Minggu, 06 November 2011

My Letters

            Apa bedanya keluar dari kandang macan yang satu ke kandang macan yang lainnya. Semua bengis dan buas. Mudah sekali melukai kehidupan seseorang, mungkin tanpa pernah berpikir di akhirat sana masih ada yang namanya neraka. Kalo udah begini, pasti tak jauh – jauh dengan permasalahan yang namanya cinta. Cinta benar – benar  telah mempermainkanku. Setelah kasihku tak sampai pada seseorang, kini hadir seseorang yang membawa cinta terbesarnya buat aku. Tapi, cinta ini adalah sebuah kesalahan. Kesalahan besar malah. Karena apa ??? Karena si seseorang pembawa cinta terbesar itu statusnya uda nggak single lagi alias uda punya pacar. Trus maksudnya dia bilang cinta sama aku, hanya karena menginginkanku menjadi selingkuhannya. Begitukah??? Sudah tak punya harga diri saja rasanya.
            Kehadirannya yang tepat dalam hidupku, benar – benar membuatku bisa melupakan kasih tak sampaiku. Semua mengalir begitu saja. Awalnya, aku hanya berencana  buat enjoy – enjoy an ajja, tapi lama kelamaan semua bentuk perhatiannya membuat addicted. Aku mulai bergantung padanya, dan aku pun mulai memposisikan dia dalam hatiku. Tapi, aku sadar cinta ini adalah sebuah kesalahan. Semua kata cinta yang harusnya berirama riang, berubah jadi duka buatku. Setiap kali dia mengatakan cinta dan sayang hatiku selalu sakit, karena aku benar – benar sadar bahwa cinta ini adalah sebuah kesalahan.
            Aku takut. Ketakutan ini bukan tanpa alasan tentunya. Terbesit dipikiranku bagaimana perasaan hati si cewek yang telah dulu mengisi hatinya ketika tahu ini semua??? Tercabik – cabik pasti. Karena mereka telah menjalin hubungan bukan dalam waktu yang singkat, melainkan uda 2 tahun hubungan mereka berjalan. Aku juga wanita, jadi aku mesti tahu apa yang nanti bakalan dia rasakan.
            Walopun berat, akhirnya aku memutuskan untuk melepaskannya. Mumpung ini masih belum terlalu  lama, jadi kalopun aku sakit hati mungkin tidak terlalu butuh waktu lama untuk mengobatinya. Toh, aku sama dia notabenenya adalah sahabat dekat. Jadi kalopun tidak berpacaran, aku masih bisa memiliki dia sebagai sahabatku.
            Akhirnya, aku ngomong sama dia bahwa aku mengalah untuk melepaskanmu. Kita tidak harus jadi sepasang kekasih, bersahabat mungkin itu sudah cukup. Jangan seenaknya sendiri jadi seorang cowok, jangan egois mementingkan perasaanmu saja, pikirkan “nanti” pasti ada 2 hati yang akan tersakiti. Aku hanya orang baru yang secara tiba – tiba menyapa hatimu, dan rasa cintamu padaku mungkin hanya rasa cinta sesaat yang sebentar lagi akan menguap. Sedangkan pacarmu, adalah orang yang dulu mengisi hatimu. Pasti bukan tanpa alasan kenapa kamu bisa bertahan pacaran lama dengan pacarmu.Lepaskan Aku!
            Lhah disini keegoisanmu mulai membabi buta. Kamu tak mau melepaskanku.Kamu beralibi terlalu sayang padaku, bahkan rasa sayang itu sudah tumbuh lama di hatimu. Aku jadi bingung. Semula aku yang siap melepasmu jadi meragu. Aku mulai berpikiran mau menjalani kasih denganmu, dengan embel – embel aku adalah selingkuhanmu dan aku adalah wanita terjahat yang merecoki kehidupan rumah tangga orang lain. Oke semua berjalan apa adanya!
            Dalam perjalanan cinta yang terjalin, aku teringat dengan apa yang namanya karma. Aku takut suatu saat aku akan dibalas dengan perlakuan yang sama. Dalam usia hubunganmu yang uda berjalan 2 tahun, kamu bisa  menjalani kasih dengan tambatan hati lain. Bagaimana suatu saat jika benar kamu jadi bersamaku, kamu akan melakukan hal yang sama. Kamu akan bosan padaku dan mencari hati baru yang membuat nyaman hidupmu.
            Sekarang, pikirkan baik – baik jalan yang harus kamu tempuh. Kamu harus bisa melepaskan salah satu dari kami. Tinggalkan sebentar keegoisanmu. Ini menyangkut masalah hati.OKE!!!
            Aku yakin kamu pasti bisa memberi  keputusan yang paling baik.SEMANGAT!!!

Jumat, 08 Juli 2011

Sebuah Hakekat

Wanita melahirkan sajak dan puisi ketika lelaki jatuh hati.Begitulah hakekatnya seorang wanita.
Sosok penyejuk dunia yang dikirimkan Tuhan.
Pesonanya yang tak pernah berpendar memancarkan segala aura syurga.
Cintailah dan Sayangilah wanita,hakekat yang seharusnya dilakukan oleh lelaki.
Jadilah lelaki yang berani mengungkapkan isi hati pada wanita yang dicintai.
Jangan pernah ada pikiran takut untuk mengungkapkannya.
Kalo takut berarti kalian akan kehilangan,karena pada hakekatnya wanita itu hanya bisa menunggu.
Menunggu pengungkapan dari seorang lelaki.
Kalo kalian para lelaki takut untuk mengungkapkannya,ya sudah silahkan saja bersiap-siap untuk berucap selamat tinggal.
Lelaki memendam wanita menunggu.
Sungguh suatu kenyataan yang teramat pahit dilihat.
Jadi,kalian para lelaki jujur dan ungkapkanlah kalo kalian memang suka.
Jangan biarkan kami para wanita menunggu terlalu lama.
Kalo boleh pinjam lagunya Vierra " Sadarkah kau,ku adalah wanita....Aku tak mungkin memulai...Sadarkah kau,kau menggantung diriku aku tak mau menunggu...."
<<Curhat kayaknya, :) >>

Sabtu, 28 Mei 2011

Futsal

Futsal adalah permainan bola yang dimainkan oleh dua regu, yang masing-masing beranggotakan lima orang. Tujuannya adalah memasukkan bola ke gawang lawan, dengan memanipulasi bola dengan kaki. Selain lima pemain utama, setiap regu juga diizinkan memiliki pemain cadangan. Tidak seperti permainan sepak bola dalam ruangan lainnya, lapangan futsal dibatasi garis, bukan net atau papan.
Futsal turut juga dikenali dengan berbagai nama lain. Istilah “futsal” adalah istilah internasionalnya, berasal dari kata Spanyol atau Portugis, football dan sala.
Futsal diciptakan di Montevideo, Uruguay pada tahun 1930, oleh Juan Carlos Ceriani. Keunikan futsal mendapat perhatian di seluruh Amerika Selatan, terutamanya di Brasil. Ketrampilan yang dikembangkan dalam permainan ini dapat dilihat dalam gaya terkenal dunia yang diperlihatkan pemain-pemain Brasil di luar ruangan, pada lapangan berukuran biasa. Pele, bintang terkenal Brasil, contohnya, mengembangkan bakatnya di futsal. Sementara Brasil terus menjadi pusat futsal dunia, permainan ini sekarang dimainkan di bawah perlindungan Fédération Internationale de Football Association di seluruh dunia, dari Eropa hingga Amerika Tengah dan Amerika Utara serta Afrika, Asia, dan Oseania.
Pertandingan internasional pertama diadakan pada tahun 1965, Paraguay menjuarai Piala Amerika Selatan pertama. Enam perebutan Piala Amerika Selatan berikutnya diselenggarakan hingga tahun 1979, dan semua gelaran juara disapu habis Brasil. Brasil meneruskan dominasinya dengan meraih Piala Pan Amerika pertama tahun 1980 dan memenangkannya lagi pada perebutan berikutnya tahun pd 1984.
Kejuaraan Dunia Futsal pertama diadakan atas bantuan FIFUSA (sebelum anggota-anggotanya bergabung dengan FIFA pada tahun 1989) di Sao Paulo, Brasil, tahun 1982, berakhir dengan Brasil di posisi pertama. Brasil mengulangi kemenangannya di Kejuaraan Dunia kedua tahun 1985 di Spanyol, tetapi menderita kekalahan dari Paraguay dalam Kejuaraan Dunia ketiga tahun 1988 di Australia.
Pertandingan futsal internasional pertama diadakan di AS pada Desember 1985, di Universitas Negeri Sonoma di Rohnert Park, California. Futsal The Rule of The Game
Peraturan
  1. Ukuran lapangan permainan : panjang 25-42 m x lebar 15-25 m
  2. Garis batas: garis selebar 8 cm, yakni garis sentuh di sisi, garis gawang di ujung-ujung, dan garis melintang tengah lapangan; 3 m lingkaran tengah; tak ada tembok penghalang atau papan
  3. Daerah penalti: busur berukuran 6 m dari setiap pos
  4. Garis penalti: 6 m dari titik tengah garis gawang
  5. Garis penalti kedua: 12 m dari titik tengah garis gawang
  6. Zona pergantian: daerah 6 m (3 m pada setiap sisi garis tengah lapangan) pada sisi tribun dari pelemparan
  7. Gawang: tinggi 2 m x lebar 3 m
  8. Permukaan daerah pelemparan: halus, rata, dan tak abrasif
Bola
  1. Ukuran: #4
  2. Keliling: 62-64 cm
  3. Berat: 390-430 gram
  4. Lambungan: 55-65 cm pada pantulan pertama
  5. Bahan: kulit atau bahan yang cocok lainnya (yaitu, tak berbahaya)
Jumlah pemain
  1. Jumlah pemain maksimal untuk memulai pertandingan : 5, salah satunya penjaga gawang
  2. Jumlah pemain minimal untuk mengakhiri pertandingan: 2
  3. Jumlah pemain cadangan maksimal: 7
  4. Batas jumlah pergantian pemain: tak terbatas
  5. Metode pergantian: “pergantian melayang” (semua pemain kecuali penjaga gawang boleh memasuki dan meninggalkan lapangan kapan saja; pergantian penjaga gawang hanya dapat dilakukan jika bola tak sedang dimainkan dan dengan persetujuan wasit)
Perlengkapan pemain :
Kaos bernomor, celana pendek, kaus kaki, pelindung lutut, dan alas kaki bersolkan karet
Lama permainan
  1. Lama: dua babak 20 menit; waktu diberhentikan ketika bola berhenti dimainkan. Waktu dapat diperpanjang untuk tendangan penalti.
  2. Time-out: 1 per regu per babak; tak ada dalam waktu tambahan
  3. Waktu pergantian babak: maksimal 10 menit

