Saat rembesan air mulai berkapilaritas dengan tanah liat yang telah berubah menjadi genteng, saat itulah saat yang membuat hati kami ketar-ketir. Takut-takut kalau air itu akan secara liar memporak-porandakan rumah kami, menghajar kami dengan segala keganasan elemennya, dan mengusir kami dari kefanaan dunia. Langit menangis, dan kami pun turut larut di dalamnya.
Dian terang, mengkristal dalam bulir bening air mata kami. Berkilau, dan penawaran kebahagiaan tersaji disana. Keindahan kemilau cahaya itu berasal dari aura guru kami. Beliau adalah Ibu Tantri. Sosok guru bersahaja yang mengentas kami dari terik matahari yang berpadu padan dengan gemuruh letupan ombak pantai. Menyentuh hati kami dengan penjajakan dunia pendidikan yang jauh lebih berharga daripada uang. Akhirnya, kami pun sepakat mengikuti program layanan pendidikan ini. Bernaung di bawah rumah belajar yang sebenarnya tak layak disebut rumah ini. Tapi, apapun dan bagaimanapun bentuknya, transfer ilmu pengetahuan harus tetap dijalankan.
“Assalammualaikum!” sapa Ibu Tantri, sembari membuka pintu kayu rapuh yang sudah digerogoti rayap.
“Walaikumsalam!” kami menjawabnya serentak dengan suara yang sedikit bergetar.
“Kalian kedinginan?” tanya beliau penuh kasih.
“Kami tidak kedinginan, Bu. Dingin itu sudah menjadi sahabat kami sejak kami turun menjadi gelandangan pinggir pantai,” jelas Haikal sang ketua kelas.
“Lantas, kenapa kalian mesti menangis?” lanjut Bu Tantri lagi, masih dengan suara lembut penuh sayang. Kami tak menjawab, hanya tundukkan serentak kepala kami yang mengisyaratkan sesuatu. Isyarat kebodohan tentunya, karena mana mungkin Ibu Tantri dapat melihat tingkah polah kami dalam kegelapan ruangan.
“Heeii...ada apa anak-anakku?” sumbang nada kecemasan mulai menggerogoti pita suara beliau. Kami pun langsung berlari ke arah beliau, memeluk, dan terus memeluk dengan bulir air mata yang masih menganak sungai di pelupuk mata.
“Ibu,ini!” kata Silvi, bocah paling kecil diantara kami sambil meletakkan buku basah di tangan Ibu Tantri.
“Ealah...bukunya basah ketrocohan ya? Sini-sini, semua buku dikumpulkan jadi satu dan kita panggang bersama-sama,” simpul senyum kecil tersungging di sudut bibir beliau.
“Kita,bakal berpesta panggang buku, begitu Bu?” lagi-lagi tanya Silvi dengan lugunya.
“Hahaha...,” kami pun berhasil tertawa ngakak oleh celotehan Silvi yang mencerminkan khas keluguan anak kecil.
“Ngisyu,” celetuk Ibu Tantri disela tawa renyahnya,dan kami pun terperanjat kaget mendengar kata-kata aneh itu keluar dari mulut beliau.
“Bu...!!” ucap kami serentak penuh tanda tanya besar.
“Ouwh...kalian baru dengar ya? Kalo dalam bahasa candaan Jawa, “ Ngisyu” itu kependekkan dari “ mari nangis ngguya-ngguyu.”
“...” kami bengong tak mengerti.
“Artinya, kalo diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia adalah “ setelah nangis tertawa-tawa”, begitu anak-anak.”
“Ouwh...!!” lanjut kami akhirnya sambil geleng-geleng kepala.
“Sudah-sudah, kalian pergi bobok sana. Sisanya biar ibu keringkan sendiri. Hari sudah larut ini,” perintah si Ibu guru, dan kami pun mematuhinya. Kilatan bara api, memantul dari wajah ayu beliau. Wajah penuh keteduhan dan aura hangat keibuan. Sungguh, beliau adalah anugerah Tuhan terindah yang dilimpahkan pada kami.
“Tuhan, selalu jagakan beliau buat kami. Agar ketika esok, bola mata ini masih bersinar lagi, beliau adalah orang pertama yang menyedapkan pandangan kami. Amin..,”kami mengakhiri malam itu dengan panjatan doa khidmat buat Ibu Tantri.
***
Masih seperti rutinitas pagi-pagi biasanya. Suara kokok ayam yang pecah diantara deburan ombak pantai. Selimut embun tebal yang menutupi dedaunan dan suara lolongan para nelayan yang datang dari aktivitasnya mencari ikan.
Tampak dari kejauhan, si Ibu guru sedang menata ruang belajar yang akan kami gunakan untuk menimba ilmu. Guratan garis wajahnya tak pernah luntur akan semangat membara memberikan pendidikan. Lagi-lagi, kami tersenyum bangga memiliki beliau.
“Anak-anak sudah saatnya kalian memasuki kelas,” teriak beliau sambil berjalan menghampiri kami.
“Sebentar, Bu! Nunggu matahari terbit dulu,” balas kami serentak.
“Baiklah,” jawab beliau sembari meletakkan pantatnya diantara pasir pantai.
Satu ciri khas pantai yang haram untuk dilewatkan, yaitu sunrise dan sunset. Semua orang pasti punya cerita sendiri ketika mereka menikmati pesona keindahan alam Tuhan yang satu ini. Begitu halnya dengan kami. Setoples gula-gula permen manis menemani kami.
“Ini, Bu!” Silvi menyodorkan setoples gula-gula permen manis pada beliau. Beliau memasukkan jari-jari tangannya ke dalam toples, dan meraba. Mencoba menerjemahkan.
“Aarrgghh...,” tiba-tiba Ibu Tantri berteriak histeris sambil menutup wajah dengan kedua tangannya. Sontak kami terkejut dibuatnya. Ketidaktenangan dan ketakutan yang cukup berarti, menghinggapi jiwa beliau. Kami semakin takut. Apa yang sebenarnya terjadi?
“Ibu kenapa? Ibu takut pada permen?” Silvi bertanya dengan polosnya.
“Ibu kira tadi ini biji bola mata, jadi Ibu takut,”jawab beliau denagn suara merendah.
“Ibu tunanetra?”tanya Haikal mencoba menebak dan langsung diiyakan oleh beliau.
Bagai sambaran petir menghantam kami. Sebuah kenyataan yang tak pernah terdeteksi oleh kami. Sosok yang terlihat sempurna, ternyata menyimpan kedukaan yang mengelabuhi kami.
“Kalian pasti terkejut, bukan? Bagaimana bisa Ibu menjalani ini semua? Ini, semua bermula ketika Ibu menginjak usia 12 tahun. Sebuah virus ganas menyerang retina bola mata Ibu. Perlahan tapi pasti, sedikit demi sedikit virus itu mulai merusak syaraf-syaraf penting bola mata Ibu. Dan pada akhirnya, vonis kebutaan yang harus Ibu terima. Saat itu dunia terasa kiamat buat Ibu. Merah, kuning, birunya dunia tiba-tiba berubah jadi hitam semua,” Ibu berhenti sejenak dan menarik napas panjang. Sedangkan kami, dengan seksama terus menyimak cerita beliau.
“Tapi, dibalik itu semua ada support dari seorang guru pada Ibu agar Ibu tetap melanjutkan hidup ini. Melanjutkan hidup layaknya orang normal. Ibu pun lambat laun termotivasi dan mulai terbiasa dengan keadaan ini. Kebutaan bukan halangan untuk meraih hidup, mimpi, dan cita-cita. Ibu terus berjuang. Perjuangan terbesar terasa saat Ibu memutuskan untuk tetap bersekolah pada lingkup anak-anak normal. Sampai pada akhirnya, Ibu dapat meraih gelar sarjana dan mengikuti program layanan pendidikan bagi daerah terpencil ini,” begitu cerita haru yang penuh motivasi keluar dari mulut beliau.
“Plok...plok..plok..!!” kami bertepuk tangan untuk beliau, lalu memeluk beliau.
“Saya akan bersungguh-sungguh. Bu!”
“Saya juga.”
“Saya juga.”
Semua bergulat dengan perasaan masing-masing akan cerita Ibu Guru. Haru, kagum, bangga bercampur jadi satu.
“Ayo, Bu!” kami menarik beliau ke arah pancaran sinar matahari. Kami berdiri berjejer, memejamkan mata, merentangkan tangan, dan merasakan setiap jengkal anugerah Tuhan yang tak pernah putus buat makhluknya.
“Bu...!!” panggil kami dan beliau pun menoleh.
“Satu, dua, tiga...!!” kami memasukkan sebutir permen ke dalam mulut beliau dan berlari.
“Anak-anak...!!” lagi-lagi Ibu berteriak histeris melihat ulah jahil kami.
***
Kami salut dan kagum pada perjuangan Ibu Tantri untuk memajukan dunia pendidikan. Dalam keterbatasan yang dimiliki oleh beliau, beliau masih bisa bekerja secara sempurna. Bahkan, beliau mampu mengenali kami satu per satu. Walaupun, tanpa pernah bisa melihat wajah kami secara langsung.
“Anak-anak hari ini tanggal berapa?”
“Tanggal 20 Mei, Bu!” jawab kami serentak. Lalu, Ibu Tantri diam sejenak.
“Saya tahu, Bu! Hari ini Hari Kebangkitan Nasional, kan?” celetuk Risma, satu bocah diantara kami.
“Selain itu, hari ini adalah hari terakhir kami bersam Ibu,” Haikal menimpali lalu tertunduk lemas.
Benar apa yang dikatakan oleh Haikal. Hari ini dan pada detik ini juga, tepat sudah satu tahun Ibu Tantri mengajar kami secara sukarela. Satu tahun, adalah masa bhakti pengajaran seorang guru dalam program layanan pendidikan bagi daerah terpencil, seperti kami. Program ini adalah bentuk realisasi dari UU No.20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 32 ayat 2 tentang pendidikan layanan khusus yang diberikan kepada anak didik di daerah terpencil atau terbelakang. Setiap tahunnya, kami memang mendapat jatah pengajar dari guru-guru yang berbeda. Dan, tahun ini merupakan tahun paling istimewa buat kami.
“Ada hitam ada putih. Ada suka, begitu pula ada duka. Ada pertemuan tentunya ada perpisahan. Tapi, ini hanya perpisahan sesaat anak-anak. Suatu saat, dalam kesempatan yang berbeda, pasti kita akan dipertemukan lagi,” Ibu Tantri mencoba menguatkan kami.
“Kami,pasti akan selalu merindukan Ibu. Semua tentang Ibu telah berhasil tertanam dalam hati kami. Ibu laksana lentera yang menerangi sisi gelap hidup kami,” ucap kami sambil menatap lekat beliau.
“Terima kasih anak-anak. Ibu cukupkan pelajaran kita hari ini. Semoga pelajaran terakhir ini bermanfaat buat kalian. Silahkan kalian istirahat dulu! Biar Ibu packing buat persiapan kembali ke kota.
Kami berhambur keluar ruangan. Merencanakan sesuatu akhir yang berkesan buat Ibu Guru kami tercinta. Namun sebelum rencana itu berhasil dilakukan, suara kentongan pertanda pasang air pantai membahana menyapa telinga. Kami panik. Pasang air tertinggi telah terjadi. Kami berlari berhambur mencari tempat yang paling aman. Dalam derap langkah kaki untuk kesekian kalinya, Haikal mengomando kami untuk berhenti berlari. Berputar arah, kembali ke rumah belajar menjemput Ibu Tantri. Kami menyetujui usul Haikal. Kami tak peduli lagi suara jeritan orang yang meneriaki kami untuk segera menjauh dari gulungan ombak beringas. Kami berlari dan terus berlari hingga tangan kami berhasil menggandeng tangan Ibu Tantri untuk segera pergi meninggalkan rumah belajar. Perjuangan serasa meruncing saat kami berlari bersama, berkejaran dengan gulungan ombak kejam yang sama sekali tak mau mengalah. Perjuangan yang terbingkai indah karena patrian kebersamaan.
