Selasa, 22 Februari 2011

Pahit itu Motivasiku

“Dengan terjualnya tanah ini,terjuallah pula ikatan persaudaraan diantara kita.”Kita,bukan sodara lagi.Braakk...!!”kata-kata itu,pukulan meja itu melekat kuat dalam ingatanku.Disertai bulir mutiara bening yang keluar dari kelopak mata emakku.Yach,emakku menangis.Menangisi keegoisan sodara-sodaraku,Pak dhe,Bu dhe,Tante,om dan sepupu-sepupuku yang ngejudge keputusan emakku untuk menguliahkan aku menggunakan uang hasil penjualan rumah samatanah yang menjadi tempat tinggalku selama ini.
“Apa salah emakku??”
“Apa,emakku bersalah bertekad menguliahkan aku?”
“Apa,emak bersalah mengerahkan semua upaya untuk masa depanku??”termasuk sampe rela menjual tanah dan rumah demi aku??”
“Bukankah para sodaraku itu seharusnya bangga,ada satu diantara sodaranya yang kere mampu untuk mengenyam pendidikan sarjana??Atau paling tidak,kenekatan keluargaku ini bisa dijadikan motivasi bagi mereka kaum borjuis untuk menggunakan uang demi sesautu yang berguna bukan uang sebagai penumpuk harta kekayaan yang tidak abadi??
“Haasshh,tapi itulah kenyataan keluargaku.lebih tepatnya keluarga dari mertua emak.
Sungguh aku tidak dapat mengikis “bitter moment”itu. Peristiwa lima tahun yang lalu.Peristiwa yang membuat hidupku salama kuliah bagai kucing dalam karung.Tidak bebas dan terbelenggu.Hingga,saat kuliah pun aku harus menjaga jarak antara emak,bapak,dan Bella adek tiriku.aku jarang pulang ke rumah.Toh,kalau pun aku pulang ke rumah,aku tidak pernah menampakkan batang hidungku pada sodara-sodaraku yang gila harta itu.Aku selalu melewati ladang kecil penuh semak belukar dan pohon jati untuk sampe ke rumahku.Traaggiissss.....!!
Lagi-lagi aku menetaskan air mata acap kali mengingat peristiwa itu.Sesak,berontak,emosi langsung naik ke ubun-ubun kepala.Tap,sejenak semua itu buyar ketika ndengar suara deru knalpot motor terbaru anak uda sekarang.Jelas,itu adiku si Bella.Adik tiri,yangs selalu membuatku tidak bisa untuk tidak tertawa.Adik tiri,yang selalu mebuatku beremangat untuk mencapai mas depan.Mungkin  karena pembawaan karakternya yang ceplas-ceplos dan terbuka.Jadi,anak itu seakan nggak punya beban saja.
“Nglamun lagi mbak??”katanya saat menemukanku dengan kebiasaanku melototi layar laptop.
“Nggak,lagi ngecek kerjaan saja.Besok ada yang mau melahirkan dengan operasi sesar ,”balasku sambil cepat-cepat menutup komputer lipat itu.
“Ough...!!”Ini kwitansi kuliahku.Nggak.bohong kan??”kata adikku BeLLa sambil menyodorkan kuitansi kuliahnya dan aku membalasnya dengan simpul senyum kecil.
“Iya,percaya!!”jawabku seraya beranjak bediri mau ambil minum.
Memang,beginilah sekarang.Setelah,aku menyandang status jadi ibu bidan,semua urusan keluargaku ada di tanganku.Mulai dari urusan kuliah adikku sampe bantu-bantu isi dapur emak dan bapak.
Fenomena yang berbeda jelas.Adikku kuliah dengan segala fasilitas yang ada.Mulai dari sepeda motor,laptop,sampai rekening tabungan.Sedangkan aku kuliah dengan segala keterbatasan yang ada.
“Aarrgghh....pikiran itu lagi yang datang.
“Mbak kapan nikahnya ? Emak sudah pengen nimang cucu tuch??”.celetuk adikku dengan pertanyaanya yang menggelitik.
“Gampang.Kamu lulus kuliah aja dilu??” balasku gamang.
“Waahhh...kalo nungguin aku lulus kuliah mabka ntar gag nikah-nikah lho??Aku kan pengennya kuliah sampe S2 “.kata adikku dengan semangatnya.
“Mbak,tungguin dech11”jelas jawabanku itu terdengar gag yakin.
“Masyaallah,nikah!!”Aku hampir melupakan itu.Lupa,karena kisah percintaanku juga gag bisa dibilang mulus.Aku menjalin asmara dengan orang yang berbeda keyakinan denganku.Tapi,bukankah memang ini yang dinamakan cinta???Cinta itu universal.
Nggak,berhenti sampe situ aja.Ketidakmulusan hubungan itu juga diperkeruh dengan keberadaan dia yang jauh denganku.Dia,bekerja di Batam.Masih ingat betul aku,dia meminjam uang 10 juta padaku untuk tambahan usahanya di Batam.
Antara hutang dan cinta yang kupertaruhakan sekarang.Aku menunggu dia.Itulah alasan mengapa aku belum menikah sampe sampe saat inio.Mas bodohlah dengan umur.Aku berfilosofi “Hutang kembali,cinta pun ikut kembali.”
Tapi,jangan dikira cintaku sebesar hutangku??
Hutang itu sebagai jaminan dai akan kembali padaku.
“Haasshh...lagi-lagi,pikiran kegalauaan hatiku muncul ke permukaan.
“Mbak,aku permisi pulang dulu.Tadi,emak nitip suruh beliin gado-gado.Assalamualikum “,adikku berpamitan dan mencium tanganku sambil menyelipkan secarik kertas pada telapak tangaku.
“Cinta itu kadang membuat kita iri dan benci.Sekali kita mencintai seseorang tapi itu bukan yang terbaik buat kita.
“Aku rela dan insyaallah ikhlas memberikan oran yang berarti dalam hidupku demi sampeyan mbak.”
Aku ingin emak,bapak,dan mbak bahagia.Karena bahagia itu adalah keikhlasan.
Aku terpaku membaca coretan pena adikku,BeLLa.
Mataku berkaca-kaca dan aliran deras air mata tak dapat kubendung lagi.Kudekap erat tulisan itu dalam genggaman tanganku dengan satu tekad “Aku Harus Bahagia”.Karena aku tidak mau menyesal.Penyesalan hari esok itu lebih pahit daripada perjuangan hari ini.Karena hal yang paling jauh itu adalah masa lalu,sampe kapan pun kita gag akan bisa kembali atau sampe ke masa lalu.Jadi,aku harus berjuang untuk mas depan yang lebih baik.Amin...
©©©

Tidak ada komentar:

Posting Komentar