
Kesalahan
itu cukup terjadi sekali saja. Jangan sampai sebuah kesalahan itu akan terulang
kembali. Apalagi terulang dengan kesalahan yang sama. Bukan bodoh lagi namanya,
tapi sudah semacam bunuh diri. Menghujamkan pisau tajam di urat nadi. Aku
bergidik ngeri. Takut-takut membayangkan kesalahan yang sama itu bakal terulang
kembali. Lalu setelah lama berkutat dengan parnonya istilah kesalahan, aku
mulai menggerakkan tanganku lagi memilih baju couple ala anak ABG masa kini. Mudah sekali menebaknya, tentu baju couple itu untuk aku dan pacarku.
Lumayan agak sedikit buat mata liyer dan kepala pusing. Dari sekian banyak baju
couple yang terpajang rapi, tak jua
kunjung terdeteksi yang pas di hati. Hingga akhirnya keputusasaanlah yang harus
tersaji.
“Maunya ngasih yang istimewa di hari
jadi dia tapi malah jadi bingung begini?” aku manyun kesal sambil menyandarkan
punggung di tembok warna biru muda. Tentu pula wajah sudah tertunduk lesu dan
keringat mulai deras mengucur keluar karena kepanasan. Tapi agaknya aura warna
biru muda tembok telah memancarkan cahaya positif ketenangannya pada pelanggan
karena disela keputusasaanku disitu pula aku menemukan satu baju couple yang akhirnya berhasil mencuri
hatiku. Ya, hanya satu baju itu.
“Kena dech!!” aku bersorak girang
meraih baju yang dipajang itu. Tapi bersamaan dengan itu pula ada sebuah tangan
yang juga ikut meraih baju pilihanku. Aku sontak langsung menoleh ke arahnya.
“Kania!!!” seru orang itu kaget ke
arahku.
“Ardo!!!” aku pun tak kalah kagetnya
bersorak di hadapan orang itu yang ternyata aku juga mengenalnya. Nggak tahu
kenapa aku jadi girang setengah mati dibuatnya. Sampai-sampai tidak sengaja aku
sudah melingkarkan tanganku di pinggangnya. Memeluknya erat dan rasa-rasanya
aku tak ingin melepaskannya. Mungkin kalau aku punya alat seperti Doraemon aku
akan menghentikan putaran waktu ini dan menguncinya. Sumpah aku bahagia sekali
berjumpa dengannya.
“Ehhh....ehhh.....sorry!!!” kataku
gagap saking girangnya.
“Tak masalah.” Masih sama. Ardo
tetap menjadi sosok laki-laki paling dingin layaknya gumpalan es batu di kutub.
Lalu aku dan Ardo saling menatap nanar. Menabrakkan pandangan mata hampa penuh
kerinduan.
“Buat kamu saja,” suaraku yang
mengawali percakapan ringan antara aku dan Ardo.
“Buat kita berdua,” tetap dengan
gaya khasnya yang dingin dan cuek Ardo mengambil baju itu, membayarnya lalu
membungkusnya satu untukku dan satu untuk dia. Seperti tertarik medan magnet
cinta, aku hanya bisa mengikuti setiap alur peraganya.
“Lama nggak jumpa. Kemana saja?”
tanya Ardo padaku.
“Seperti biasa. Kuliah dan maen
bareng sama teman-teman,”jawabku sambil terus mengawasi setiap mimik yang
diciptakan olehnya.
“Apa kabar kampus? Lama nggak
menjenguknya,” diiringi simpul senyum kecil yang mengembang di sudut bibirnya.
“Kapan berubah? Pasti penyakit malas
kuliahnya belum sembuh juga ini?” dengan nada mengejek ku jawab pertanyaan
Ardo.
“Masih nggak sanggup membiarkan hati
ini menganga sakit,” aku tahu maksud kata-kata Ardo barusan. Jelas ini
menyinggung jalinan cintaku dengan Bian pacarku.
“Apaan sich? Ngejekin ini......,”
aku hanya mencibir ke arahnya. Sedangkan Ardo malah tertawa lepas dengan
tatapan mata tajam yang menyerang bola mataku.
“Chochocino,” celetuk Ardo
tiba-tiba. Seakan tahu aku langsung tertawa mendengarnya.