“Kita sudah aman, Bu!”kata Haikal.
“Teman-teman yang lain lengkap, Kal?”tanya Ibu Tantri disela hela napas yang masih terengah-engah. Haikal pun menghitung satu per satu. Dan.....
“Silvi, Bu!”Haikal panik saat mendapati bocah paling kecil diantara kami tidak ada dalam gerombolan.
“Silvi???”Ibu menangis, dan kami juga turut menangis dalam kepanikan yang sangat.
“Sudah-sudah, hapus air mata ini. Kita harus tenang, agar pikiran kita tetap jernih dan tidak mikir yang macem-macem.Setelah keadaan ini mereda, kita langsung cari Silvi,” Ibu Tantri meraba wajah kami, dan mengelap air mata kami satu per satu.
Kami berpencar ke semua tempat yang biasa dikunjungi oleh Silvi. Tapi hasilnya nihil. Silvi masih belum ditemukan. Lagi-lagi, ketakutan menjalar dalam darah kami. Keputusasaan berperang dengan ketakutan melahirkan pikiran negatif yang antah berantah kacaunya. Kami, terduduk lemas. Air mata yang stoknya tak pernah habis itu meleleh begitu saja.
“Ibu Guru, kakak-kakak!” lengkingan nyaring khas suara anak kecil menyembul dari balik bukit.
“Silvi!” pekik kami.
“Sini!” ajaknya sambil melambaikan tangan. Kaki kami berjalan ke arahnya.
“Kamu disini dari tadi?” tanya kami penasaran, dan hanya dijawab dengan anggukan kepala. Dan dengan asiknya, dia menggandeng tangan Ibu Tantri ngeloyor pergi. Mau gak mau kami mengekor di belakangnya.
“Ini buat Ibu!” lanjut Silvi lagi. Ibu Tantri mencoba meraba sesuatu yang ingin ditunjukkan oleh Silvi. Dalam garis telapak tangan, beliau mencoba merasakan sesuatu.
“G, U, R, U, K, U. GURUKU,”teriak Ibu Tantri,setelah berhasil meraba benda kasar yang terbuat dari ranting kayu pohon kelapa yang tenyata bertuliskan “Guruku” hasil karya si bocah cilik,Silvi. Kami takjub akan kenangan terindah Silvi yang diberikan kepada Ibu Tantri. Terkesan sederhana, tapi bermakna dalam.
Kami berpelukan dan bersorak senang akhirnya. Perpisahan manis manalagi diakhiri dengan iringan lagu Himne Guru mengantar kepergiaan Sang Maestro Guru Pujaan, Ibu Tantri. Meskipun roda mobil terus melaju membawa Ibu Tantri pergi, kami tak henti meneriakkan lagu perjuangan sang guru itu.
Terpujilah wahai engkau, Ibu Bapak Guru
Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku
Semau bhaktimu akan ku ukir di dalam hatiku
Sebagai prasasti terima kasihku
Tuk pengabdianmu
Engkau sebagai pelita dalam kegelapan
Engkau laksana embun penyejuk
Dalam kehausan
Engkau patriot pahlawan bangsa
Tanpa tanda jasa
“Terima kasih untuk semuanya, Bu.”
“Kobaran bara api semangat Ibu, akan kami lanjutkan. Kami akan memajukan Indonesia lewat pendidikan. Arang yang Ibu tinggalkan tak akan pernah berhenti berpendar.. Ibu Guru terima kasih,” kami berteriak lantang sambil melambaikan tangan untuk beliau. Lewat celah kaca mobil, Ibu menyunggingkan simpul senyum kecil disertai balasan tangan pula.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar