, kita pulang nyokk, ujan-ujan begini kan enak, dingin-dingin empuk....hehehehe............”
Akhirnya siang menjelang sore itu aku cabut ama sisil. Biasa kita bolos ga ikut bimbel. Abis mau gimana lagi, guru bimbelnya ga nongol-nongol. Udah seharian bete mulu ditambah lagi dech ama masalah nunggu menunggu yang telah diakui oleh dunia tuch masalah menjadi masalah paling ngebetein.
Di tengah derasnya hujan yang tengah mengguyur aku ama sisil malahan asyik mendrible bola basket yang ada di lapangan belakang. Walopun kita ga bisa maen sich, tapi seru-serunnya asyik bener. Sampai sepasang mata yang tengah mengawasi kami tak terhiraukan sudah.
“Zhi....”, teriak sisil yang suaranya mencoba menyamai suara hujan
“ Apaan ?” balasku sambil terus memaenkan bola basket itu.
“ Faya ama Justice “, lanjutnya
“ Apa ?” tanyaku minta diulang
“ Faya ama Justice “, setelah mendengar kata-kata sisil aku melihat ke arah mereka.
“ Mereka ga nyariin gua kok, nhazie kan udah bukan temen mereka “, jawabku kesel
“ Zhie....”, sisil berulang-ulang memanggil namaku
“ Apaan lu sil “, aku mulai bener-bener kesel
“Iitu !” aku pun mengikuti arah telunjuk tangan sisil yang mengarah pada faya ama justice yang lagi berjalan ke arahku. Dengan arah berlawanan dengan mereka, akhirnya bertemulah kita pada satu titik.
“Gua kesel ama kalian, jadi ga usah dech kalian cari-cari gua lagi. Cukup !!! gua ga mau nangis lagi dan Yang pengen banget gua ucapin thanks karena hampr dua tahun setengah lu-lu pada udah jadi sahabat gua, thanks....”, tanpa pamit aku langsung meninggalkan mereka dengan tak satu pun keluar dari mulut mereka.
Kala itu skul udah pada rame oleh suara anak kelas 3 yang udah pada selesai bimbel. Aku pun berdiri di pinggir jalan sambil menunggu angkot lewat. Dengan badan kedinginan karena hujan, aku mencoba menggosok-gosokkan tangan menciptakan kehangatan. Lima belas menit sudah aku berdiri tanpa hasil. Mana jam trus berputar dan hari pun juga semakin tambah petang. Badanku pun tambah menggigil kedinginan.
“ Help me, god ,” doaku dalam hati
“ Ya ampun zhi, lu nungguin dava ya....dianya udah pulang ‘, suara bilu tiba-tiba menyapa gendang telingaku.
“ Ngga kok, gua nungguin angkot nech. Kok belum nongol-nongol ya......”
“ Bareng gua aja ”, entah ini mimpi apa bukan, tapi saat ini bilu bener-bener buaek banget ama gua. Beda 180˚ dech ama dia yang dulu.
“ Makasih, tapi gua naek angkot ajalah. Rumah lu ama gua kan ga sejalur, ntar maghrib lu baru nyampe rumah lagi “, dengan suara yang bergetar karena dingin aku mencoba menjelaskan semua pada bilu.
“ Gag usah ngeles trus githu donk, gua ikhlas kok. Nech lu paku jaket gua, pucat banget tu muka lu “, bilu menyodorkan jaketnya padaku.
“ Udah dech ga usah, gua udah terbiasa kok seperti ini. Apalagi ntar kalo gua pake jaket lu, jaket lu robek lagi, gua kan anaknya pecicilan, banyak ulah. Belum lagi kalo gua naek motor lu lagi, ga kebayang dech apa yang akan terjadi......,” aku masih tetap dalam pendirianku.
“ Pasti dulu gua sering bikin lu bete, kesel, marah dan sakit hati, Nhazie....gua minta maaf atas semua yang pernah bikin lu sakit.............tentang masalah “ bra “ itu, tentang gua yang sering ngata-ngatain lu.....,”
“ Ga perlu minta maaflah, gua udah terbiasa kok sama hal-hal kayak githu, apalagi lu yang berulah, itu udah makanan gua sehari-hari......”, sebelum aku mengakhiri kata-kataku, bilu langsung menarik tanganku naek ke atas motornya. Mungkin dia tidak tega melihat aku yang trus menggigil kedinginan karena hujan.