Jumat, 27 Mei 2011

Hampir Nyaris Bahkan

Hampir bisa membagikan hati buat seseorang lagi,
Nyaris ada secercah harapan
Bahkan usaha keras turut menemani dalam setiap perjuangan
Tapi semua kembali lagi pada kodrat yang namanya wanita
Wanita diusahakan primpen dalam istilah jawanya,lemah lembut,kalem,dan bahkan terkesan santun
Begitulah mungkin harapan dan selayaknya jadi wanita
Kemudian muncul istilah emansipasi wanita di era perjuangan Kartini
Wanita tidak boleh lemah,wanita tidak boleh kalah.wanita harus sejajar dengan laki-laki tapi masih tetap dalam koridor menghormati laki-laki
Lalu,disaat wanita itu merasakan cinta pada seseorang
Wanita hanya bisa memendam,memendam, dan terus memendam
Nggak tau sampai kapan,mungkin sampai udunan
Parahnya lagi hanya bisa memendam dan terus menunggu sang arjuna mengatakan cinta
Menyakitkan, sungguh menyakitkan
Kalo boleh pinjem lagunya Vierra sebentar
"Sadarkah kau. ku adalah wanita"
"Aku tak mungkin memulai"
"Hari ini ku akan menyatakan cinta"
"Aku tak mau menunggu terlalu lama"
Aku hanya bisa menulis, tanpa bisa mengungkapkan
Aku ingin kamu yang membacanya
Saat ini pasti kamu tahu siapa yang aku maksud
Aku tidak pernah menyuruhmu jadi bagian dalam hidupku
Tapi,pengungkapan adalah yang hanya nyaris dan bahkan yang berani aku tuliskan
#tiba-tiba kegalauan menghinggapi saya ^^