“Mint,” balasku. Dan lagi-lagi tawa
renyahlah yang meledak dari mulut kami berdua.
Memory cinta itu ternyata masih rapi
tersimpan di otakku dan Ardo. Chochocino adalah santapan minuman hangat
favoritku dan Mint adalah rasa hisapan rokok andalan Ardo. Sebuah kebiasaan
hidup yang menjadi ciri khas ala Ardo dan aku. Dari situ pula berawal sebuah
cinta yang salah. Chochocino dan Mint melahirkan sebuah hakekat cinta yang
seharusnya tidak tercipta. Aku dan Ardo yang sama-sama sudah punya pacar harus
mengikatkan cinta yang salah diatas putihnya cinta pacar kami masing-masing.
Aku dan Ardo saling mencintai tapi sayangnya cinta itu datang disaat yang tidak
tepat untukku dan Ardo.
“Bengong lagi. Pergi saja yukkk,”
ajak Ardo.
“Semacam kencan lagi ini?” tanyaku.
“Bukan semacam lagi tapi kencan
beneran,” Ardo menekankan.
“Siapa takut?” aku bersorak nakal.
Ardo langsung tertawa mendengar jawabanku. Akhirnya aku dan Ardo memutuskan
menghabiskan waktu sore itu untuk kencan bersama. Sore yang jingga seakan
memberi kesan bahwa cinta itu tidak ada yang abu-abu dan tidak nyata, melainkan
cinta itu adalah jingga yang nyata dan terang.
Aku dan Ardo memutar kembali cerita
yang dulu pernah kami lewati bersama. Memainkan peran di dalamnya. Nongkrong di
pinggir jalan sambil menikmati secangkir chochocino hangat dengan toping chesse di atasnya dan Ardo dengan
seputung rokok rasa mint yang asapnya segera menyatu dengan udara lembab sore
itu.
“Kapan terakhir kali kita seperti
ini?” tanya Ardo dengan gaya memainkan asap rokok yang keluar melalui lubang
mulutnya.
“Hari terakhir kita Kuliah Kerja
Nyata,” balasku sambil menyeruput chochocino hangat. Lalu aku dan Ardo pun
sama-sama menyunggingkan senyum. Cintaku dan Ardo bersemi disaat tatapan mata
kami pertama kali bertabrakkan di lokasi Kuliah Kerja Nyata.
“Dan hari itu pula hari terakhir
cintaku buat kamu. Karena aku tahu setelah Kuliah Kerja Nyata itu berakhir maka
aku tidak akan lagi dapat memandang wajah ayumu, mendengar merdu suaramu, dan
tertawa bareng sama kamu. Jelas juga kamu akan kembali bersama dengan pacarmu,”
terang Ardo. Aku hanya mendengarkan kata-kata Ardo tanpa meresponnya sedikit
pun. Malah aku aktif memainkan tanganku mengaduk-aduk chochocino minumanku.
“Tapi walopun sebentar cinta itu
indah,” lanjut Ardo menatap langit sambil sesekali memainkan rokok di
tangannya.
“Aku tidak akan melupakannya,” aku
menimpali kata-kata Ardo akhirnya.
“Jadi kita itu predikatnya mantan
selingkuhan sekarang?” ledek Ardo melirik ke arahku. Aku mengangkat pundak
tanda mengiyakan yang penuh keraguan.
“Lucu sekali. Mantan Selingkuhan.
Hahahha.....,” Aku dan Ardo malah tertawa lepas.
“Dasar Chochocino pahit,” lagi-lagi
Ardo menyerangku dengan ledekannya.
“Heemmttt, Dasar Mint....Minta
ditabokin. Hahahha....,” tawa dan kebersamaan itu yang akan selalu aku
rindukan.
Serentetan tawa yang keluar akhirnya
berhenti pada sebuah titik keheningan. Tanpa disadari aku dan Ardo saling tidak
mau melepaskan tatapan mata yang terus berperang. Hingga aku dan Ardo tersadar
bahwa kami sudah berada pada radius yang teramat dekat. Daging itu sudah saling
bersentuhan. Gelora asmara itu bergulir bak bola api panas di hatiku dan Ardo.
Aku dan Ardo kembali berada pada putaran cinta yang salah.
“Cukup,” aku bergerak menjauh dari
posisi dimana Ardo duduk. Nggak tahu sejak kapan airmata itu mulai meleleh
membasahi pipiku. Aku menangis. Kebodohan dan cinta yang salah itu bergulir
kembali. Aku tidak mungkin melakukan dan menikmatinya lagi.
Bian.
Tiba-tiba seluruh memory otakku
dipenuhi oleh bayang-bayang Bian. Mana mungkin aku akan mengkhianati cinta Bian
untuk yang kedua kalinya? Mana mungkin aku akan mengkhianati tulus cinta dan
pengorbanan Bian untukku selama dua tahun ini? Dan parahnya lagi, aku sejenak
melupakan bahwa hari ini adalah hari jadi Bian yang ke-23 tahun. Aku semakin
menangis menjadi. Menyesali kebodohan cinta dan pengkhianatan cinta yang
kembali terjadi. Ardo tampak bingung menghadapiku. Mungkin Ardo juga merasa
bersalah terhadapku?
“Do!!!”
bisikku lirih.
“Bukan
cinta yang salah Kania, tapi hanya waktu yang kurang tepat yang menghinggapi
kita. Maafkan aku Kania,” lalu Ardo memelukku erat. Pelukan terakhir yang akan
aku terima dari Ardo. Karena setelah ini aku akan benar-benar mengubur Ardo
dalam hatiku.
“Mungkin
ini pertemuan terakhir kita Do. Karena aku sudah nggak mau lagi bertemu
denganmu. Nggak akan pernah mau. Tahu alasannya kenapa kan?” kataku sambil
mencoba berdiri tegak diatas kakiku sendiri tanpa bantuan sandaran tubuh Ardo
lagi.
“Karena
cinta itu akan terpupuk subur setiap kali kita bertemu. Dan cinta itu yang
melukai kita,” dengan pasti Ardo menanggapi perkataanku.
“Deal. Selamat Tinggal. Jangan sampai
kita bertemu lagi,” aku berlari sekencangnya meninggalkan Ardo yang masih
berdiri mematung. Ternyata airmata itu masih terus deras mengalir keluar. Aku
tak peduli. Sekarang yang ingin aku lakukan hanya berlari semakin kencang,
kencang, dan kencang pergi jauh dari Ardo dan berharap tidak akan pernah
menemukan silsilah dan anak peranakkan dari Chochocino dan Mint. Termasuk aku
juga tidak ingin menjumpai bungkus dari Chochocino dan Mint. Aku tidak ingin
lagi menemukan bayangan Ardo. Biarlah yang penumbra lama kelamaan menjadi umbra
yang semakin jelas tak terlihat dan hilang.
Hingga
kakiku yang terus berlari ini berhenti tepat di hadapan Bian. Masih dengan
napas ngos-ngosan aku berjalan ke arah Bian. Disana aku melihat segala rupa
pernak-pernik candle light dinner
yang dipersiapkan Bian di hari ulang tahunnya untukku. Tanpa berpikir panjang
aku langsung memeluk Bian erat menangis lagi dipelukkannya sambil membisikkan
ucapan panjang umur untuknya.
“Bian,,,,Happy Birthday yah!!! Wish you all the best,” kataku lalu Bian
mencium keningku.
“Iya
terima kasih, sayang. Sampe ngos-ngosan begini buat ngerayain pesta ulang tahun
ini,” lanjut Bian.
“Karena
aku tak mau melewatkan acara ini. Jadi aku berusaha mati-matian agar tidak
telat datang kesini,”jelasku.
“I Love You,” untaian kata cinta keluar
dari mulut Bian. Aku hanya nanar menatap ke arahnya.
“Ini,”
tak lama berselang Bian menyodorkan chochocino hangat untukku dan tepat saat
itu pula Bian juga mengeluarkan rokok Mint yang langsung bertengger manis di
mulutnya.
“Sakit,”
rintihku pilu.
Mungkin
karena yang namanya bungkus itu ringan tak berisi jadi dengan mudah dia akan
tertiup angin dan terbang melayang di angkasa raya. Kalau pun cinta Chochocino
dan Mint sekarang hanya tinggal mantan biarlah bungkus cinta mereka yang
terbang tinggi di angkas sana.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar