Selasa, 04 September 2012

Si Pemilik Senyum


Si Pemilik Senyum
Masyaallah, , , gue nangis !!! Hati gue tersayat sakit tatkala gue teringat setiap simpul senyum kecil yang selalu tersungging di sudut bibirnya. Senyuman yang tak pernah padam berkobar, senyuman bak bunga mekar di musim semi, senyuman manis yang selalu ditujukan dya buat gue. Senyuman itu yang selalu membuat gue nyaman, tenang, senang berada di sisinya. Dan gue mencintai dya. Mencintai dya tanpa alasan dan mencintai dya apa adanya. Karena cinta adalah kerelaan mencintai seseorang apa adanya. Dimulai dari sinilah bajingan gue.Gue yang sudah punya pacar, tapi harus mencintai dya. Dya yang selalu tersenyum dan membuat gue tersenyum. Gue mencintai dua hati yang benar-benar juga memberikan hati mereka buat gue.Begitu juga gue, gue juga memberikan sepenuh hati gue buat mereka berdua. Bajingan kan gue ? ??
            Kenapa saat ini gue sampe nangis, sampe berada pada titik terhina gue, alasannya karena si pemilik senyum itu. Ya, karena si pemilik senyum itu. Senyum itu adalah sandiwara penutup luka hatinya, ternyata dya selalu meneteskan air mata setiap kali dya selese menghipnotis gue dengan senyumannya. Ternyata dya kesakitan mencintai gue. Tapi, dya tak pernah berkata. Dya berhasil mencintai gue dengan caranya. Dya selalu ada buat gue, nungguin gue, berkorban apapun demi gue, mencintai gue sampe detik ini. Tapi, gue yang jahat. Gue hanya mencintai dya dan menduakan cintanya. Serta tak memberi penjelasan atas cintanya.
            Pada akhirnya gue tetap milih bersama pacar gue dan melepaskan cinta si pemilik senyum. Gue nglepasin dya bukan karena gue gag cinta lagi sama dya, tapi gue nglepasin dya karena gue tak ingin dya terus-terusan kesakitan mencintai gue. Gue tak ingin senyum itu berubah jadi air mata yang terus menganak sungai di sudut matanya. Walopun gue tahu sekarang si pemilik senyum itu terus menangis. Menangisi seorang laki-laki bajingan , yaitu GUE.
            “Maaphin gue Ra!!!”
            “Gue harus lakuin ini semua. Karena gue tak ingin elu sakit.”
Begitu akhirnya gue menjawab lalu menutup diary warna ijo muda milik dya yang tak sengaja gue baca.         

Tidak ada komentar:

Posting Komentar