Selasa, 24 Mei 2011

Arang Merah Tak Pernah Berpendar



Saat rembesan air mulai berkapilaritas dengan tanah liat yang telah berubah menjadi genteng, saat itulah saat yang membuat hati kami ketar-ketir. Takut-takut kalau air itu akan secara liar memporak-porandakan rumah kami, menghajar kami dengan segala keganasan elemennya, dan mengusir kami dari kefanaan dunia. Langit menangis, dan kami pun turut larut di dalamnya.
Dian terang, mengkristal dalam bulir bening air mata kami. Berkilau, dan penawaran kebahagiaan tersaji disana. Keindahan kemilau cahaya itu berasal dari aura guru kami. Beliau adalah Ibu Tantri. Sosok guru bersahaja yang mengentas kami dari terik matahari yang berpadu padan dengan gemuruh letupan ombak pantai. Menyentuh hati kami dengan penjajakan  dunia pendidikan yang jauh lebih berharga daripada uang. Akhirnya, kami pun sepakat mengikuti program layanan pendidikan ini. Bernaung di bawah rumah belajar yang sebenarnya tak layak disebut rumah ini. Tapi, apapun dan bagaimanapun bentuknya, transfer ilmu pengetahuan harus tetap dijalankan.
“Assalammualaikum!” sapa Ibu Tantri, sembari membuka pintu kayu rapuh yang sudah digerogoti rayap.
“Walaikumsalam!” kami menjawabnya serentak dengan suara yang sedikit bergetar.
“Kalian kedinginan?” tanya beliau penuh kasih.
“Kami tidak kedinginan, Bu. Dingin itu sudah menjadi sahabat kami sejak kami turun menjadi gelandangan pinggir pantai,” jelas Haikal sang ketua kelas.
“Lantas, kenapa kalian mesti menangis?” lanjut Bu Tantri lagi, masih dengan suara lembut penuh sayang. Kami tak menjawab, hanya tundukkan serentak kepala kami yang mengisyaratkan sesuatu. Isyarat kebodohan tentunya, karena mana mungkin Ibu Tantri  dapat melihat tingkah polah kami dalam kegelapan ruangan.
“Heeii...ada apa anak-anakku?” sumbang nada kecemasan mulai menggerogoti pita suara beliau. Kami pun langsung berlari ke arah beliau, memeluk, dan terus memeluk dengan bulir air mata yang masih menganak sungai di pelupuk mata.
“Ibu,ini!” kata Silvi, bocah paling kecil diantara kami sambil meletakkan buku basah di tangan Ibu Tantri.
“Ealah...bukunya basah ketrocohan ya? Sini-sini, semua buku dikumpulkan jadi satu dan kita panggang bersama-sama,” simpul senyum kecil tersungging di sudut bibir beliau.
“Kita,bakal berpesta panggang buku, begitu Bu?” lagi-lagi tanya Silvi dengan lugunya.
“Hahaha...,” kami pun berhasil tertawa ngakak oleh celotehan Silvi yang mencerminkan khas keluguan anak kecil.
Ngisyu,” celetuk Ibu Tantri disela tawa renyahnya,dan kami pun terperanjat kaget mendengar kata-kata aneh itu keluar dari mulut beliau.
“Bu...!!” ucap kami serentak penuh tanda tanya besar.
“Ouwh...kalian baru dengar ya? Kalo dalam bahasa candaan Jawa, “ Ngisyu” itu kependekkan dari “ mari nangis ngguya-ngguyu.”
“...”  kami bengong tak mengerti.
“Artinya, kalo diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia adalah “ setelah nangis tertawa-tawa”, begitu anak-anak.”
“Ouwh...!!” lanjut kami akhirnya sambil geleng-geleng kepala.
“Sudah-sudah, kalian pergi bobok sana. Sisanya biar ibu keringkan sendiri. Hari sudah larut ini,” perintah si Ibu guru, dan kami pun mematuhinya. Kilatan bara api, memantul dari wajah ayu beliau. Wajah penuh keteduhan dan aura hangat keibuan. Sungguh, beliau adalah anugerah Tuhan terindah yang dilimpahkan pada kami.
“Tuhan, selalu jagakan beliau buat kami. Agar ketika esok, bola mata ini masih bersinar lagi, beliau adalah orang pertama yang menyedapkan pandangan kami. Amin..,”kami mengakhiri  malam itu dengan panjatan doa khidmat buat Ibu Tantri.
***
Masih seperti rutinitas pagi-pagi biasanya. Suara kokok ayam yang pecah diantara deburan ombak pantai. Selimut embun tebal yang menutupi dedaunan dan suara lolongan para nelayan yang datang dari aktivitasnya mencari ikan.
Tampak dari kejauhan, si Ibu guru sedang menata ruang belajar yang akan kami gunakan untuk  menimba ilmu. Guratan garis wajahnya tak pernah luntur akan semangat membara memberikan pendidikan. Lagi-lagi, kami tersenyum bangga memiliki beliau.
“Anak-anak sudah saatnya kalian memasuki kelas,” teriak beliau sambil berjalan menghampiri kami.
“Sebentar, Bu! Nunggu matahari terbit dulu,” balas kami serentak.
“Baiklah,” jawab beliau sembari meletakkan pantatnya diantara pasir pantai.
Satu ciri khas pantai yang haram untuk dilewatkan, yaitu sunrise dan sunset. Semua orang pasti punya cerita sendiri ketika mereka menikmati pesona keindahan alam Tuhan yang satu ini. Begitu halnya dengan kami. Setoples gula-gula permen manis menemani kami.
“Ini, Bu!” Silvi menyodorkan setoples gula-gula permen manis pada beliau. Beliau memasukkan jari-jari tangannya ke dalam toples, dan meraba. Mencoba menerjemahkan.
“Aarrgghh...,” tiba-tiba Ibu Tantri berteriak histeris sambil menutup wajah dengan kedua tangannya. Sontak kami terkejut dibuatnya. Ketidaktenangan dan ketakutan yang cukup berarti, menghinggapi jiwa beliau. Kami semakin takut. Apa yang sebenarnya terjadi?
“Ibu kenapa? Ibu takut pada permen?” Silvi bertanya dengan polosnya.
“Ibu kira tadi ini biji bola mata, jadi Ibu takut,”jawab beliau denagn suara merendah.
“Ibu tunanetra?”tanya Haikal mencoba menebak dan langsung diiyakan oleh beliau.
Bagai sambaran petir menghantam kami. Sebuah kenyataan yang tak pernah terdeteksi oleh kami. Sosok yang terlihat sempurna, ternyata menyimpan kedukaan yang mengelabuhi kami.
“Kalian pasti terkejut, bukan? Bagaimana bisa Ibu menjalani ini semua? Ini, semua bermula ketika Ibu menginjak usia 12 tahun. Sebuah virus ganas menyerang retina bola mata Ibu. Perlahan tapi pasti, sedikit demi sedikit virus itu mulai merusak syaraf-syaraf penting bola mata Ibu. Dan pada akhirnya, vonis kebutaan yang harus Ibu terima. Saat itu dunia terasa kiamat buat Ibu. Merah, kuning, birunya dunia tiba-tiba berubah jadi hitam semua,” Ibu berhenti sejenak dan menarik napas panjang. Sedangkan kami, dengan seksama terus menyimak cerita beliau.
“Tapi, dibalik itu semua ada support dari seorang guru pada Ibu agar Ibu tetap melanjutkan hidup ini. Melanjutkan hidup layaknya orang normal. Ibu pun lambat laun termotivasi dan mulai terbiasa dengan keadaan ini. Kebutaan bukan halangan untuk meraih hidup, mimpi, dan cita-cita. Ibu terus berjuang. Perjuangan terbesar terasa saat Ibu memutuskan untuk tetap bersekolah pada lingkup anak-anak normal. Sampai pada akhirnya, Ibu dapat meraih gelar sarjana dan mengikuti program layanan pendidikan  bagi daerah terpencil ini,” begitu cerita haru yang penuh motivasi keluar dari mulut beliau.
“Plok...plok..plok..!!” kami bertepuk tangan untuk beliau, lalu memeluk beliau.
“Saya akan bersungguh-sungguh. Bu!”
“Saya juga.”
“Saya juga.”
Semua bergulat dengan perasaan masing-masing akan cerita Ibu Guru. Haru, kagum, bangga bercampur jadi satu.
“Ayo, Bu!” kami menarik beliau ke arah pancaran sinar matahari. Kami berdiri berjejer, memejamkan mata, merentangkan tangan, dan merasakan setiap jengkal anugerah Tuhan yang tak pernah putus buat makhluknya.
“Bu...!!” panggil kami dan beliau pun menoleh.
“Satu, dua, tiga...!!” kami memasukkan sebutir permen  ke dalam mulut beliau dan berlari.
“Anak-anak...!!” lagi-lagi Ibu berteriak histeris melihat ulah jahil kami.
***
Kami salut dan kagum pada perjuangan Ibu Tantri untuk memajukan dunia pendidikan. Dalam keterbatasan yang dimiliki oleh beliau, beliau masih bisa bekerja secara sempurna. Bahkan, beliau mampu mengenali kami satu per satu. Walaupun, tanpa pernah bisa melihat wajah kami secara langsung.
“Anak-anak hari ini tanggal berapa?”
“Tanggal 20 Mei, Bu!” jawab kami serentak. Lalu, Ibu Tantri diam sejenak.
“Saya tahu, Bu! Hari ini Hari Kebangkitan Nasional, kan?” celetuk Risma, satu bocah diantara kami.
“Selain itu, hari ini adalah hari terakhir kami bersam Ibu,” Haikal menimpali lalu tertunduk lemas.
Benar apa yang dikatakan oleh Haikal. Hari ini dan pada detik ini juga, tepat sudah satu tahun Ibu Tantri mengajar kami secara sukarela. Satu tahun, adalah masa bhakti pengajaran seorang guru dalam program layanan pendidikan bagi daerah terpencil, seperti kami. Program ini adalah bentuk realisasi dari UU No.20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 32 ayat 2 tentang pendidikan layanan khusus yang diberikan kepada anak didik di daerah terpencil atau terbelakang. Setiap tahunnya, kami memang mendapat jatah pengajar dari guru-guru yang berbeda. Dan, tahun ini merupakan tahun paling istimewa buat kami.
“Ada hitam ada putih. Ada suka, begitu pula ada duka. Ada pertemuan tentunya ada perpisahan. Tapi, ini hanya perpisahan sesaat anak-anak. Suatu saat, dalam kesempatan yang berbeda, pasti kita akan dipertemukan lagi,” Ibu Tantri mencoba menguatkan kami.
“Kami,pasti akan selalu merindukan Ibu. Semua tentang Ibu telah berhasil tertanam dalam hati kami. Ibu laksana lentera yang menerangi sisi gelap hidup kami,” ucap kami sambil menatap lekat beliau.
“Terima kasih anak-anak. Ibu cukupkan pelajaran kita hari ini. Semoga pelajaran terakhir ini bermanfaat buat kalian. Silahkan kalian istirahat dulu! Biar Ibu packing buat persiapan kembali ke kota.
Kami berhambur keluar ruangan. Merencanakan sesuatu akhir yang berkesan buat Ibu Guru kami tercinta. Namun sebelum rencana itu berhasil dilakukan, suara kentongan pertanda pasang air pantai membahana menyapa telinga. Kami panik. Pasang air tertinggi telah terjadi. Kami berlari berhambur mencari tempat yang paling aman. Dalam derap langkah kaki untuk kesekian kalinya, Haikal mengomando kami untuk berhenti berlari. Berputar arah, kembali ke rumah belajar menjemput Ibu Tantri. Kami menyetujui usul Haikal. Kami tak peduli lagi suara jeritan orang yang meneriaki kami untuk segera menjauh dari gulungan ombak beringas. Kami berlari dan terus berlari hingga tangan kami berhasil menggandeng tangan Ibu Tantri untuk segera pergi meninggalkan rumah belajar. Perjuangan serasa meruncing saat kami berlari bersama, berkejaran dengan gulungan ombak kejam yang sama sekali tak mau mengalah. Perjuangan yang terbingkai indah karena patrian kebersamaan.
“Kita sudah aman, Bu!”kata Haikal.
“Teman-teman yang lain lengkap, Kal?”tanya Ibu Tantri disela hela napas yang masih terengah-engah. Haikal pun menghitung satu per satu. Dan.....
“Silvi, Bu!”Haikal panik saat mendapati bocah paling kecil diantara kami tidak ada dalam gerombolan.
“Silvi???”Ibu menangis, dan kami juga turut menangis dalam kepanikan yang sangat.
“Sudah-sudah, hapus air mata ini. Kita harus tenang, agar pikiran kita tetap jernih dan tidak mikir yang macem-macem.Setelah keadaan ini mereda, kita langsung cari Silvi,” Ibu Tantri meraba wajah kami, dan mengelap air mata kami satu per satu.
Kami berpencar ke semua tempat yang biasa dikunjungi oleh Silvi. Tapi hasilnya nihil. Silvi masih belum ditemukan. Lagi-lagi, ketakutan menjalar dalam darah kami. Keputusasaan berperang dengan ketakutan melahirkan pikiran negatif yang antah berantah kacaunya. Kami, terduduk lemas. Air mata yang stoknya tak pernah habis itu meleleh begitu saja.
“Ibu Guru, kakak-kakak!” lengkingan nyaring khas suara anak kecil menyembul dari balik bukit.
“Silvi!” pekik kami.
“Sini!” ajaknya sambil melambaikan tangan. Kaki kami berjalan ke arahnya.
“Kamu disini dari tadi?” tanya kami penasaran, dan hanya dijawab dengan anggukan kepala. Dan dengan asiknya, dia menggandeng tangan Ibu Tantri ngeloyor pergi. Mau gak mau kami mengekor di belakangnya.
“Ini buat Ibu!” lanjut Silvi lagi. Ibu Tantri mencoba meraba sesuatu yang ingin ditunjukkan oleh Silvi. Dalam garis telapak tangan, beliau  mencoba merasakan sesuatu.
“G, U, R, U, K, U. GURUKU,”teriak Ibu Tantri,setelah berhasil meraba benda kasar yang terbuat dari ranting kayu pohon kelapa yang tenyata bertuliskan “Guruku” hasil karya si bocah cilik,Silvi. Kami takjub akan kenangan terindah Silvi yang diberikan kepada Ibu Tantri. Terkesan sederhana, tapi bermakna dalam.
Kami berpelukan dan bersorak senang akhirnya. Perpisahan manis manalagi diakhiri dengan iringan lagu Himne Guru mengantar kepergiaan Sang Maestro Guru Pujaan, Ibu Tantri. Meskipun roda mobil terus melaju membawa Ibu Tantri pergi, kami tak henti meneriakkan lagu perjuangan sang guru itu.
Terpujilah wahai engkau, Ibu Bapak Guru
Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku
Semau bhaktimu akan ku ukir di dalam hatiku
Sebagai prasasti terima kasihku
Tuk pengabdianmu
Engkau sebagai pelita dalam kegelapan
Engkau laksana embun penyejuk
Dalam kehausan
Engkau patriot pahlawan bangsa
Tanpa tanda jasa
“Terima kasih untuk semuanya, Bu.”
“Kobaran bara api semangat Ibu, akan kami lanjutkan. Kami akan memajukan Indonesia lewat pendidikan. Arang yang Ibu tinggalkan tak akan pernah berhenti berpendar.. Ibu Guru terima kasih,” kami berteriak lantang sambil melambaikan tangan untuk beliau. Lewat celah kaca mobil, Ibu menyunggingkan simpul senyum kecil disertai balasan tangan pula.
***

Senin, 23 Mei 2011

Artikel Ilmiah


PENDIDIKAN LAYANAN KHUSUS
MASYARAKAT DAERAH TERPENCIL DAN TERKENA BENCANA
Nastiti Rahayu VI C / 08411.199
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA

1.        Pendahuluan
Pendidikan merupakan salah satu kebutuhan manusia dalam upaya mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kualifikasi kemampuan yang mencakup kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, keterampilan, daya saing, semangat juang, dan kreativitas inovatif untuk dapat hidup mandiri dan berdaya saing. Oleh karena itu, pemerintah provinsi dan terutama pemerintah kabupaten/kota wajib memberikan layanan pendidikan bagi warga negara Indonesia.  Sesuai dengan isi dalam Pasal 31 ayat 1 UUD 1945 yang menyatakan bahwa “Tiap-tiap warga negara berhak mendapat pengajaran”. Dalam pasal ini menunjukkan bahwa pemerintah dan bangsa Indonesia menghormati dan melindungi hak asasi individu yang berkedudukan sebagai warga negara untuk mendapatkan pengajaran.
Tidak terkecuali, bagi masyarakat yang tinggal di daerah terpencil dan terkena bencana harus mendapat perhatian dan pelayanan khusus, agar semua warga Indonesia menjadi manusia-manusia yang berpendidikan. Persoalan mengenai akses jalan dan transportasi yang sulit, serta situasi bencana yang melanda semoga tidak merubah persepsi masyarakat terhadap pendidikan turut mempengaruhi turunnya minat bersekolah dan meningkatnya angka putus sekolah. Dengan demikian, pemerintah harus mensosialisasikan, memperhatikan, dan mengayomi masyarakat yang tinggal di daerah terpencil dan yang tinggal di daerah bencana agar mereka tetap memperoleh pendidikan. Pemerintah dapat merealisasikan dengan jalan pembukaan gedung sekolah baru, pemberian beasiswa pada tingkat SD dan SMP, penyediaan sumbangan dana bantuan operasional pada sekolah-sekolah, dan meningkatkan akses, ekualitas, dan ekuitas pendidikan.

2.        Pembahasan
2.1  Pendidikan Layanan Khusus
Mengacu pada UU No.20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 32  ayat 2 berbunyi: “Pendidikan layanan khusus diberikan kepada anak didik di daerah terpencil atau terbelakang, masyarakat adat yang terpencil, dan atau mengalami bencana alam, bencana sosial, dan tidak mampu dari segi ekonomi”.
Penanganan pelayanan khusus dapat dilakukan dengan cara pengaturan masalah penjadwalan masuk sekolah, intensitas pertemuan tatap muka, materi yang disampaikan seperti bidang matematika, agama, bahasa, dan bidang lainnya berdasarkan kebutuhan daerah setempat.
Pendidikan layanan khusus juga harus mempertimbangkan persiapan mental para anak didik. Penanganan pendidikan  dimulai dengan penanganan psikologis spirit belajar dan rasa optimisme menghadapi hidup, semangat bermain, menyatu dengan teman-teman sebaya, dan keceriaan mereka harus dipulihkan.

2.2 Daerah Terpencil dan Terkena Bencana
As any student of history knows, domestic and international conflict can stem from various factors including economic inequality, ethnic, and religious disputes, foreign exploitation, and resource deprivation. (http://books.google.co.id)
Beberapa wilayah di Indonesia yang miskin harta dan miskin ilmu seperti kehidupan anak nelayan di Desa Aeng Batu-Batu, Kecamatan Galesong Utara, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan yang merupakan daerah terpencil. Hantaman bencana  bertubi-tubi yang menghantam Indonesia,membuat dada ini tidak berhenti menangis. Seperti, tsunami Aceh, gempa Sumatra Barat, gunung meletus Yogyakarta, dan lumpur lapindo Sidoarjo. Mereka semua butuh uluran tangan demi kembali menapaki hidup yang layak lagi, dan pada akhirnya tercipta sumber daya manusia yang produktif. Ini dimaksudkan juga untuk kemajuan bangsa di kancah internasional. Pendidikan berkualitas adalah kunci mengkonversi dari kemiskinan dan keterbelakangan menjadi kemajuan, menjadi bangsa yang cerdas, adil dan makmur.

2.3 Upaya Pemerintah
Pemerintah telah menyiapkan penanganan jangka pendek (1-6 bulan) dan jangka panjang (4-5 tahun).Penanganan jangka pendek bertujuan memulihkan kembali kelangsungan proses pembelajaran dalam situasi darurat. Tahapan ini mencakup pendidikan formal (sekolah) dan non formal (luar sekolah). Pada jalur formal, pemerintah membangun sekolah tenda dengan kapasitas 40 orang per kelas. Setiap kelas ditangani tiga orang guru. Sekolah darurat didirikan di sekitar lokasi pengungsian.
Secara fisik rehabilitasi dan rekonstruksi secara sistematis, seperti penyediaan tenaga guru di tempat-tempat relokasi karena citra terdepan dalam soal pendidikan ini adalah guru, sarana-sarana pendidikan, dan menata kembali program belajar yang tertunda. Some of the greatest unsung heroes of our society are the teachers who spend their lives educating our children. (http://www.edubook.com/teacher)
Pendidikan harus terus berjalan. Pemberian pendidikan dalam keadaan bagaimanapun, bertujuan untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia. Tidak membayangkan, Indonesia yang menduduki peringkat ke-4 jumlah penduduk terbanyak harus bernasib sama dengan 14 negara yang jauh tetinggal dengan negara lain di dunia.
One way to learn what makes a difference and how much of a difference it makes is to measure schooling outputs in a large number of settings that vary in terms of the characteristics or inputs that are thought to make a difference. (Gary Bridge dkk, 1979:3)
Apapun dan bagaimanapun caranya menempuh pendidikan, sekalipun dengan segala perbedaan cara, tempat, keadaan serta karakteristik harus tetap menghasilkan lulusan yang berkualitas demi meningkatkan daya saing bangsa dalam pertarungan internasional.

3.    Kesimpulan dan Saran
3.1  Kesimpulan
Pendidikan layanan khusus dimaksudkan agar tidak ada anak yang putus sekolah dan tetap memperoleh pendidikan dalam keadaan bagaimanapun juga. Dengan jumlah penduduk yang padat, diharapkan output pendidikannya dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia sehingga mampu bersaing dalam dunia internasional sebagai negara maju dan berkembang.

3.2 Saran
                         Pemerintah perlu mengadakan penanganan secara cepat dan tepat mengenai pendidikan    layanan khusus ini dan perlu akses yang lancar pemberian bantuan berupa sarana dan fasilitas.

Sabtu, 21 Mei 2011

Asa Dalam Pilihanku

Hitam mengkilap menyala dari kulit ariku.Peluh menetes di sekujur tubuhku.Samudra kering merongrong melewati tenggorokanku.Siang ini,sungguh matahari berhasil menghajar ragaku,mambakar kulitku dengan segala keperkasaan teriknya.Batinku kesal.Dan kekesalan itu berbuntut panjang pada pekerjaan yang terus membuatku bergulat dengannya.Aku angkat tangan,tak sanggup untuk lebih lama berada di antara debu panas matahari.Berteduh di bawah pohon,begitulah aku memutuskannya.

Gesekan daun-daun berhasil menciptakan hembusan angin segar buatku.Membawa otakku berkelana menjajaki kehidupanku tempo dulu.Ada pulpen, buku, dosen, dan bangku kuliah, berfoya-foya nongkrong menjajakan uang sepuas hati.Sekelumit penjajakan kesenangan dunia yang aku torehkan.Tapi,itu semua tinggal seonggok cerita yang hanya bisa aku ceritakan,tanpa aku bisa melakoninya lagi.Duniaku kini telah berubah.

"Minum dulu,"sapa suamiku sembari ngelap air mata yang kau tak athu kapan jatuhnya.
"Maafkan aku,"lanjutnya lagi,sambil menenangkan buah hatiku yang juga turut nagis di gendhongannya.Mau tak mau,aku melemparkan pandangan pada dua sosok manusia yang jadi keluarga baruku saat ini.
"Untuk apa?"balasku dengan tatapan kosong.
"Untuk sebuah kesalahan yang tak termaafkan."
"Ini,bukan kesalahan.Tapi,inilah pilihan.Pilihan yang harus aku jalani dab aku pertanggungjawabkan dengan segala konsekuensinya,"begitulah aku mencoba berkilah pada sebuah pilihan yang telah aku pilih sendiri.Tanpa paksaan dan tekanan dari pihak manapun.Suamiku pun langsung membawaku dalam hangat peluknya.Kehangatan pelukan yang membuatku memilih dia daripada keluargaku.Kami larut dalam haru biru kesedihan.

"Sudah kamu pulang dulu sana.Sepertiga pekerjaan yang tertunda ini biar aku kerjakan.Bawa,baby ini pulang juga.Kasihan,terik matahari sudah semakin menggila,"saran suamiku.
"Tidak. Aku akan tetap disini menemanimu.Aku sudah berjanji untuk tetap susah senang disampingmu.
"baiklah,kalau seperti itu keinginanmu.Tapi,kamu harus istirahat disini saja,biar aku sendiri yang menggarap sawah.


Akhirnya,aku bersama anakku tetap menemani suamiku bekerja.Setidaknya itulah support yang aku bisa berikan buat keutuhan rumah tanggaku.Rumah tangga yang ku bangun tanpa restu keluargaku.Boleh sekarang segala tumpukan lembar kertas bernomial tak bersahabat lagi denganku, tapi aku lebih bahagia karenanya.Bahagia karena selalu ada perjuangan dalam setiap lembar meraihnya.bukan,bahagia karena setiap saat aku dapat menggeseknya dalam mesin elektronik yang dapat menelurkan uang.

Tetap dalam pertempuran hatiku,kucoba menyanyikan kidung haru buat anakkuMencoba menidurkannya dalam jarit gendhong usang yang terselempang di pundakku.sayup-sayup kidung itu pecah dalam lautan air mata yang lagi=lagi menganak sungai di pelupuk mataku.Aku rindu keluargaku, ayah, ibu, dan kakakku.

"Ayah,Ibu, aku rindu kalian.Sampai kapanpun kalian tetap penghuni paling istimewa di hatiku.Haru semakin memecah saat kidung lagu nina bobok kunyanyikan untuk yang kesekian kalinya buat anakku.Kidung yang 20 tahun lalu selalu dinyanyikan ibu buatku.

"Nina bobok,oh nina bobok"
"kalo tidak bobok digigit nyamuk"

Tetap ada asa dalam pilihanku agar suatu saat yang aku tak tahu kapan,aku dan keluarga kecilku bisa bersatu padu dengan ayah,ibu,dan kakakku.I MISS U ALL.

Senin, 16 Mei 2011

"MEREKA"

Kelam,ungu membiru lorong itu,jadi sahabat paling berharga sepanjang sejarah jalanku menapaki bangunan batu bata tua ini.Tak ada yang berarti,selain gelap dan gerah.Tapi,justru itu istimewanya.Lewat itu,aku bertemu dengan  sahabat-sahabatku.Dina,Lia,Devy,Siti,dan Bagus,itulah mereka.Sesederhana perkenalan itu yang membawa kami menjalani persahabatan ini.Suka,duka,aib,keluh,kesah,semua mewarnai perjalanan cerita inih.

Dampak perubahan pun sedikit demi sedikit mulai menggerogoti kehidupanku.Perlahan namun pasti,aku terpengaruh.Mulai dari perubahan style sampai segala sesuatunya.Dan karena mereka pula,aku tersadar bahwa jadi sesuatu yang sudah dari "sononya" itu lebih indah dan bermanfaat.Mereka membuatku menyadari segala sesuatunya jadi lebih berarti,dan bahkan aku menyesal,kenapa baru aku sadar sekarang??

"Wanita" itulah makhluk yang membuat dunia ini jadi berwarna.Yang hitam jadi putih dan yang layu jadi mekar.Menjadi wanita seutuhnya,itulah hal yang jadi planning aku sekarang ini.Segala atribut ketomboian,mulai ku copot satu per satu.Belum bisa diinggalkan semuanya sebenernya.Tapi,aku akan berusaha.Aku suka perubahan ini,karena memang baik adanya.Itu pula berkat mereka,para supporter terbesar dalam hidup aku,yaitu sahabatku.

Untuk mereka,jangan sungkan dan ragu-ragu lagi buat permak aku.Kenalkan aku dengan bedak,lipstik,eyeliner,maskara dan sebagainya.Terima kasih karena bersahabat dengan kalian membawa sesuatu yang besar dalam hidup aku.

Pengen aku ceritakan juga,bahwa karena mereka aku tahu bagaimana rasanya pahit dan manis dalam dunia yang namanya cinta.Cinta keluarga,cinta sahabat,dan pula cinta kekasih.Cinta ibarat granulla coklat dalam sebuah ice cream.Lama kelamaan akan tenggelam dalam manisnya lautan tebu gula.Lewat mereka,lagi-lagi aku menyadari betapa berkobarnya hidup ini dengan cinta.Mari,sahabat kita berdoa agar cinta selalu bersama kita dan tak akan menyakiti kita.

Buat Nhaz,Dina.dan Lia....."Berusaha tetep dan Usaha harus" cari cinta itu dan raihlah...
Jatuh,air mata,dan terluka hanya sekelumit aral kecil yang tersa indah saat kita dapat meraih sesuatu dengan segala usaha keras yang telah kita lakukan.
#hahahaha....ojo nangis ya cah moco iki...^^

Selasa, 10 Mei 2011

On Analisis vektor

Mata kuliah ini bertujuan mengembangkan kemampuan mahasiswa dalam memahami konsep dasar analisis vektor serta mampu untuk bereksperimen dan mengimplementasikan teorema dalam menyelesaikan masalah. Lingkup Bahasannya meliputi: vektor dan skalar; hasil kali vektor dan skalar; diferensiasi vektor; gradien, devergen, dan curl; integrasi vektor; teorema divergensi, teorema stokes, dan teorema integrasi yang lain; koordinat kurvilinear; serta tensor.

Vektor dalam fisika adalah besaran yang mempunyai besar dan arah,sedangkan skalar adalah besaran yang hanya memiliki arah saja.Contoh vektor adalah kecepatan,momentum,percepatan.Contoh skalar adalah gaya,luas,volume.

Sedangkan vektor dalam matematika biasanya disimbolkan dengan ruas garis berarah.Biasa ditulis dengan huruf besar yang disertai garis diatasnya atau dengan Alphabet yang dicetak tebal.

Istilah dalam vektor :
-Vektor Nol adalah vektor yang besarnya nol dan arahnya tak tentu (titik pangkal dan terminal berimpit)
-Kesamaan dua vektor,jika ada dua vektor yang mempunyai besar dan arah yang sama tanpa memperhatikan kedudukan titiak pangkal dan titik terminalnya.
-Kesejajaran dua vektor,jika ada dua vektor yang titik awalnya terletak pada letak yang sama.Besarnya bisa negaif atau positif.

(secuil hasil mesin ketik otak di tengah malam)
#masih kurang banyak materi yang belum masuk ^^

Jumat, 01 April 2011

Fisik adalah hal yang pertama kali dilihat oleh bola mata ini.
Kesan pertama pun juga didapat dari pesona ragawi.
Urusan tindak tanduk dan hati baru setelahnya.
Baru setelah terjadi aliran elektron lewat jabat tangan.
Jelas itu semua manusiawi.
Hidup pula sebuah pilihan.
Pilihan,Pengorbanan,dan Perjuangan.
Termasuk aku memilih hidup yang seperti ini.
Jelas hidup yang aku pilih bukan tanpa alasan.
Semua beralasan tentunya.
Sederhana dan Enjoy ajja syarat mutlak untuk menjalani semuanya.

Jumat, 25 Maret 2011

"GENDHING"

Reaktan partikel-partikel uap air dan amoniak telah menemukan chemistry-nya.Lewat intaian barometer,mereka berperang dan akhirnya sama-sama jatuh ke tanah menjadi hujan.Hujan dengan gendhing kerinduan.Rindu pada sosok sederhana yang selalu berjibaku dalam diam,bergulat dengan asa,dan berpacu dalam gelap.Dialah,murid sekaligus motivatorku.Gendhing,namanya.

Hari ini,tak tampak Gendhing menyedapkan bola mataku.Biasanya,Gendhing adalah orang pertama yang mengisi ruang kelasku.Duduk paling depan,dan sudah siap dengan pena yang akan menari lewat sela jari tangannya.Berhias pula dengan simpul senyum kecil yang tersungging di sudut bibirnya.Dan terakhir,dia akan memberikan secarik kertas berwarna hijau,dengan coretan yang teramat sederhana,yaitu "Guruku".

"Hyah,hanya coretan itu yangs elalu dan tak pernah lupa dia berikan padaku."Terlihat sangat sederhana,tapi berjuta makna buatku."
"Bu,benarkah hari ini hari terakhir ibu ngajar disini?"celetuk salah satu muridku,yang berhasil mengusir semua lamunanku.
"Tak ada hari terakhir buat ibi untuk ngajar disini.Jadi,suatu saat ibu akan kembali disini,dan bertemu dengan kalian lagi.Doakan,saat ibu kembali disini,ibu sudah menjadi guru sejati,bukan seorang mahasiswa yang hanya praktek jadi guru,OK!"aku berkoar penuh semangat,mencoba menyamarkan gundah yang terus berontak.
"Kami akan selalu merindukan ibu guru.Selalu.Termasuk Gendhing,"mereka merespon omonganku.
"Sungguh,secuil pengalaman ini telah menggoreskan luka terindah di hatiku.

Dentuman jam bagai godam munkar nakir,pertanda awal perpisahanku dengan sekolah dan kota ini.Tapi,kaki ini enggan melangkah pergi.Gaya tarik magnetik Gendhing,memaksaku tetap berdiri mematung disini.Aku menunggu Gendhing memberikan coretan itu lagi atau bahkan bukan coretan itu lagi yang akan dia berikan,melainkan teriakan lantang dengan syair "Guruku" lewat mistik suaranya.Kenapa mistik?karena tak pernah sekalipun aku mendengar dia berucap.

Masih dalam benteng pertahananku,kucoba melemparkan pandangan menjajaki semua penjuru sekolah.Kali-kali aja,tiba-tiba Gendhing menyeruak diantara gundhul-gundhul muridku yang lain.Tapi,sekali lagi hasilnya nihil.Hingga,aku benar-benar harus mengucapkan salam perpisahan.

Gagang pintu mobil kubuka perlahan.Persneleng gas pun dinyalakan,as roda mobil sedikit demi sedikit bergerak maju,selaras dengan setiap tarikan yang diberikan.
"Selamat tinggal semua,dan selamat tinggal Gendhing.Gurumu ini,akan selalu menginmgatmu,"batinku sambil memandangi dua puluh lembar kertas berwarna hijau yang bertuliskan "Guruku".

Disela lamunku,tiba-tiba mobil berhenti karena dikejutkan dengan mobil berwarna silver yang tiba-tiba memotong jalan,menghadang mobilku.
Si empu mobil penghadang,menunjukkan batang hidungnya.Betapa,terkejutnya aku saat melihat bocah belasan tahun pencuri hatiku.Gendhing.Puzzle hati yang sempat terbongkar cacah,kini tertutup sempurna lagi.Aku bungah melihat kehadiran Gendhing.

Tapi,pemandangan lain datang dari sosok sederhana sang murid itu.Dia tak lagi memegang pena sahabatnya.Daging isi hasta dan pengumpil itu,kini berubah jadi seuntai kain panjang tak bernyawa.

"Beginilah,Bu keadaan Gendhing sekarang.Tak hanya suaranya saja yang hilang,tapi sekarang tangannya pun menyusul menjadi aksesoris dirinya yang terlihat utuh tapi tak bisa buat apa-apa,"cerita pilu yang datang adri gendhing syahdu sang ibunda Gendhing.

Ternyata selama ini, Gendhing adalah penyandang tunawicara yang mati-matian berjuang di sekolah anak-anak normal.Dan,sekarang tangan sebagai penyambung lidahnya,harus mati tak berfungsi lagi.Pasalnya,itu dikarenakan kecelakaan beberapa hari lalu yang menimpa dirinya.Sungguh,tak terbayangkan bagaimana bisa anak sekecil itu survive dengan segala ketidakberdayaan dirinya,tapi masih bisa mengumbar senyuman.

Air mata itu,membanjiri pertemuanku dengan Gendhing.Getir pilu semakin memuncak,tatkala terlihat setangkai bunga mawar yang dicokot dengan barisan giginya.Bersusah payah dia berusaha memberikan kenangan tersendiri yang tetap terlihat sederhana tapi kesannya langsung menghujam jiwa..
"Subhanallah....!Perjuangan bocah itu memporak-porandakan pertahanan dinding hatiku.Saking girangnya,kupeluk erat Gendhing,dan berulang kali kulantunkan gendhing syahdu coretan "Guruku" ditelinganya.
"Guruku....Guruku....Guruku"

Selasa, 22 Maret 2011

Alat Perangkap Tikus Rumah

A.     Proses pembuatan
1)      Siapkan kawat kotak–kotak beruuran 40 cm x 40 cm
2)      Susunlah komponen pada balok fungsi
3)      Satukan dan hubungkan balok fungsi dengan kawat kotak – kotak
4)      Berikan bantala berupa kayu atau plastik agar tidak menimbulkan arus listrik karena menyentuh tanah
5)      Hubungkan dengan sumber listrik PLN
B.     Cara Kerja
1)      Letakkan MOUSNARE di tempat tikus biasa lewat
2)      Tancapkan stop kontak pada listrik di rumah anda
3)      ON kan saklar pada balok fungsi
4)      Tekan tombol ON pada remot
5)      Alarm berbunyi berarti tanda tikus mati
6)      Tekan tombol OFF pada remot
7)      OFF kan saklar pada balok fungsi
8)      Tarik stop kontak dari listrik


Senin, 21 Maret 2011

Juurrr

AAaaaaaaaaaaarrrrrrrrrrrrrrgggggggggghhhhhhhhhhhhhhhhh.............................................................................
Teriaaaaaakkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk sepuasnyaaaaaaaaaaaaaa................................................................
Mending....................................................................

Rabu, 16 Maret 2011

Luvlylate #part 4





Kecacatan bukanlah kekalahan
Kelengkapan bukanlah suatu kemenangan
Tapi bisa menerima keadaan apapun yang diperuntukkan oleh
Tuhan untuk kita, itulah kemenangan yang sempurna.....
Nhaz-Thie-Ty
§§§§§

Badanku agak meriang karena kecebur kolam kemaren. Mau sekolah pun rasanyan males banget. Apalagi hari ini aku ada tambahan pelajaran. Ditambah lagi pelajarannya adalah fisika. Dimana gurunya susah banget  diajak kompromi. Jadi males nech.
“ Zhie.... Nao udah dateng tuch”, panggil bunda di luar kamarku. Karena insident kemaren aku ga mood banget naek angkot, jadilah Nao yang jadi tumbal buat jemput aku. Soalnya diantara semua temenku, Naolah yang jarak rumahnya paling deket denganku. Kulirik jam dinding kamarku, dengan cepat kusambar tas di atas meja belajarku.
“ Bunda, Nhazie berangkat!! Assalamualaikum.....”,
“ Hati-hati .....ntar ga usah pulang sore”, nasehat bunda penuh sayang.
“ Tumben lu agak rapi begitu.....”, sapa Nao saat aku menghampirinya.
“ Masak sich, padahal hari ini gua ga mandi lho, nech bau.....”, dengan senang aku menggoda Nao sambil menyodor-nyodorkan ketekku ke arahnya.
“ Hihihihi......ne anak kapan sich mau berubah”, dengan jijay Nao berjalan mendahuluiku.
“ Sialan lu Zhie udah 3 kali ini gua bolak balik ke rumah lu.....”, dengan kesal Nao menceritakan kisahnya.
“ Ko bisa sich? Lu nya aja yang bego kale.....
“ Gua ketipu tuch ama tampang marmut lu, tadi di jalan gua ngeliat lu nebeng ama anak kelas XI, eh pas gua dekatin.....”,
“ Hahahaha........”, dengan renyah aku menertawakan Nao.
“ Kampret lu !”
“ Stop...stop !!!! gua turun sini aja ntar gua jadi bahan omongan lagi gara-gara nebeng lu “, aku berhenti di deket perpus skul dan berjalan sendiri menuju my favorite class.
Seperti pagi-pagi biasanya, sebelum menuju kelas aku mampir dulu ke kelasnya anak-anak. Mulai dari kelasnya dava ama faya ampe kelasnya justice. Sempurna. Akhirnya dengan berceloteh ama anak-anak 100% mood yang sejak dari kemaren ilang kembali dengan sempurna dan hidup di setiap detak jantung dan aliran darahku.
“ Eh...marmut, udah sehat lu ?” tanya sisil saat aku memasuki kelas.
“ Lu dewe gimana ?” aku malah balik bertanya sambil naruh tas di bangku.
“ Lu liat ndiri aja, giman udah buaek banget kan ?” denagn lincah sisil berulah di depanku.
“ Sippp !!”
“ Lu gimana ?” ulang sisil.
“ Sama donk, gua juga udah buaek banget.....”, dengan lincah juga aku menirukan gerakan sisil dan tawa renyah pun langsung membahana.
“ Ya, jelaslah lu baek-baek aja, lu kan cewek super”, dengan tampang menyebalkan pake banget, tba-tiba Nao ada diantara aku ama sisil.
“ Bukan cewek super kale tapi PK ( Premanisme Kampung )”, bak burung emprit, sastra pun ikut berat cuit menggodaku.
“ Sastra.....Nao...menyebalkan”, teriakku sambil nimpuki mereka lagi-lagi tawa itu pun meledak di mulut kami berempat. Dasar... kenapa sich mereka hobi banget ngejailin seorang nhazie ?? tapi, kalau ga seperti itu ga ada sesuatu yang berbeda, unik dan menyenangkan yang akan terkenang sewaktu kita lulus skul ntar.
“ Anak-anak, silahkan buka bab 5 ?” itulah kalimat pertama guru fisikaku saat tiba di kelas. Giman ga asyik banget kan ?
“ Absent...????’ dua suku kata itu menjadi bandalan guruku untuk senam jantung waktu pelajaran fisika.
Kontan aja semua temen-temenku pada geer setelah mendengar kata-katanya.
“ 7 “, angka yang menjadi favoritku itu pun jadi sasaran. Tanya jawab ini itu berlangsung dengan seru dan menegangkan.
“ Nhazie....”, kontan aja aku kaget setengah mati, my master fisika memanggil namaku. Dengan ragu aku mendongakkan wajahku yang ranum kala itu. Semua lamunanku berlarian entah kemana, tapi herannya Cuma satu yang tertinggal, bilu. Entah kenapa dalam suasana segenting ini pun namanya tidak mau lepas dari syaraf pikiranku.
“ Bagaimana cara mencari frekuensi dua benda dengan resonansi yang sama ?” aku cuma menanggepi dengan clingak clinguk aja.
“ Jangan kebanyaka pacaran aja, sekolah penting buat masa depan. Gimana punya pacar ga ?” dengan sabar aku mendengarkan khutbah guruku dan kalimat terakhirnya angka mati buatku.
“ Gag punya, pak !” dengan tersipu aku menjawabnya diiringi suara gaduh temen-temenku.
“ Wahh...gimana nech ketua OSIS kok ga punya pacar ”, punya pacar itu ga pa yang penting jangan terlalu menomorka pacaran, apalagi sekarang kalian udah kelas 3. Jadikan pacar penyemangat belajar kalian “, suara applause pun langsung riuh terdengar. Bersamaan itu pula aku dikagetkan dengan getar Hpku.
“ Justice “, gumamku
“ Tumben nech anak sms pada jam pelajaran kayak begini .....”
“ jas-jus ‘ zhie, lu keluar sekarang bisa ga ? gua ma faya nunggun di kamar mandi.
“ nhazi-e “ siipp...!! tanpa ditemani sisil aku segera pamit ke kamar mandi.
“Sori....lama ya nungguin gua “, kataku saat bertemu ama justice and faya. Hening seketika menyapa. Aneh rasanya. Perasaan tadi pagi masih fine-fine aja tuch.
“ Mentang-mentang diam adalah emas pada ga ada yang bersuara nech “, celetukku memecah keheningan.
“ Zhie....”, mereka serentak memanggil namaku
“ Ga usah koor gitu donk “, kilahku
“ SGG udah ga ada.....”
“ Deg...”, jantungku seakan menghentikan aktivitasnya. Lagi-lagi hening yang menyapa. Tak ada satu pun dari kita bertiga yang berani menatap. Hanya tertunduk lesu dengan pikiran kita masing-masing.
“ Ngga....ngga...ngga...boleh”, cegahku
“ Bukan seperti itu, anak-anak dala SGG. Mereka yang gua kenal begitu semangat and easy going dalam menghadapi hidup. Kasih gua alasan kenapa begitu entengnya kalian memutuskan hal bodoh kayak begini ? apakah kalian nggak ingat, betapa dulu kita berbahagia atas persahabatan ini dan juga betapa banyak....”
“ Cukup Zhi........,” dengan keras faya membentakku
“ Nggak, fay.......apapun yang terjadi lu ama justice adalah keluarga kedua gua....”
“ Zhie, lu ga usah mempertahankan sesuatu yang udah ga bisa dipertahanin.......lu bayangin aja betapa sulitnya kita mo jalan bareng sekarang. Pasti ada-ada aja dech alasan dari kita. Biarlah dulu itu menjadi kenangan terindah dalam hidup kita bertiga.
“ Sudah Zhie, ada hal yang harus lebih kita pikirkan daripada persahabatan ini......., sebentar lagi kita UAN. So.......thinking it....”
“ Just..Ffay.....”, dengan perasaan campur aduk kupeluk mereka dengan erat. Persahabatan itu kini sudah berakhir. Persahabatan yang selalu kuelu-elukan talinya telah terputus dan tak akan bisa kusambung lagi. Ibarat air, persahabatan itu kini sudah menguap dan uap kebahagiaannya itu hanya tinggal di angkasa. Kini hanya satu yang ada di hati dan jiwaku.  Walo jauh tapi dekat kumiliki dia di hatiku. Bilu itulah jawabnya. Sesak menghantam dadaku, langkahku lunglai tanpa semangat. Suara decak sepatu yang berperang dengan lantai seakan ikut menangis melihatku. Aku benar-benar ga rela persahabatan itu harus berakhir seperti ini.
§§§§§























7




“ without dreams life happens to you “
“ with dreams you make life happens “
Nhaz-Thie-Ty

Seharian aku mengunci diri di dalam kamar. Nhazie yang begitu semangat, telah mati hari ini. Tidak cinta, tidak persahabatan, semuanya selalu menyisakan celah luka yang mendalam, luka yang perlu banyak waktu untuk tahap penyembuhan. Pondasi persahabatan yang terbangun dari senyum, tawa, bahagia, sedih dan tangis hancur luluh lantah menyatu dengan bumi. Yang harus dihancurkan oleh satu material yaitu ketidakkompakan.
Samar-samar diluar kamar aku menangkap pembicaraan bunda dengan seseorang. Semakin lama suara itu terdengar mendekat dan sampailah getaran suara itu di depan kamarku.
“ Kira-kira ada apa ya nak dava, kok nhazie seharian betah bener di dalam kamar ?” aku menangkap nada cemas dari suara bundaku sayang.
“ Dava juga kurang tahu tante, soalnya hari ini dava juga belum ketemu sama sekali ama nhazie.......”
“ Mungkin dengan kedatangan nak dava, tante tahu jawabannya.......”, kalimat terakhir bunda pun diiringi suara ketokan pintu kamarku. Berkali-kali sudah diketuk, tapi tak kuhiraukan juga. Melihat pintu tak dikunci, si empu pengetuk pintu masuklah sudah.
“ Tumben, hari ini betah ga keluar kamar. Semedi lu ?” sindirnya
“ Gua tahu pasti seharisn ini lu juga belum makan, nech gua bawain wedang ronde plus roti bakar dengan keju dan coklat “. Dava meletakkan menu favoriteku itu tepat dihadapanku. Aroma wedang ronde menusuk hidungku. Wanginya mengikuti irama sarafku dan sampailah merangsang pada perutku. Kontan aja cacing-cacingnya pada mukul gendhang minta diisi.
“ Makan aja dulu, katanya life must go on “, semua kata-kata dava bernada semangat untukku.
“ Dav.......”, panggilku diiringi bulir air mata yang ga tau sejak kapan membasahi pipiku.
“ Gua udah ga punya sahabat lagi, mereka udah pergi dari hidup gua,......”
“ Kalo itu jalan terbaik, kenapa mesthi ditangisi dan disesali dengan santai dava menanggapi omonganku. Hening kemudian menyapa. Hanya isak tangisku yang sesekali mungkin mengisi keheningan diantara aku ma dava. Hingga dava lagi yang memulai pembicaraan.
“ Zhie, tidak hidup namanya kalo tidak pernah sedih, tidak hati namanya kalo tidak pernah dilukai. Tidak hati pula namanya kalo tidak bisa menyembuhkan luka dan sekarang tidak nhazie namanya kalo trus seperti ini. Tak harus orang yang kita cintai ato kita sayangi trus ada di sisi kita, tak pelak juga saking sayangnya, kita kerap tidak sadar kalo rasa sayang itu justru luka baginya.......untuk itu biarkan semua cinta dan sayang mengalir dengan sendirinya......”, kupandang tajam wajah dava. Urat-urat wajahnya menceritakan kesedihan dan kekecewaan. Bulir bening itu meluncur dengan mulus di pipinya. Hanya ada satu kata dalam ruang fikirku. Dava – nangis.
“ Dav, lu kenapa ? jangan gara-gara gua nangis, lu ikutan nangis donk “, disela air mataku itu aku untuk mencoba untuk tertawa.
“ Gara-gara lu sich. Dasar marmut !! jangan nangis-nangisan donk jelek tahu.....”.
“Enak aja, gua ga nyuruh lu-nya nangis “, belaku
“ Gua kan ga tega ngliat lu “, balas dava sambil ngelap air matanya.
“ Dav, lu sahabat yang  gua miliki sekarang ini “, dengan sayang sebagai sahabat, kupeluk dava dengan erat.
“ Udah dech, gua cabut dulu yach. Janji ga nangis lagi, othree !!!”

Kedatangan dava bener-bener memberikan extra spirit buatku. Sosok justice ma faya srsaat tergantikan oleh sesosok dava yang begitu menghidupkan hidupku menjadi lebih hidup. Katanya “ Star Mild “ sich Lasta Masta. Tapi, aku masih ragu air mata dava menyisakan pertanyaan yang ku tak tahu apa jawabnya.
“ walaupun lu.....just, fay udah ga nganggep gua sahabat lagi, tapi kalian masih tetap menjadi sahabat gua untuk sekarang dan selamanya..........
§§§§§




























8





“ everything i do........
“ i give my heart and soul
“ i can hardly breath i need you “
Nhaz-Thie-Ty

Moment kelas 3 yang seharusnya dipusatkan pada pelajaran kacau sudah oleh problem-problem yang mengusikku. Mulai dari cinta ampe persahabatan semuanya bersalah. Kayaknya kesedihan trus menghantuiku saat ini. Kehilangan seorang sahabat sama dengan kehilangan semangat buatku. Lihat aja hari ini aku males banget menginjakkan kaki di skul. Apalagi mau tidak mau sekolah lah yang menjadi rumah keduaku.
“ Tumben lu lemes githu, biasanya udah berkicau tuch mulut “, sapa seseorang yang mencoba menjajari langkahku.
“ Biasa....gua lagi males banget pake puoll “, balasku tanpa semangat.
“ Ooo...”, balasnya. Ekspresinya kontan aja membuatku terkejut, soalnya ga mungkin banget temenku Cuma nanggepi omonganku pake “ O “ doank. Apalagi melihatku seperti ini pasti dech khutbah-khutbahnya udah pada rame di telingaku. Dengan malas ku lirik orang yang sedang menjajari langkahku.
“ Bilu.....!!!”
“ Biasa aja kale, ga usah terkejut githu. Emang gua syetan apa ?
“ Hhh...hh...nggak kok “, jawabku gugup
“ Lagi kesambet syetan lu ?” tanyanya.
Akibat pemandangan yang begitu aneh menurutku, akupun berhasil tak menghiraukan serentetan pertanyaan bilu.
“ Payah lu zhie, ga asyik banget......dari tadi gua nanya lu, eh lu-nya asyik melototin gua mulu.....”.
  Eh, sory-sory yach, PD amat sich lu, sapa juga yang melototi lu. Liat tuch ada tato cabe di gigi lu,” kilahku saat bilu tahu kalo sejak tadi aku terus ngliatin dia. Tanpa permisi ato basa-basi lagi aku langsung ngibrit ninggalin bilu. Tak lupa juga sebelum aku melangkahkan kaki mungilku, kulirik wajah tengsin bilu akibat tato cabe bo’ongan itu. Lucu banget dech, seorang bilu yang selalu perfect dengan style-nya harus tengsin akibat tato cabe bo’ongan itu.
“ Wahh...ga sia-sia donk kedatangan gua kemaren ke rumah lu “, sapa dava yang ga sengaja bersisipan jalan denganku.
“ Thanks ya “, ucapku senang
“Tapi aneh dech gua liat-liat dari tadi tuch mulut senyum-senyum trus......”.
“ Hmm...hmmm....yang aneh bukan gua tapi lu dava sayank..”, kataku barusan ternyata menjadi angka mati bagi dava. Kontan aja dava berubah 180˚ “.
“ Dav, lu kenapa sech ?” jangan ikut-ikutan gua donk, biar gua aja yang sedih saat ini. Nech aja gua udah setengah mati ngehidupin Nhazie yang dulu lagi, Nhazie yang selalu ceria dan selalu rame orangnya, apalagi tadi gua dapat hiburan yang bener-bener nyenengin gua .”
“ Jadi bukan gua donk yang ngebuat mulut lu ga bisa mingkem lagi itu.
“ Justru malah lu orang pertama yang ngebuat gua seperti ini.
“ Orang keduanya sapa donk ?”
“ Bodo banget sich lu, ya jelas bilu lah, emang mo sapa lagi ? kebanyakan nanya lu ?’
“Bilu ???”
“ Yuppss....aneh banget yach ? lu aja yang ga ngrasain aneh begitu apalagi gua !!
 “ Zhi, kalo gua nyuruh lu ....!!! lu mau ga ?”
“ Ya jelas maulah, apalagi untuk lu, selama gua bisa gua akan lakuin kok .”
“ Sumpel ! ga nyesel lu ?”
“ Insyaallah ,” jawabku sante-sante aja
“Gua nyuruh lu.....”.......”..................” jauhin bilu !”
“ deg..”
“......................”
“.................”
“ Sakit lu Dav. Saat ini gua udah kehilangan sahabat-sahabat gua yang teramat gua sayangi, trus lu sekarang nyuruh gua ngejauhin bilu, trus selanjutnya lu bakalan bilang kalo gua udah ga pantes jadi sahabat lu lagi, tega banget sich lu, dav !!!. padahal menurut gua lu tuch orang yang paling ngertiin gua, lu tahu kan betapa sayangnya gua ama bilu, bahkan gua rela nrima perlakuan bilu yang menurut gua udah keterlaluan banget, gua udah berdiri kokoh di atas semua itu. Seharusnya lu juga tau gua seperti itu karena gua bener-bener sayang ama bilu. Dan baru detik ini bilu bilu baek ama gua, tiba-tiba lu kayak gitu. Sorry dav ! nhazie sahabat lu ga bisa nglakuin permintaan lu “, dengan perasaan campur aduk aku langsung pergi ninggalin dava.
“ Heran dech, masak sich seoang sahabat tega berbuat kayak getho. Harusnya kan selalu support dan jadi sahabat yang bener-bener sahabat....,” aku pun ngedomel sendiri. Masih tidak percaya dengan sikap dava barusan. Saking jengkelnya, ampe kelupaan nanya alasan dia berbuat kayak githu.
“ Ribut amat sich lu ?” ucap sisil saat melihat ulahku
“ Sisil.......,” tanganku pun meraih pundak sisil dan membuat sisil tambah heran dengan ulahku.
“ Gua sedih banget.....kemaran gua putus persahabatan ama SGG dan sekarang dava nyuruh gua ngejauhin bilu, bayangin aja sil betapa banyak celah luka ini ada di hati gua....!
“ Lu ama SGG bubaran, kacau dech. Padahal gua sempet iri ama persahabatan kalian, tapi kenapa sekarang jadi seperti ini, “ sisil pun juga ikut sedih mendengar ceritaku.
“ Sabar aja , kan masih ada gua, Nao, sastra. Walopun kita-kita ga bisa seperti SGG tapi kita-kita akan berusaha menjadi yang terbaek buat lu kok, udah dech ga usah nangis lagi “, sepenuh hati sisil mencoba menegarkan aku.
“ Biar lu fersh, kantin yuuks.....,” gua traktir dech,” sisil langsung menarik tanganku menuju kantin
“ Bener nech lu yang traktir jadi ntar kalo gua mau ambil 3 botol frestea, 2 mangkok bakso dan 5 bungkus coklat ga perlu ngoret kantong donk ,” dengan cengir aku mengikuti langkah sisil.
“ Wahh...jangan-jangan cerita lu tadi bo’ongan lagi, biar lu dapet traktiran dari gua.
“ Ngga percaya ama gua........”
“ Dasar, giliran makan aja masalah seberat entu bisa lu lupain......”
“ Heheehehehe.....”
“ Kata orang makan adalah salah satu solusi nyelesein masalah, jadi untuk saat ini gua pengen kembali hidup kayak biasanya, Nhazie yang ga pernah kalah dengan yang namanya masalah. Ayo Nhazie semangat ,” dengan semangat kemerdekaan aku mencoba kembali membangun diriku yang seperti dulu.
“Perasaan yang bilang kalo makan adalah solusi entu SGG tuch......,” sisil mencoba menerka
“ Emang ......iya !!! sampai kapanpun SGG adalah keluarga kedua gua dan lu, sastra ma nao adalah sahabat gua juga. Udah sil makan nyokk....!!!
§§§§§



Derai hujan membasahi bumi
Iringi kepergianmu dari sisiku
Samar terdengar langkahmu menjauh
. . . . . .
Tiada derita pernah kualami
Sehancur denganmu, sepanjang umurku
Saat kuinginkan dirimu . . . . . .
Gerimis turun kala siang itu. Menari di langit dengan suara yang diciptakan oleh gesekan dedaunan dengan air. Udara panas tergantikan sudah oleh udara segar nan sejuk yang tiba-tiba menyentuh permukaan kulit.
“ Kok hujan ya sil, jadi ngantuk nech gua ?” kuletakkan kepalaku diantara kedua tanganku di atas bangku.
“ Sama zhie, gua juga ngantuk banget nech.....”
“ Kalo hujannya ga reda-reda, ntar gimana ya gua pulangnya.”
“ Waduhh...sory ya zhie, hari ne gua ga bawa motor.......”
“ Gag apa kok sil, palinh-palinh ntar ujung-ujungnya gua juga naek angkot
“ Bahaya tahu.....sore-sore begini seorang cewek naek angkot, bareng dava kan masih bisa ?”
“ Ngga....ahh.....gua lagi kesel ama tuch anak .”
“ Insiden tadi pagi ya ?” tanya sisil.
“ Hmmm.....,” jawabku malas
“ Udah dech gua yakin kok dava kayak githu pasti ada maksudnya. Apalagi dulu lu kan pernah ada feel ama dia, bisa aja dia ga mau kehilangan lu karena lu-nya jadi baekan ama bilu...”
“ Ngaco lu. Dava tuch dah punya soulmate. Itu lo yang namanya praba yang gua ceritain kemaren-kemaren itu. Udah dech daripada kita nunggu guru bimbel kita yang ga jelas kemana, kita pulang nyokk, ujan-ujan begini kan enak, dingin-dingin empuk....hehehehe............”
Akhirnya siang menjelang sore itu aku cabut ama sisil. Biasa kita bolos ga ikut bimbel. Abis mau gimana lagi, guru bimbelnya ga nongol-nongol. Udah seharian bete mulu ditambah lagi dech ama masalah nunggu menunggu yang telah diakui oleh dunia tuch masalah menjadi masalah paling ngebetein.
Di tengah derasnya hujan yang tengah mengguyur aku ama sisil malahan asyik mendrible bola basket yang ada di lapangan belakang. Walopun kita ga bisa maen sich, tapi seru-serunnya asyik bener. Sampai sepasang mata yang tengah mengawasi kami tak terhiraukan sudah.
“Zhi....”, teriak sisil yang suaranya mencoba menyamai suara hujan
“ Apaan ?” balasku sambil terus memaenkan bola basket itu.
“ Faya ama Justice “, lanjutnya
“ Apa ?” tanyaku minta diulang
“ Faya ama Justice “, setelah mendengar kata-kata sisil aku melihat ke arah mereka.
“ Mereka ga nyariin gua kok, nhazie kan udah bukan temen mereka “, jawabku kesel
“ Zhie....”, sisil berulang-ulang memanggil namaku
“ Apaan lu sil “, aku mulai bener-bener kesel
“Iitu !” aku pun mengikuti arah telunjuk tangan sisil yang mengarah pada faya ama justice yang lagi berjalan ke arahku. Dengan arah berlawanan dengan mereka, akhirnya bertemulah kita pada satu titik.
“Gua kesel ama kalian, jadi ga usah dech kalian cari-cari gua lagi. Cukup !!! gua ga mau nangis lagi dan Yang pengen banget gua ucapin thanks karena hampr dua tahun setengah lu-lu pada udah jadi sahabat gua, thanks....”, tanpa pamit aku langsung meninggalkan mereka dengan tak satu pun keluar dari mulut  mereka.
Kala itu skul udah pada rame oleh suara anak kelas 3 yang udah pada selesai bimbel. Aku pun berdiri di pinggir jalan sambil menunggu angkot lewat. Dengan badan kedinginan karena hujan, aku mencoba menggosok-gosokkan tangan menciptakan kehangatan. Lima belas menit sudah aku berdiri tanpa hasil. Mana jam trus berputar dan hari pun juga semakin tambah petang. Badanku pun tambah menggigil kedinginan.
“ Help me, god ,” doaku dalam hati
“ Ya ampun zhi, lu nungguin dava ya....dianya udah pulang ‘, suara bilu tiba-tiba menyapa gendang telingaku.
“ Ngga kok, gua nungguin angkot nech. Kok belum nongol-nongol ya......”
“ Bareng gua aja ”, entah ini mimpi apa bukan, tapi saat ini bilu bener-bener buaek banget ama gua. Beda 180˚ dech ama dia yang dulu.
“ Makasih, tapi gua naek angkot ajalah. Rumah lu ama gua kan ga sejalur, ntar maghrib lu baru nyampe rumah lagi “, dengan suara yang bergetar karena dingin aku mencoba menjelaskan semua pada bilu.
“ Gag usah ngeles trus githu donk, gua ikhlas kok. Nech lu paku jaket gua, pucat banget tu muka lu “, bilu menyodorkan jaketnya padaku.
“ Udah dech ga usah, gua udah terbiasa kok seperti ini. Apalagi ntar kalo gua pake jaket lu, jaket lu robek lagi, gua kan anaknya pecicilan, banyak ulah. Belum lagi kalo gua naek motor lu lagi, ga kebayang dech apa yang akan terjadi......,” aku masih tetap dalam pendirianku.
“ Pasti dulu gua sering bikin lu bete, kesel, marah dan sakit hati, Nhazie....gua minta maaf atas semua yang pernah bikin lu sakit.............tentang masalah “ bra “ itu, tentang gua yang sering ngata-ngatain lu.....,”
“ Ga perlu minta maaflah, gua udah terbiasa kok sama hal-hal kayak githu, apalagi lu yang berulah, itu udah makanan gua sehari-hari......”, sebelum aku mengakhiri kata-kataku, bilu langsung menarik tanganku naek ke atas motornya. Mungkin dia tidak tega melihat aku yang trus menggigil kedinginan karena hujan.